Madzhab Rukyah dan Hisab di Ramadhan 1438 H

Oleh : agus salim thoyib

 

Dalam hitungan beberapa hari ke depan akan tiba bulan Ramadhan. Mayoritas Umat Islam kini tengah mempersiapkan penyambutan bulan yang penuh berkah dan kemuliaan ini. Bahkan, dibeberapa daerah sudah banyak yang menghelat prosesi penyambutan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan seperti pawai obor, nyekar ke makam leluhur, pemasangan spanduk selamat ramadhan, dan lain sebagainya.

Keramaian yang kerap menyertai suasana menyambut bulan Ramadhan dari tahun ke tahun – khususnya umat Islam Indonesia – adalah ketika menyoal awal bulan Ramadhan dan Syawal. Kenapa ? karena alih-alih umat Islam sudah tahu tentang akan masuknya bulan Ramadhan berdasarkan kalender (baca : hisab). Masyarakat harus menunggu sidang itsbat Kementeriam Agama RI yang penentuannya tidak sekedar mendiscours bagaimana hisab menentukan awal bulan, tapi lebih dari itu yakni bagaimana rukyatul hilal bil fi’li menghasilkan “field research”nya (melihat hilal atau sebaliknya/istikmal). 

Bagi pengikut madzhab hisab (baca : wujudul hilal) tidak menjadi masalah. Artinya pengikut madzhab ini sudah bisa memutuskan bahwa kapan awal bulan Ramadhan akan dimulai sesuai dengan data hisab yang ada berapapun tinggi hilalnya. Tapi bagi pengikut madzhab Rukyah, di mana data hisab harus diuji dilapangan melalui pengamatan langsung (Rukyatul bil Fi’li) akan menunggu-nunggu hasil rukyah yang di sidangkan Kementerian Agama RI pun kondisi ini belum melihat aspek batas minimal tinggi dan umur hilal sebelum dirukyah (imkanurrukyah). Dalam konteks inilah yang kerap menyebabkan terjadinya perbedaan awal bulan (Ramadhan dan Syawal).

Sebagai upaya menyatukan awal bulan, Pemerintah dan ormas-ormas Islam secara umum – kecuali Muhamadiyah – sebenarnya sudah bersepakat untuk mengedepankan metode imkanurrukyah sebagai jalan tengah atas perbedaan metode pengambilan keputusan awal bulan. Sementara Muhammadiyah sebagai ormas mainstream pengusung hisab, bersikukuh pada wujudul hilal yang murni penghitungan (hisab) sebagai akhir keputusan awal bulan. 

Bagaimana dengan NU ? sepengetahuan saya, NU sebagai ormas mainstream pengusung madzhab rukyah pun sesungguhnnya tak jauh beda dengan Muhammadiyah. Dalam artian NU tetap mendasarkan keputusan akhir awal bulan khususnya Ramadhan, Syawal dan dzulhijjah lewat pengamatan hilal (rukyat). Hanya saja, yang membedakan, NU selain menggunakan metode rukyah juga menggunakan metode hisab. Bagi NU, Hisab sebagai sebagai hasil hitungan posisinya sebagai  data teoritis awal yang harus dibuktikan dengan pengamatan langsung di Lapangan. Dalam bahasa agamanya, reka-hitung pada hisab adalah upaya jelajah aqal (litta’aqul) sedangkan pelaksanaan rukyat lebih pada untuk memenuhi aspek ibadah (litta’abud) sesuai dengan landasan yuridis (dalil-dalil) madzhab rukyah yang selama ini dipegang. (tentang pijakan yuridis madzhab ru’yah, insya Allah akan saya ulas di bagian kedua)

Sampai di sini, jika menilik pada perbedaan metode pengambilan keputusan akhir atas awal bulan yang begitu prinsipil, maka terjadinya perbedaan penentuan awal bulan antar madzhab hisab dan madzhab rukyat pada saatnya akan terjadi. Bagaimana dengan Ramadhan 1438 H ?

Jika merujuk data hisab awal bulan Lajnah Falakiyah PBNU yang menunjukkan ketinggian hilal di 8 derajat 26 menit 15 detik dengan posisi hilal di atas ufuk maka bisa diprediksi awal bulan Ramadhan akan terjadi pada hari Sabtu, 27 Mei 2017. Namun demikian, sekalipun ketinggian hilal sudah di atas ufuk dan melampaui batas imkanurrukyah, bagi madzhab rukyah,  pelaksanaan rukyah harus tetap dilaksanakan untuk memenuhi aspek uji lapangan dan syariah (litta’abud). 

Sampai di sini, dengan melihat data Lajnah Falakiyah tersebut, kemungkinan besar awal bulan Ramadhan 1438 H tidak akan terjadi perbedaan. Dan umat Islam baik madzhab rukyah maupun hisab bisa melaksanakan puasa secara bersamaan. 

Wallahu a’lam bishshawab

 

 

 

 

Tulis tanggapan anda: