Makan Bersama

Salikin ketika mondok menempati bilik yang beranggotakan tujuh orang. Ketika itu semua anggota bilik berasal dari Kabupaten yang sama, hanya beda kecamatan. Tak seperti pondok modern sekarang, yang rata-rata bangunannya terlihat bagus dan bersih, bilik di zaman Salikin mondok masih terbuat ubin yang berwarna hitam, pintu terbuat dari triplek, bahkan dinding depan pun ada yang masih terbuat triplek. Ada lubang berbentuk segi empat dengan ukuran kecil, untuk keluar masuk udara agar tidak terlalu pengap. Di bilik berjajar lemari pakaian yang terbuat dari kayu murahan. Di dinding tembok kamar dibuat tempat menaruh kitab dan buku yang terbuat dari kayu lempeng. Lampu yang ada di kamar berupa lampu boghlam 5 atau 10 watt, sehingga suasana kamar kalau malam hari tidak begitu terang. Itulah kondisi bilik baru Salikin ketika mondok yang sangat sederhana.

Para santri, termasuk Salikin, yang menempati pondok, hanya dimintai uang syahriyyah tiap bulan hanya Rp.5.000,-. Jangan tanya  bentuk kamar mandi dan wc nya, yang jelas kalau mandi harus menimba dari sumur. Pompa air digunakan hanya untuk mengisi kolam wudhu dan kolam wc.

Untuk urusan makan, Salikin dan teman sebiliknya, patungan beras dan uang belanja harian.

Saat itu masaknya masih menggunakan bahan bakar kayu, dan sebagian ada yang menggunakan kompor minyak tanah. Untuk petugas memasak dijadwal untuk pagi dan sore hari. Jadwal makan ketika Salikin mondok hanya dua kali, yaitu pagi hari, jam 09 nan dan sore hari jam 5nan. Setiap tiga hari atau lebih sekali juga ada yang ditugasi untuk berbelanja ke pasar membeli lauk pauk dan bumbu dapur.

Jangan tanya enak atau tidak masakan yang dibuat oleh Salikin dan teman biliknya, karena yang jelas apa pun masakannnya bumbunya itu-itu saja. Asal perut sudah lapar, ternyata masakan hasil yang karya seadanya selalu habis dimakan.

Ketika makan, sudah menjadi tradisi, apabila nasi dan lauk sudah matang, maka semua ditaruh dipenampan. Salikin dan teman biliknya duduk berputar makan bareng-bareng. Tidak ada rasa jijik atau sungkan, semua menikmati makanan dengan lahap. Bahkan urusan minum pun satu gelas untuk semua orang.

Mungkin inilah salah satu sebab yang menjadi hubungan batin mengapa Salikin dan teman-temannya mondok tetap akrab walaupun sudah kembali ke rumah.