MEMPERBAIKI KEHIDUPAN DENGAN KEMATIAN

Pada hakikatnya, kehidupan dan kematian bukan dua hal yang terpisah, melainkan dua hal yang saling terkait. Kematian mengingatkan kehidupan agar tetap menjadi sesuatu yang berarti. Dan kehidupan mengingatkan kematian sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian. 

Kematian ibarat sebuah gerbang yang menghubungkan ruang kehidupan dunia yang sementara dan pura-pura dengan ruang kehidupan akhirat yang abadi dan hakiki. Setiap manusia pasti akan melewati gerbang kematian menuju ruang kehidupan abadi. Dan tidak akan ada satu makhluk pun bisa menghindar dari gerbang ini. Sehingga, tidak perlu takut dan lari, karena gerbang kematian hanya terjadi satu kali, sementara kehidupan akan berlangsung kembali.  

Allah SWT berfirman : 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran: 185 ) 

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8) 

Ada beberapa alasan yang biasanya manusia takut pada gerbang kematian : 

Pertama, takut berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan dunia sudah terlanjur mereka terjemahkan sebagai kenikmatan abadi, padahal hanya beberapa tahun saja. 

Kedua, ada ungkapan batin yang tidak disadari. Bahwa, mereka yang takut kematian enggan berjumpa dengan Allah. Sebagaimana, mereka selalu menghindar dari perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu mereka, sebagaimana mereka enggan bertemu Allah. 

Rasulullah SAW menjelaskan :  

“Barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah juga benci bertemu dengan orang itu.” (HR. Bukhari Muslim) 

Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan, sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku bahagia daripada hidup, maka permudahkanlah kematian itu untukku. Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.” 

Ketiga, boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi. Karena yang diketahui anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, popularitas, harta dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah. 

Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari Rasulullah SAW. : 

“Aku mendatangi Nabi SAW sebagai orang yang kesepuluh dari sepuluh yang mendatangi Rasul. Kemudian, ada seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai dan mulia, ya Rasulullah?’ Beliau SAW menjawab, ‘Yaitu, orang yang terbanyak ingatnya kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah orang-orang yang akan pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah) 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hampir sepanjang usia kekuasaannya, tak pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Kemudian, semuanya pun menangis. Seakanakan, di samping mereka ada jenazah yang sedang ditangisi. 

Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi guru sejati. 

Kematian tak ubahnya seperti seseorang guru yang baik. Ia memberikan kematian banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang. Kematian akan senantiasa memberikan nasihat, penerang, bahwa kehidupan ini hanyalah sementara dan penuh dengan pura-pura.  

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga 

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah SWT mengingatkan itu : 

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al-Anbiya : 1) 

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” 

Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan . 

Allah SWT berfirman : 

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orangorang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?.” (QS. Ibrohim :44) 

2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa 

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya. 

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir. 

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. 

Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran. 

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian. 

3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa 

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. 

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. 

Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. 

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan. 

4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara 

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. 

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir. 

5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga 

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguhsungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan. 

Allah SWT. berfirman : 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi….” (QS. Al-Qashash : 77)  

 

 Nasihat-Nasihat Kematian   

1. “Mati mendadak suatu kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka.” (HR. Ahmad) 

2. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. (HR. Bukhari Muslim) 

4. Seorang mayit dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak dan kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai dari dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah mohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka. (HR. Ad-Dailami)  

 

 ————————

Sumber : Serial Buletin Jum’at Al-Bayan PCNU Kota Bogor

Pelindung : KH. Fuad Fithrie Fachrurrozie, Dr. Ir. H. Ifan Haryanto MSc, Dr. Aji Hermawan, Drs. Adnan Anwar,    

Dr. Muhammad Zahrul Muttaqin, Dr. Jaenal Effendi| Pimred : Muhammad Anwar Sadat, S.H | Redaktur : Muhamad 

Ichsan Maulana| Keuangan : Ahmad Nurdianto | Distribusi : Ust. Abdul Aziz : 081286272521 (Tanah Sareal), Gus Farid Almuhayat : 081272861959 (Bogor Utara), Ust. Thohir : 085813800010 (Bogor Tengah), Ust. Marhoni : 

087870804256 (Bogor Timur), Ust. Misbah : 085885760764 (Bogor Selatan)| Pembiayaan : Lakpesdam, PCNU, Sponsorship, Iklan, E-mail : [email protected] Contact Person : Ichsan (087720775172), Pemasangan Iklan : Anwar (081318601960) Alamat Redaksi : Kantor PCNU Kota Bogor Jl. Sempur Kaler II NO. 7 RT. 05/01 Kel. Sempur Kec. Bogor Tengah Kota Bogor, Jawa Barat.  

Tulis tanggapan anda: