Mari Mengukur Kualitas Hidup Kita melalui Surat al-Ashr

Oleh : agus salim thoyib

 

Kualitas hidup manusia sering dinisbatkan atas bagaimana seseorang meraih kesejahteraan hidup. Penilaian atas kesejahteraan sering diukur dgn angka2 berbasis economic values.  Sekalipun ada dgn indikator lain, misalnya ketika kualitas hidup di pandang dari kerangka sosial, tapi meminjam istilah iklan mobil cara pandang itu nyaris tak terdengar. Ada baiknya mari kita mengurai bagaimana surat al ashr mengukur kualitas hidup manusia.

 

Jumhur ulama menyebut Surat Al-Ashr masuk katagori makiyah atau surat yg turun pada fase sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Tersusun dari tiga ayat dan merupakan surat terpendek dalam al-qur’an bersama surat al-kautsar. Struktur surat ini, sekalipun pendek, tapi mengandung pesan kehidupan yg penting. Hal ini ditandai dan atau diawali dg (1) kalimat qasam:sumpah (wal-ashri) artinya “demi masa”. Seperti lazimnya berucap sumpah, ini menegaskan betapa pentingnya pesan yang akan disampaikan setelahnya. Dalam ayat ini, waktu merupakan pesan krusial yg harus mendapat perhatian krn menjadi objek maqsum bihi (media sumpah). (2) dua kalimat penegasan (taukid)  yg merupakan jawabul qasam yaitu 

(innal insana lafi khusrin) artinya “sesungguhnya manusia benar-benar rugi” dan lam yang disisipkan pada khobar dari kalimat inna.

 

Dlm surat ini utk mengukur kualitas hidup ada 2 ukuran umum. (1) indikator bagaimana membentuk nilai dan karakter diri. Yaitu dengan menjadi pribadi yang beriman dan beramal baik. Iman adalah keyakinan yg bersumber dr hati yg  selanjutnya menuntun, menjaga dan  membimbing manusia untuk terus berada dalam kebaikan. (2) indikator 

bagaimana prinsip manusia dalam bersosialisasi dengan orang lain. (wa tawashou). Sampai di sini, perlu dicatat bhw (wa tawashou) bukan sekedar legitimasi untuk mengingatkan dan berbicara saja, tp lebih dari itu, mau mendengar dan menerima nasehat.  “wa tawashou” adalah  tentang berani menyampaikan kebenaran kepada orang lain pun berani menerima kebenaran dari orang lain. Selanjurnya, (as-shabr) secara alih bahasa berarti sabar. Makna sabar sebenarnya sudah termasuk dalam makna kalimat (al-haqq). Sabar adalah bagian dari makna al-haqq. Meski begitu Allah mengulangnya kembali mengingat pentingnya kedudukan sabar dalam kehidupan. Sabar adalah menahan diri dan kerelaan menerima. Sabar berbeda dengan malas. Sabar bukan berarti tidak berusaha. Sabar sering di ta’rif dengan atsabatu alal haq fi qulli ayi zaman wal makan; sabar adalah menegakkan kebenaran di mana pun dan kapan pun. Sabar is move !

 

Paparan di atas bisa diringkas menjadi formula 4 karakter/sikap hidup yg bisa mengukur kualitas hidup seseorang/kelompok yakni   (1) Beriman, (2) beramal shalih, (3) kesediaan mengingatkan dan diingatkan pada kebenaran dan (4) kesediaan mengingatkan dan diingatkan untuk bersabar. Jika ke 4 sikap itu terus menjumbuh di kehidupan kita maka yakinlah kualitas hidup kita “berbahagia” krn sudah sesuai dg apa yg Allah firmankan. Semoga.

 

Wallahu’alam bishawab.

@ast2017