Media Massa, Bahasa, dan Literasi Kita

Saya pernah survei kecil-kecilan kepada sekelompok siswa SMA. Kosakata yang mereka ketahui didapat dari mana? Apakah dari membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia, media massa, ujaran keseharian kawan dan keluarga, atau sumber lain. Sebagian besar menjawab dari media massa.

Mereka akrab dengan kosakata tertentu lantaran sering dibaca di media massa, baik koran, majalah, maupun media internet atau online atau yang sekarang lazim disebut dalam jaringan (daring).

Dari situ kemudian saya berpikir bahwa peran media massa dalam menghantarkan sebuah kosakata, istilah, frasa, atau apa pun yang sejenis itu, ternyata punya dampak yang besar kepada pengetahuan khalayak mengenai bahasa. Kita akan beruntung jika mendapati media massa yang punya kultur berbahasa yang cakap.

Masalahnya adalah sekarang banyak bertebaran media massa daring. Portal berita banyak bertumbuhan. Mereka yang lahir di atas tahun 1984 ternyata tak lagi mendapat pasokan berita atau informasi dari koran. Asupan utama berita mereka didapat dari media daring yang disebarluaskan melalui media sosial, Facebook salah satunya.

Jika kita melihat sekarang produk yang dihasilkan media massa, dalam banyak kejadian, sering menghasilkan karya jurnalistik yang buruk. Bukan persoalan tata bahasa saja, melainkan yang elementer dari sisi penulisan yang kurang enak dibaca. Tak mesti jauh-jauh ke soal struktur berbahasa lisan, penggunaan tanda koma, tanda kutip saja, masih banyak yang salah.

Karena kebetulan bekerja di portal berita internet, anggapan semacam itu saya jadikan pedoman tersendiri. Jujur diakui, media tempat saya bekerja, jejamo.com, juga masih banyak kekurangan. Pengetahuan reporter dalam berbahasa tidak begitu cakap. Mungkin lantaran mereka ditarget menulis berita dari tempat kejadian perkara secara cepat.

Hal itu makin diperparah dengan ketidakmampuan editor yang menyunting dan mengunggah berita secara baik sehingga media akhirnya memproduksi karya jurnalistik yang secara kebahasaan parah.

Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan tentang jurnalisme lingkungan bertopik adaptasi  perubahan iklim. Mentor dari Dewan Pers juga mengeluhkan bahwa media massa daring tidak cakap dalam berbahasa. Tidak ada lagi kenikmatan saat membaca produk jurnalistik dari si empunya media massa daring. Waktu itu saya sempat menyanggah bahwa tak semua demikian.

Soal kemampuan dan kecakapan berbahasa tak melulu dilihat dari media massa saja. Akan tetapi, kita perlu melihat dari para wadyabala yang mengawaki media itu. Jika para krunya piawai dalam menata bahasa, pastilah produk jurnalistik yang dihasilkan enak dibaca dan sesuai dengan kaidah. Namun, jika kemampuannya terbatas, dan yang parah adalah tak mau belajar, artikel berita dan nonberita yang disajikan pasti jauh dari kelayakan.

Buat saya ini penting. Untuk saya, kecakapan kru media massa daring dalam berbahasa adalah urgen. Satu sebabnya ya poin yang tadi penulis ulas di atas. Sekarang, warga dunia, atau warga dunia internet yang lazim disebut netizen, mendapat pasokan berita, sekaligus bahasa di dalamnya, dari media tersebut. Maka, sudah pasti, pemahaman kebahasaan warga akan terpengaruh dari asupan informasi yang mereka peroleh.

Kita belum jauh membahas bagaimana media massa menjadi penggerak utama dunia literasi yang mencakup di dalamnya kemampuan membaca dan menulis. Kita masih berkutat pada menanti jawaban dari sebuah pertanyaan: apakah media massa sekarang, wabilkhusus daring, mampu mencerdaskan pembacanya. Baik dari sisi kualitas konten, maupun dari sisi kebahasaan yang mencerdaskan.

Pada noktah ini kita menemukan masalah bahwa mutu produk jurnalistik media daring banyak yang mempertanyakan. Meskipun demikian, ini kan anggapan. Ini sama dan sebangun jika kita melongok kualitas media cetak yang sudah dahulu ada. Tak semua mempunyai kemampuan berbahasa yang baik.

Lazimnya media massa cetak, semisal koran dan majalah, mempunyai kru bahasa tersendiri. Saya kebetulan pernah lama bekerja sebagai korektor bahasa di Harian Umum Lampung Post. Keberadaan para “ahli bahasa” ini membuat Lampung Post termasuk yang terbaik penggunaan bahasa Indonesianya. Tahun 2008, koran ini menjadi Koran dengan Penggunaan Bahasa Indonesia Terbaik Nomor 12 se-Indonesia dan nomor satu di Sumatera. Dengan demikian, ada semacam garansi bahwa pembacanya juga akan tercerdaskan dari sisi kebahasaan. Sudahlah kontennya bermutu, bahasanya juga pilih tanding.

Akan tetapi, tak semua koran punya divisi yang menggawangi soal kebahasaan. Apalagi koran yang berada di luar Jakarta. Banyak koran atau tabloid yang tak mempunyai orang yang mengurus soal bahasa ini. Dengan demikian, tak ada penjaga gawang yang sedikit banyak meminimalkan peluang terjadinya kesalahan dalam berbahasa.

Kita balik ke media daring. Kita tentu tidak menginginkan selamanya ada stigma bahwa media massa daring ini mutu bahasanya rendah. Maka itu, poin solusi pertama sudah kita temukan. Setidaknya sekadar usulan. Soal formulasi di lapangan, monggo diserahkan sepenuhnya kepada pengelola media massa.

Media massa internet juga wajib cakap dalam berbahasa. Tingkatan yang paling mungkin dicapai adalah meminimalkan kesalahan penulisan kata. Typo kata orang. Salah ketik dalam bahasa Indonesianya.

Salah sih memang manusiawi. Itu juga yang sering saya bilang kepada para editor yang menyunting dan mengunggah berita. Tapi jangan jadi kebiasaan. Kalau kebiasaan, nanti dicireni orang.

Amit-amit kalau sampai banyak yang bilang, “Oh, Jejamo.com ya. Itu mah sering salah judul, salah ketik. Tanda bacanya aja salah melulu.” Malu kan kalau dapat penilaian semacam itu.

Untuk itu, media massa internet mesti berbenah. Caranya ya berlatih terus menerus. Para reporter mesti dibekali kecakapan menulis sesuai standar bahasa Indonesia. Saya sering bilang kepada mereka, menulis itu mudah kok. Tulis saja sesuai dengan panduan SPOK (subjek, objek, objek, keterangan). Beres urusan?

Jika poin itu saja diikuti, insya Allah kualitas artikel yang disajikan ciamik dan memikat. Orang juga mudah mencerna. Orang akan mudah menyimak. Sekali baca, orang akan bisa mengerti tanpa perlu mengerutkan dahi sebagai pertanda tidak memahami konten tulisan.

Kepada para editor juga demikian. Editor itu penjaga gawang bahasa media massa. Editornya selip, kejadian deh. Editornya silap, bisa salah di mana-mana. Editornya tak teliti, bahasanya tak bisa dimengerti. Editornya tak pandai meramu kalimat, tamat urusan, wassalam deh.

Satu yang sering jadi bahan obrolan publik adalah media massa internet ini hanya mengejar klik. Publik mengira, semakin banyak klik, semakin banyak pemasukan rupiah  media massa. Itu benar kepada media massa yang mengandalkan penghasilan dari iklan Google Adsense.

Tapi bagi sebagian lagi, termasuk kami di jejamo.com, tidak demikian. Orang bikin media massa internet memang untuk mencari sebanyak mungkin pembaca. Dari sebanyak itu, harapannya mereka membuka atau mengklik sebanyak mungkin artikel berita. Dari mengklik itu, diharapkan durasi mereka bertahan di web itu semakin lama. Orang media internet bilang, sesi.

Judul media massa, apalagi yang mengejar jutaan klik, kadang menipu. Ini sering diistilahnya dengan jebakan klik atau clickbait. Jebakan ini akan menemui mangsa jika judul dibikin seheboh mungkin, sedramatis mungkin, sepenasaran mungkin, dan sebagainya.

Judul dalam media massa adalah etalase. Orang akan mau membaca kalau judulnya menggoda. Konten yang bagus, kalau tidak diimbangi judul yang menarik, memang tak banyak dilirik orang. Sebab itu, media massa, termasuk media cetak, pasti mencari judul semenarik mungkin. Wabilkhusus portal berita, judul menjadi mahkota.

Namun, alih-alih memberikan panduan dan menggoda selera pembaca, judul acap tak nyambung dengan isi. Ini yang menyebabkan banyak pembaca kecewa. Judul sudah bombastis, isinya biasa saja. Redaksi mesti pandai memahami ini. Setidaknya mensinkronkan bahwa judul memang mesti menarik tapi diimbangi dengan konten yang oke punya.

Urusan judul hanya satu poin. Masih banyak poin lainnya. Namun, setidaknya, jika judul sudah tak bermasalah, bisa melanjut ke tahap berikutnya.

Saya termasuk yang paling rewel urusan judul. Kadang judul artikel portal berita memang rada panjang, setidaknya dibandingkan dengan koran. Namun, karena itu kebutuhan, selama masih sesuai dengan skema bahasa, insya Allah tidak mengapa. Kadang-kadang juga menyelipkan ujaran lisan yang dituliskan. Redaksi acap mewakili kira-kira apa respons pembaca saat menikmati artikel itu. Maka, sering kita baca di preambule artikel ada ujaran “Wow”, “Masya Allah”, “Mapas”, dan sebagainya. Saya akui, saya juga sering melakukan itu. Akan tetapi insya Allah masih sesuai dengan pemahaman kebahasaan yang saya ketahui selama ini. Entahlah jika itu dianggap keliru. Saya minta maaf.

Pembelajaran yang terus-menerus kepada pengelola media massa, suatu waktu akan mengejawantah pada mutu jurnalisme yang bagus. Pemahaman ini mesti ada pada diri setiap pengelola media massa daring. Andai setiap orang, mulai dari reporter sampai editor, mempunyai cara pandang kebahasaan yang baik, mutu karya jurnalistiknya hakulyakin meningkat. Sekarang kan lagi tren tuh:  Hasil takkan mengkhianati proses. Hehehe.

Anggaplah persoalan kebahasaan media massa selesai sampai di sana. Namun, literasi ternyata tak berhenti sampai di situ.

Jika merujuk pada kamus daring Merriam-Webster yang penulis kutip dari wikipedia, literasi berasal dari istilah latin literaturedan bahasa inggris letter. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.

Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

Nah, jika merujuk ke sini, rupanya media massa tidak sebatas itu saja fungsinya. Perihal mereka menyajikan artikel dengan kualitas konten dan bahasa yang prima, itu sudah tentu. Akan tetapi, lebih jauh lagi, media masa mesti mendorong kultur menulis pembacanya.

Dahulu, sewaktu media internet belum semarak sekarang, lambang kebiasaan orang dalam menulis hanya yang tercetak. Seseorang belum disebut sebagai penulis jika belum menembus surat kabar. Padahal sewaktu itu, katakanlah generasi saya yang kelahiran 1979, mengidam-idamkan bisa menulis di surat kabar. Banyak kawan yang punya impian menjadi penulis. Namun, impiannya menjadi penulis mesti sirna karena media massa cetak kekurangan tempat untuk menampung semua ide yang ditetaskan para calon penulis.

Kini, untuk menjadi seorang penulis, seseorang tidak perlu lagi menunggu redaktur opini atau redaktur sastra media massa memublikasikan tulisan kita. Sekarang ada internet, Bung.

Era blog juga mendinamiskan anak-anak muda yang ingin tulisannya dibaca banyak orang. Kehadiran narablog yang kemudian menjadi artis, Raditya Dika, menginspirasi anak muda lainnya untuk melakukan hal yang sama. Semua ramai-ramai membuat blog, mengisinya dengan beragam konten, menyebarluaskan lewat jejaring media sosial, dan ujung-ujungnya berharap penghasilan dari Google Adsense serta terkenal seperti Raditya Dika.

Era blog memang memunculkan fenomena tersendiri. Ini bagus buat dunia literasi. Ini keren untuk memunculkan generasi baru Indonesia yang suka dalam menulis.

Akan tetapi, sesuai dengan tema besar tulisan ini, tulisan yang dihasilkan tetap mampu mencerdaskan pembacanya, dari sisi konten maupun bahasanya. Dan semua kita tentu mahfum, blog adalah bentuk kebebasan berekspresi. Niat menjadikan blog agar konten di dalamnya ditulis sesuai dengan ejaan yang benar, dan semua kosakata merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, tentu rada puyeng jika dipaksakan. Rata-rata pelakunya, barangkali mereka yang lahir pada akhir 1990-an dan tidak begitu khidmat dalam membaca koran. Mereka lahir dan berkembang serta memperoleh bacaan sebagian besar melalui internet.

Blog adalah medium merdeka. Setiap penulisnya bebas mengekspresikan gagasannya dalam bahasa keseharian. Maka itu kita akan menemukan dan membaca banyak blog populer ditulis dengan bahasa keseharian. Ibarat menuangkan catatan harian dalam sebuah buku diari. Kita tentu bebas saja menuliskan. Toh ini pendapat pribadi dan pada awalnya hanya untuk dibaca sendirian. Era blog inilah yang kemudian menghantarkan catatan pribadi ini ke khalayak warga net.

Lalu, apa peran media massa sehingga publik tercerdaskan dalam dunia literasi? Apa peran media massa sehingga konten yang dihasilkan para narablog ini makin bagus kualitas bahasanya.

Jika merujuk peran dalam konteks ini tentu bukanlah sebuah kewajiban formal yang baku dan kaku. Pasalnya, media massa ada pada medium tersendiri, para narablog ada di ruang yang lain. Keduanya sama-sama berperan, keduanya mempunyai perbedaan yang khas. Bila media massa memiliki ruang redaksi yang terdiri dari banyak jabatan, blog tidak demikian.

Maka itu, karya orang-orang media massa disebut karya jurnalistik, sedangkan karya para narablog belum tentu demikian.

Opini di media massa, meski ditulis oleh pribadi, tetap disebut karya jurnalistik karena ada ruang redaksi yang menyortirnya dan kemudian menurunkannya sebagai artikel. Sedangkan di blog, si empunya media inilah yang secara bebas menayangkan tanpa perlu ada jenjang yang panjang sampai konten itu naik siar di dunia maya.

Karena perbedaan itu jua, satu kosakata yang bisa dipertemukan di antara keduanya adalah sinergi. Ya, kerja sama. Adanya pemahaman bahwa media massa dan narablog punya andil untuk mencerdaskan pembacanya.

Media massa, khususnya portal berita, mesti memberikan kesempatan kepada narablog untuk ikut menuangkan laporan mereka ke sini. Artinya, berikan kanal yang pas untuk narablog dalam berekspresi. Setidaknya menyasar anak muda yang baru kenal dunia tulis-menulis dan selanjutnya menjadi narablog aktif.

Kami di jejamo.com, meski belum ada kanal Opini, tetap memberikan kesempatan kepada warga dunia internet untuk menuangkan gagasannya. Ada pula yang rajin mengirim laporan berita di komunitas yang mereka aktif di dalamnya. Tentu saja laporan atau opini yang dikirim sebatas kemampuan mereka menulis. Di sinilah justru sisi edukasi media massa kepada narablog atau penulis dilakukan.

Adanya editor menjadikan narasi yang ditatahkan para penulis itu menjadi lebih baik. Dari yang semula menulis dengan bahasa yang alay sampai dengan kosakata yang disingkat-singkat, diubah menjadi bentuk yang sesuai kaidah tanpa menghilangkan sisi kekhasan reportase seorang narablog atau penulis.

Media massa juga bisa menginisiasi pertemuan para narablog dalam sebuah acara yang mengasyikkan dan jauh dari kesan formal. Pertemuan atau kopi darat akan membuat silaturahmi antarnarablog juga dengan media massa menjadi hangat. Pada acara itulah, media massa bisa memberikan edukasi betapa peran narablog ini penting dalam kecerdasan literasi. Di sini juga bisa dikemukakan betapa bahasa tetap menjadi faktor penting dalam berkomunikasi lewat tulisan. Di sini jua editor media massa atau bahkan pemimpin redaksi bisa mengajak narablog untuk sesekali menuangkan laporan atau opini mereka ke kanal opini dan laporan khas jurnalis warga.

Yang juga bisa dilakukan media massa ialah proaktif berkunjung ke kampus dan sekolah, bertemu dengan mahasiswa dan pelajar, dan memberikan dasar-dasar menulis reportase dan opini yang enak dibaca dan dengan bahasa yang mengalir. Ada banyak pelajar dan mahasiswa yang punya talenta menulis tapi belum pernah disentuh atau dipoles. Dengan kehadiran media massa, tentu akan bermanfaat buat mereka meningkatkan kemampuan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.

Saat awal Syawal lalu, saya bertemu dengan Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim. Salah satu topik pembicaraan kami adalah betapa pentingnya media massa memberikan edukasi kepada pelajar agar menggunakan media sosial dengan benar, menulis status Facebook dengan bagus dan asyik dibaca, serta mendorong mereka agar piawai menulis. Jika tak ada aral melintang, jejamo.com akan menjadi salah satu pihak yang dilibatkan dalam kunjungan ke sekolah-sekolah untuk mewujudkan niat itu.

Yang kita inginkan ialah generasi muda ini tumbuh dengan pikiran yang jernih, kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab, dan dengan tingkat kecerdasan literasi yang memukau. Meski meremaja, meski anak muda, meski diwarnai dengan tingkah polah mereka yang khas, konten yang dihasilkan mereka dalam ranah media sosial bermutu, enak dibaca, dan punya adab kebahasaan.

Kami ingin memberikan pengetahuan bahwa kekecewaan, kekesalan, bahkan marah, tak melulu diekspresikan dalam bentuk status Facebook yang jorok dan kotor. Kami ingin mengubah semua ekspresi itu dalam bentuk yang santun, beradab, juga mencerdaskan.

Khatimah

Membangun masyarakat yang cerdas literasi ialah tugas bersama. Media massa punya peran untuk itu. Meski demikian, diawali dahulu dengan kemampuan berbahasa tulis yang mumpuni dari seluruh wadyabala media massa.

Kita juga membutuhkan peran narablog yang saban hari menuangkan gagasan dan dibaca ribuan orang serta viral di media sosial. Alangkah indah jika semua konten yang tersebar dan mewabah itu ditulis dengan bahasa yang enak dibaca dan sesuai dengan kelayakan berbahasa kita.

Sinergi adalah hal yang bisa dilakukan demi mewujudkan warga internet yang melek membaca dan menulis secara santun. Peran kita masing-masinglah yang bakal menentukan kapan warga internet Indonesia bisa menjadi warga net yang cerdas dan mencerdaskan. Wallahualam bissawab.

 

 

sumber: ardian saputra (kompasiana 23/7/2017)

Tulis tanggapan anda: