Mengapa paten menjadi begitu penting?

“Negara seperti Korea dan Taiwan kuat dalam inovasi, Indonesia juga harus memperkuat inovasi,”kata direktur eksekutif Indef Dr. Berly Martawardaya dalam diskusi publik membahas inovasi, paten dan peranannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Jakarta, 27 September 2017.

Terkait agenda perubahan UU Paten, saat ini pengakuannya masih diberikan atas dasar pendaftaran yang pertama kali dilakukan. Padahal ada kasus, yang didaftarkan mempunyai fungsi second medical use.

Menurut Dr. Berly, paten memiliki 3 peran penting. Pertama, melindungi inovasi dan penemuan dari spillover effect seperti pembajakan dan imitasi. Kedua, menyediakan insentif untuk menstimulasi penelitian dan pengembangan di sektor privat. Dan terakhir, menstimulasi inovasi dengan publikasi. Publikasi penemuan lebih disukai di bawah lindungan hak paten.

Regulasi paten 2016 berupaya memperbaiki sistem paten yang ada selama ini, antara lain melalui perbaikan prosedur pendaftaran. Berdasarkan regulasi yang baru, pemegang paten mempunyai 2 opsi. Pertama, harus segera berproduksi di Indonesia dan memberi dampak melalui transfer teknologi. Kedua, proses penundaan hanya satu tahun untuk menyiapkan manufaktur di Indonesia.

Sedangkan Direktur Paten, DLST dan RD Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Timbul Sinaga mengungkapkan sebuah ironi. Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya alam berlimpah, salah satunya aneka jenis mikro-organisme yang bisa digunakan untuk pengobatan, produksi makanan dan berbagai penggunaan lain. Namun faktanya, hanya memiliki 1400 paten, jauh dibawah Republik Rakyat Cina yang jumlahnya sudah lebih dari 1 juta paten.

Ketika bicara teknologi, masing-masing negara akan berupaya melindungi kepentinganya sendiri. Paten yang bisa didaftarkan di Eropa, belum tentu diterima oleh otoritas Jepang. Begitu juga sebaliknya, yang telah terdaftar sebagai paten di Jepang, belum tentu pendaftaran diterima di Eropa.  

Sementara banyak peraturan di negara ini justru menguntungkan pihak asing. Misalnya obat dengan komposisinya tertentu untuk sakit kepala. Menjelang habis jangka waktu berlakunya, dengan komposisi yang sama didaftarkan sebagai paten obat sakit perut. Seharusnya negara bisa menolak pengajuan paten tersebut dan memanfaatkannya untuk kepentingan rakyat.

Perlu dilakukan juga identifikasi apa yang memang mutlak harus diimpor, yang tidak harus impor, serahkan kepada inventor dalam negeri. Saat ini, 96 persen obat-obatan masih diimpor. Alat kesehatan 90 persen juga masih diimpor, yang dibuat di dalam negeri hanya tempat tidur dan kursi roda. Harus ada target, kapan itu kita kuasai sendiri. Demikian juga kebutuhan yang terkait pertanian dan perindustrian.

UU memang berlaku untuk semua, namun kita juga harus menyelamatkan industri dalam negeri, khususnya industri kecil. Lakukan inovasi yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia. “Karena kita membutuhkan motor, maka lakukan inovasi dalam industri otomotif,”cetus Timbul.

Pada diskusi tersebut juga disampaikan mengenai adanya Peraturan Menteri Keuangan 106/2016 yang telah mengatur kontrak penelitian berbasis output hasil penelitian. Di sana, ada penyelenggara, ada pelaksana penelitian dan ada reviewer atau komite penilaian. Namun ada negatif list berdasarkan Peraturan Menteri 14/2016. Misalnya yang mengandung unsur elanggaran kode etik, membahayakan negara atau berpotensi menyebabkan terjadi nya konflik.

Di sela-sela diskusi, ketika ditanyakan pandangannya mengenai adanya usulan untuk membatasi pengakuan hanya pada first medical use. Berly yang juga merupakan Ketua Departemen Ekonomi dan Perdagangan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) ini, yang optimal dilakukan sebenarnya verifikasi ketat ketika pengajuan patent on second (medical) use, apakah pada saat pengajuan pertama memang belum diketahui.

Mengenai penemuan teknik membangkitkan listrik dari pohon ketapi oleh seorang bocah asal Aceh yang pernah heboh di media sosial. Menurut suami Diana Djlantik yang pernah kuliah setahun di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebelum hijrah ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini, penemuan anak aceh itu bukan second use, perlu dibantu oleh ahli bidang teknologi dan ahli hukum dalam pengisian form-form kalau mau diajukan sebagai patent.

*****

2 thoughts on “Mengapa paten menjadi begitu penting?

Tulis tanggapan anda:

%d bloggers like this: