Mendesak Dibubarkannya HTI, Forum Silaturrahmi Bangsa Didirikan

 

Untuk merekatkan kembali kehidupan bermasyarakat warga Jakarta dan sekitarnya. Hari ini, Minggu (21/5/2017) sejumlah elemen masyarakat berkumpul dan mendeklarasikan Forum Silaturahmi Bangsa di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat.

Masjid yang baru-baru ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo itu menjadi saksi atas dideklarasikannya Forum Silaturrahmi Bangsa (FSB). Forum ini  diketuai oleh KH Zuhri Ya’kub dan Sekjen H.A Djunaidi Sahal dengan anggota awal 200 orang yang terdiri dari alim ulama dan kyai kampung dari seluruh kawasan di DKI Jakarta. 

Ketua FSB, KH. Zuhri Yaqub, dalam keterangannya menjelaskan bahwa kelahiran Forum Silaturrahmi Bangsa dilatarbelakangi keperihatinan atas dua hal :

Pertama, adanya ancaman gerakan Islam transnasional yang mengancam ideologi negara. Terkait hal ini FSB secara terbuka menyatakan dukungan kepada pemerintah untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena telah terbukti sebagai organisasi pengusung ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara Pancasila. 

Kedua, menguatnya kelompok intoleran dan penggunaan isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan untuk kepentingan tertentu. Isu SARA dimainkan sedemikian terbuka dengan variable ujaran kebencian (hate speech) di muka umum, melalui ceramah-ceramah dan berbagai media sosial.

” Kami mengajak semua elemen negara ini agar tidak terpecah-belah dan saling bermusuhan satu sama lain. Tantangan ke depan semakin berat, maka energi kita jangan dihabiskan untuk saling curiga dan saling mengecam yang pada gilirannya mengganggu proses pembangunan yang sedang berlangsung”. Jelas tokoh asli betawi ini.

Forum ini, seperti yang diterangkan Sekjen FSB, Djunaidi Sahal, didirikan oleh generasi muda muslim yang memiliki komitmen kuat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bawah naungan Pancasila dan UUD 45. FSB juga bukan organisasi politik dan atau organisasi yang berafiliasi dengan Parpol tertentu.

“Kami tegaskan hahwa FSB bukan organisasi politik, tapi ikut menciptakan sistem berpolitik yang beradab dan mendorong terciptanya iklim demokrasi yang berkualitas di Indonesia.  FSB mendorong terciptanya pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang harmoni dalam rangka membendung penyebaran radikalisme dan ekstrimisme di Indonesia”. Terangnya.

Lebih lanjut Djunai menjelaskan bahwa  FSB adalah organisasi yang bersifat terbuka yang dalam menjalankan cita- cita pendiriannya mengembangkan konsep pendidikan, negara berkeadilan dan kepemimpinan (leadership). 

 

Tulis tanggapan anda: