Membangun Pulau Kecil ala Gubernur Basuki

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara telah menjatuhkan vonis dua tahun penjara terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas kasus dugaan penodaan agama pada Sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, 9 Mei 2017. Terlepas dari pernyataan kontroversial mengenai QS al-Maidah ayat 51 yang menyebabkannya divonis, pidato di Kepulauan Seribu akhir September 2016 tersebut juga memuat pelajaran sangat berharga tentang strategi membangun pulau-pulau kecil.

Ahok mengungkapkan besarnya potensi yang dimiliki Kepulauan Seribu. Masyarakat didorong memanfaatkan potensi sumberdaya yang belum tergarap. Selain tambak ikan kerapu yang diresmikan dalam acara tersebut, bisa juga dikembangkan usaha pertanian dan peternakan ayam dengan memanfaatkan lahan yang ada. Pasar dan coldstorage bisa dibangun sebagai fasilitas pendukung. Untuk keperluan para turis, bisa dibangun resort atau penginapan dan restoran terapung. 

Kondisi Kepulauan Seribu masih lebih baik dibandingkan Belitung dan pulau-pulau kecil di sekitarnya yang jauh dari Jakarta. Menurut Ahok, ada kawannya yang bekerja di salah satu pulau kecil, makan pisang hingga berbulan-bulan karena produksi pisang berlimpah dari berbagai jenis, ada pisang Ambon, raja, kepok. Karena tidak mungkin mencarter kapal untuk membawanya ke Jakarta, banyak yang akhirnya membusuk tidak terjual.

Bila AT Mosher dalam Getting Agriculture Moving mengungkapkan pentingnya membangun transportasi untuk mendukung pengembangan pertanian. Kalau ada uang, saya akan bangun jalan. Ada uang lagi, bangun jalan lagi. Ide ini tampaknya juga akan dikembangkan dalam transportasi laut untuk membuka isolasi dan memajukan  pulau-pulau kecil agar tidak tertinggal dari daerah lainnya.

November akan datang kapal lagi yang besar seperti yang sekarang punya ini. Sabuk Nusantara ya. Saya pengen tiap pagi dari Jakarta ke pulau seribu, dari pulau seribu ke Jakarta. Jadi ada 2 ini bawa barang semua murah, satu ton aja cuma 5 ribu, jadi 5 rupiah perkilo kalau bawa barang. Jadi bapak ibu ada hasil apapun bisa kerja dengan baik, tanaman apapun bisa, mau tanaman daun kelor bisa.”kata Ahok.

 Pada kesempatan tesebut, Ahok juga mendorong pengembangan pola kerjasama dengan skema shareholding. Dari keuntungan bersih, 80 % diberikan kepada pengelola tambak, sedangkan Pemda DKI Jakarta selaku pihak yang membangun tambak dan menyediakan modal, memperoleh bagian 20 % yang selanjutnya akan disalurkan kepada koperasi seteleh berdiri.

Pembentukan koperasi harus didasarkan pada kesamaan visi dari anggota-anggota yang dianggap jujur dan rajin. Atau dalam bahasa Ahok,Jadi koperasi kita harus dari pertemanan tadi, bapak ibu seleksi anggota yang jujur yang baik.” Menurut Ahok, koperasi harus didirikan atas dasar persamaan visi dari para anggota.

Pada putaran kedua Pilkada, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno telah terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur yang akan memimpin DKI Jakarta pada periode selanjutnya dengan perolehan suara 57,95 %. Meskipun Ahok tidak terpilih, ada sebuah harapan agar kebijakan pemberdayaan ekonomi di Kepulauan Seribu bisa dilanjutkan dan dikembangkan oleh Anies Baswedan sebagai gubernur baru.

Jakarta, 19 Mei 2017

*****