Mengembalikan Rasa Saling Percaya

Oleh : Hasanuddin Ali 

Direktur Alvara Research Center

 

Seorang teman berbicara pada saya berdasarkan sejarah yang dia baca keadaan bangsa Indonesia mirip dengan kondisi tahun 1955. Saya bertanya mirip dimananya? Dia kemudian bercerita bahwa ditahun-tahun itu pertarungan wacana soal politik identitas sangat kuat. Kelompok islamis, nasionalis, dan ditambah komunis berdebat panjang dan berbulan-bulan soal perubahan konstitusi negara. Perdebatan itu berakhir ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang menyatakan kembali ke UUD 1945.

Kondisi sekarangpun demikian, melihat berbagai media dan sosial kita juga merasakan desakan-desakan kelompok islamis terhadap pemerintah juga semakin menguat, kelompok islamis mengambil peran sebagai oposisi yang lebih kuat dibanding partai-partai yang selama ini menyatakan sebagai oposisi.

Kondisi sekarang menurut saya lebih mengkawatirkan dibanding tahun 1955, ada tiga alasan yang lebih mendasarinya. 

Pertama, pengaruh sosial media dan internet. Transmisi informasi sekarang ini jauh lebih cepat dibanding tahun 1955, kecepatan dan daya jelajah informasi ke publik dengan mudah dimanfaatkan oleh para penyebar hoax sehingga informasi benar atau salah menjadi semakin kabur.

 

(Nulis yuk di jagatngopi http://www.jagatngopi.com/mengenal-media-warga-jagatngopi/

Kedua. Berbeda dengan7 tahun 1955 yang lebih banyak digerakkan kaum elit, keadaan sekarang justru lebih banyak digerakkan oleh masyarakat. Sering dengan meningkatnya tren populisme, para elit kekuasaan jutru lebih banyak menungggangi isu-isu yang berkembang dipublik.

Ketiga. Tidak adanya tokoh karismatik. Tahun 1955 kita masih punya Presiden Soekarno yang masih bisa dijadikan simbol pemersatu bangsa. Sekarang kita tidak punya tokoh kuat yang pengaruhnya sekuat Soekarno.

Kekawatiran saya semakin kuat karena  ada indikasi kuat mulai hilangnya rasa percaya antar elemen bangsa. Setiap kelompok memandang denga rasa curiga terhadap kelompok lainnya. Sebagai contoh kelompok minoritas curiga jangan-jangan kelompok mayoritas muslim punya agenda ingin mendirikan negara islam di Indonesia. Disisi lain kelompok mayoritas juga juga curiga jangan-jangan kelompok minoritas yang secara kapital kuat punya agenda tersembunyi di Indonesia.

Gejala penuh sakwa sangka ini bisa kita temui tidak hanya di sosial media tapi juga bisa kita temui di obrolan warung kopi dipinggir jalan. Polarisasi yang demikian tajam ini sudah terjadi di masyarakat akar rumput kita.

Pertanyaannya, semua ini ujung muaranya kemana? Akankah keIndonesiaan akan terkoyak? Saya tidak berani menjawabnya meski ada rasa pesimisme yang timbul.

Harus ada sebagian kecil dari kita yang memiliki keberanian yang kuat  untuk melawan arus ini, merajut kembali benang kusut kebangsaan ini. Tapi siapa? Harapan saya justru ada di anak muda Indonesia. Anak muda yang belum terjangkiti politik kekuasaan, anak muda yang mencintai Indonesia seutuhnya. Semoga masih