Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

Indonesia – sekelompok manusia yang mendiami ribuan pulau di antara benua Asia dan Australia, di tengah Samudera India dan Lautan Teduh, berusaha menjadi bangsa yang baru dan membuat negara sejak 1945. Itulah yang di maksud dengan “kita” dalam pengantar ini.

Berbagai upaya dilakukan untuk “menjadi Indonesia”, dengan harapan dapat memperkuat imajinasi tentang kebangsaan, kenegaraan dan keberadaban.

Meminjam kutipan dari Kahlil Gibran “Dulu kita tunduk pada raja, dan patuh pada kaisar. Sekarang kita hanya tunduk pada kebenaran dan patuh kepada cinta”. Menyakinkan saya untuk membenarkan serta mematenkan mengenai lima hal yang perlu dipelajari dalam kehidupan dari Kahlil Gibran.

Pertama, Kahlil Gibran menekankan kecintaan kepada Tuhan, yakni lebih dari sekedar ritual keagamaan. Kedua, mencintai tanah air tanpa membenci negara lain. Ketiga, mencintai keluarga secara benar, dengan hubungan yang tulus antara anak dan orangtua serta sebaliknya. Keempat, mencintai lingkungan hidup, termasuk kebudayaan dan sejarah yang membentuk peradaban. Dan kelima, mencintai kemanusiaan secara universal.

Point pertama mengenai hal-hal yang mesti di pelajari dalam kehidupan dari Kahlil Gibran, yakni; Kecintaan Kepada Tuhan, serupa juga kita dapatkan pada sila pertama di dalam Pancasila, yaitu; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Seakan mengenai Ketuhanan menjadi semboyan yang paling suci, yang mesti di miliki oleh setiap diri dan jiwa para manusia.

Namun ada fenomena aneh untuk kita usik, bukan hanya saat ini setelah ramai-ramainya Ketua DPR RI dan jamaahnya menjadi tersangka korupsi pada kasus identitas kependudukan rakyatnya, pun sudah sejak dari zaman nabi Ibrahim terdapat fenomena manusia berambisi menjadi Tuhan yang di mulai oleh kaum Yajuj Majuj.

Kecintaan Kepada Tuhan bukan lagi berbicara mengenai praktik ritual keagamaan, seperti mendirikan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa dan melakukan haji. Entah cinta-nya yang melampaui batas sehingga di kuasai oleh cinta, atau jangan-jangan ada manusia-manusia yang dengan sengaja ingin di sandingkan atau di setarakan sama sejajar dengan Tuhan, bahkan berambisi menggantikannya.

Mengapa saya katakan demikian? Begini, Al-Baqarah ayat 30 mengatakan; Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau! “Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”

Pada ayat tersebut di jelaskan mengenai kesempurnaan di ciptakannya manusia yakni sebagai Khalifah. Sebelum tercapainya perwujudan untuk menjadi Khalifah, sesungguhnya kita masih sangat jauh untuk menuju tahapan tersebut, karna kita masih berada pada posisi makhluk berupa hewan.

Begini, sepekan kemarin sebagaimana yang saya dapatkan sebagai jama’ah ma’iyyah dari Mas Emha ada enam tahapan evolusi menuju Khalifah. Pertama yaitu benda, lalu tumbuhan, selanjutnya hewan, kemudian manusia, menuju Abdullah (Hamba Allah) dan terakhir Khalifah.

Sebagaimana yang saat ini terjadi, sesungguhnya kita yang entah pantasnya disebut apa merupakan proses peningkatan menuju manusia dari yang sebelumnya yaitu hewan. Atau jangan-jangan sebagian dari kita memang masih layak disebut hewan.

Sebab, Allah memberikan kelebihan kepada manusia berupa: hati, pikiran dan juga hawa nafsu. Sayangnya, yang masih konsisten kita duduki hanyalah hawa nafsu, tidak sambil di imbangi oleh hati dan pikiran. Itu sebabnya kita belum layak seutuhnya disebut sebagai manusia, karna hakikat mengenai hewan masih kita dominasi.

Hal yang demikian (Manusia Berambisi Menjadi Tuhan) dapat kita temukan di sekeliling, mulai dari pemerintah memaksa rakyat untuk mematuhi dan membenarkan program-program pemerintah, yang demikian bukan untuk mensejahterakan rakyat. Juga hal serupa kita dapatkan ketika para pendahulu dan penguasa yang telah mendapatkan wewenang dan kekuasaan menjegal bahkan mengancam bawahannya dengan dalih karir dan masa depannya tak akan aman. Bedebah! Seakan harga sebuah takdir bisa di timbang-timbang olehnya atas dasar hak kekuasaan yang mereka miliki, apalagi yang berlagak untuk berusaha mendikte takdir setiap orang yang bersangkutan dengannya.

Selanjutnya, inilah kehebatan dari kebesaran Tuhan. Bukan kita yang terlebih dahulu mengasihi-Nya, melainkan Tuhan yang lebih dahulu memiliki inisiatif untuk memberikan. Manusia melakukan ambisinya untuk berkuasa bahkan menyamakan dirinya seperti Tuhan. Namun Tuhan dengan baik hati melayani kita untuk segera menebus dosa dan kesalahan, agar tidak lagi menjaga apalagi merawat dosa.

 

Jakarta, Juli 2017
Penulis : (Robiatul Adawiyah/Wiwi) Mahasiswi Jakarta Semester Akhir Yang Ingin Lulus Dengan Husnul Khatimah, Manusia Yang Doyan Jalan Dan Doyan Tidur.

Tulis tanggapan anda: