Makna Kemerdekaan Pada Lomba Tujuhbelasan

Bekasi, jagatngopi.com – Setiap manusia memiliki pemaknaan yang berbeda tentang kemerdekaan. Merdeka dari penindasan dan penjajahan pada masa kolonial merupakan makna denotatif bagi bangsa Indonesia. Namun secara konotatif, kemerdekaan tidak sembarang termaknai. Setiap jiwa pasti dan harus merdeka. Maka itu, kemerdekaan bersifat multitafsir. Intinya, merdeka dapat dirasakan setelah melewati rentetan perjuangan.

Seorang ibu misalnya, bisa jadi, ia menafsirkan dan dapat menikmati udara kemerdekaan ketika melihat dan merasakan kesuksesan buah hatinya di hari tua. Pun kesuksesan tidak bermakna tunggal, setiap orang berhak menafsirkan sesuai kebutuhan dan jangkauan kehidupannya. Seorang penyair juga akan merasakan kemerdekaan, barangkali, ketika ia sudah dapat mengejawantahkan kenyataan yang ada di hadapan mata ke dalam karya-karyanya. Siapa pun berhak merdeka dengan pemaknaannya masing-masing.

Puncak dari perjuangan adalah kemerdekaan itu sendiri. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin akan lahir perjuangan-perjuangan lain yang harus dilewati agar dapat merasakan kemerdekaan yang lebih bermakna. Dalam tradisi tasawwuf, seorang sufi akan benar-benar merasakan kenikmatan dari sebuah kemerdekaan ketika sudah bertajalli dengan Tuhannya, tentu setelah melewati proses perjalanan perjuangan, atau katakanlah pembersihan diri, guna menemukan kesucian yang sejati.

Ketika Tuhan mengatakan bahwa nikmat seorang hamba akan ditambah apabila memperbanyak pensyukuran atas segala sesuatu yang dimiliki juga bisa dimaknai sebagai kemerdekaan yang sudah semestinya didapat. Rasa bersyukur itu harus melalui proses perjuangan yang tidak sepele, setiap hamba diwajibkan untuk berikhtiar, berpencar di muka bumi untuk mencapai derajat kemerdekaan (takwa, red) di hadapan Tuhan.

Barangsiapa yang tidak mampu melewati proses, maka ia takkan merasakan kemerdekaan dalam dirinya, sementara Tuhan tidak memberikan perjuangan untuk dilalui oleh seorang hamba melebihi batas kemampuan yang dimiliki. Maka, siapa pun hamba yang menyerah dalam proses perjuangan, dapat dikategorikan sebagai hamba yang gagal memperoleh kadar kualitas (kemerdekaan) terbaik di hadapan Tuhan, terkecuali mereka yang memasrahkan segala sesuatunya setelah melalui proses panjang dari perjuangan yang harus dihadapi.

Kemerdekaan Indonesia yang sudah lebih dari tujuh dasawarsa ini, merupakan hasil dari perjuangan dan proses panjang yang telah dihadapi oleh para pendahulu bangsa. Mereka berjuang demi anak-cucu, demi nusa-bangsa, demi kehormatan, harkat dan martabat yang harus dinikmati oleh penerusnya. Mereka berontak, bertindak, serta beranjak dari penindasan juga kekuasaan bangsa lain yang menjajah dan menjarah kekayaan negeri.

Nikmat kemerdekaan, pikir mereka ketika itu, harus dapat dirasakan oleh manusia Indonesia saat ini. Sementara kenikmatan itu hanya bisa dirasakan jika seluruh anak bangsa bersyukur atas udara kebebasan yang terhirup. Tugas kita sekarang adalah menjaga kemerdekaan yang sudah susah payah diraih para pejuang tempo dulu agar kenikmatan akan selalu terasa. Meski model dan gaya penjajahan yang dilakukan bangsa lain (atau bahkan oleh kita sendiri) selalu berubah-ubah.

Berangkat dari situ, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang sudah diperoleh, setiap tahunnya diadakan perlombaan untuk merangsang generasi muda agar tidak lupa pada sejarah dan perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan dari cengkraman para penindas. Jenis perlombaan yang beragam dilakukan dengan semangat perjuangan dan rasa suka-cita.

Bentuk kebersyukuran atas nikmat kemerdekaan yang diejawantahkan pada perlombaan itu adalah sebagai pemersatu. Rasa persatuan sangat kentara, tidak hanya pada saat proses berlangsungnya perlombaan, tetapi juga ketika perumusannya.

Harapannya adalah agar tercipta harmoni dan estetika yang lebih dialektis sehingga perjalanan perjuangan yang akan dihadapi berikutnya akan mudah terlewati secara kekeluargaan, sebagai pengimplementasian dari kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa kita sejak ribuan tahun lalu; gotong royong.

Perlombaan tujuhbelasan menjadi perkara yang wajib dilakukan dan akan merasa berdosa ketika meniadakannya. Sebab, di dalamnya terkandung makna yang sangat serius, yang harus terserap pada setiap jiwa manusia Indonesia. Peserta lomba akan merasa gembira dan merasakan kemerdekaannya, ketika telah berhasil melewati tahap perjuangan. Sekalipun tidak mendapat juara pertama, kedua, dan ketiga, mereka akan tetap gembira karena dari perlombaan itu timbul rasa persatuan dan persaudaraan.

Karena sesungguhnya, kemerdekaan hanya akan dapat dirasakan ketika rasa persatuan dan persaudaraan turut serta dalam setiap proses perjuangan. Maka, makna kemerdekaan yang sejati pada perlombaan tujuhbelasan adalah terciptanya rasa kekeluargaan, kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan untuk berjuang bersama melawan kejahatan, penindasan, keserakahan, kehancuran, dan perpecahan.

Bukankah pepatah mengatakan dalam peribahasa: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh?” Itulah makna kemerdekaan kita. Bersyukurlah karena bersatu, dan jangan memecah-belah persatuan. Karena ketika bangsa Indonesia terpecah-belah; kemerdekaan akan sirna, menjadi semu, absurd, dan bahkan menghilang dalam pribadi kehidupan bermasyarakat serta bernegara.

Wallahu A’lam.

Aru Elgete

Aru Elgete

Pecandu nona manis si penikmat kopi pahit. ☕

Tulis tanggapan anda: