Membangun Keadilan Sosial, Harus Menyentuh 40 % Kelompok Termiskin

“Hampir semua indikator ekonomi baik, cadangan devisa tertinggi sepanjang sejarah, suku bunga juga sudah turun, tapi pertumbuhan terus melemah,”kata pengamat ekonomi politik Faisal Basri dalam Seminar dan Diskusi Publik Membangun Indonesia Berkeadilan Sosial dan Inklusif yang dilaksanakan di Jakarta, 27 September 2017 kemarin. “Tahun kemarin angkanya masih 6, sekarang turun menjadi 5.”

Menurut Faisal pengangguran memang turun, tetapi lebih banyak menciptakan pekerja informal. Jumlahnya lebih dari 58 %, sedangkan pekerja formal hanya sekitar 41 %. Pekerja seperti pemulung, memperoleh pendapatan jauh lebih tinggi daripada tetap bekerja pada sektor pertanian sebagai buruh tani.

Lebih dari 26 % pekerja, bekerja lebih dari 49 jam per minggu, terbesar ketiga setelah Korea dan Hongkrong. Namun di kedua negara yang disebut terakhir karena ingin memperoleh penghasilan lebih tinggi, sedangkan di sini karena terpaksa.

Ada indikasi penurunan konsumsi kelompok menengah-atas untuk berjaga-jaga dengan melakukan switching to saving atau menaikkan tabungan atau ). Porsi pendapatan yang ditabung pada kwartal 2 tahun 2017 meningkat menjadi 20.77 persen dari sebelumnya hanya 18.60 persen pada kuartal 2 tahun 2016. Ada pula yang beralih ke belanja ke sistem online, tetapi porsinya masih relatif kecil, hanya sekitar 2% dari total bisnis ritel.

Berbagai proyek dan pembangunan infrastruktur yang dilakukan hanya menyenangkan kelas menengah, sementara kelompok 40 % terbawah belum tersentuh.  Belanja kelompok ini hanya 17 % dari total, bahkan nilai tukar petani dipastikan bulan ini akan turun lagi.

Rasa keadilan semakin terusik ketika melihat perbedaan pengeluaran dan penguasaan aset yang begitu tajam. Kekayaan nasional sebesar 49 % hanya dikuasai 1% penduduk ini. Karena itu, Faisal Basri dalam paparannya menyarankan operasionalisasi dengan kembali ke jati diri sebagai negara maritim, akselerasi industrialisasi dan peningkatan produktivitas pertanian atau modernisasi pertanian. Segalanya harus serba terukur, tidak boleh “ugal-ugalan”, tidak bisa dengan pendekatan just do it.

Pengamat politik Yunarto Wijaya menambahkan ketimpangan ekonomi yang melebar, kebijakan yang dipersepsikan terlalu berpihak pada konglomerat dan investor asing serta pengalaman terdiskriminasi di tempat kerja, ibarat bara dalam sekam. Berdasarkan data BPS, Indeks gini melonjak dari 0.3 pada tahun 2000 menjadi 0,42 pada tahun 2016.

Menurut Yunarto yang bisa dipanggil mas Toto ini, mengungkapkan keberadaan predator politik sebagai salah satu faktor perusak. Di bawah kepentingan bisnis-politik, predator dapat mengeksploitasi ketegangan-ketegangan dan dilema ini untuk ‘membakar’ akar rumput atau ‘menggorengnya’ di tingkat elite politik. Predator politik tak peduli tentang cara dan konsekuensi terhadap bangsa dan kemashalatan umum, fokusnya pada ‘kue bisnis’ dan juga ‘kue politik’. Mereka yang menghadapi predator, sering kali terbentur pada norma. Jalan melawannya harus baik, tidak boleh ikut ugal-ugalan.

Untuk itu, publik harus didorong aktif berpatisipasi dalam politik. Relasi warga dengan wakilnya harus dibangun. Survei CSIS terbaru, misalnya, menunjukkan rendahnya partisipasi politik warga dalam hal mengikuti reses DPR, berkomunikasi dengan DPR, dan menyampaikan pendapat secara langsung kepada anggota DPR (<5%).

Dari Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Dianta Sebayang menegaskan siapa pun di bangsa ini, bukan hanya berhak memilih, tapi juga berhak mandiri. Indonesia sudah ditakdirkan untuk inklusif, kita harus mengakui siapa pun pemimpin yang terpilih.

Dihadapan sekitar 100 orang peserta yang hadir dalam seminar dan diskusi publik ini, satu-satunya pembicara perempuan yang hadir Tsamara Amany menegaskan jangan berharap ada keadilan sosial bila masih ada korupsi. Politisi millenial ini juga mengungkapkan kegalauannnya atas media sosial yang dikuasai kelompok tertentu yang dianggapnya sebagai kelompok “garis keras”. Padahal, menurut politisi kelahiran 1996 ini, yang paling banyak mengaksesnya adalah generasi millenial.

*****

Tulis tanggapan anda: