Menggugat Kartini 

Tulisan bagus dari Erna Gunawan di wall Facebooknya. Saya publikasi di Jagatngopi.com agar makin banyak yang baca. 
Hari Kartini. Berulang-ulang, saya ingin “menggugat Kartini” dalam ketokohannya sebagai pahlawan emansipasi. Apa hanya karena surat-suratnya pantas dijadikan seorang pahlawan? Banyak perempuan-perempuan hebat lain yang lebih layak, seperti Dewi Sartika yang jelas sudah membuat sekolah ‘Kautamaan Istri’, Tjut Nyak Dien yang lebih gagah berani dan menjadi panglima perang melawan Belanda. Nyi Ageng Serang, Rohana Kudus, Rasuna Said, dsb.dsb, kiprah mereka lebih nyata.
Saat pikiran-pikiran saya menggugat ketokohannya, akhirnya saya tersadarkan. Kartini tidak pernah merencanakan dirinya menjadi pahlawan, bahkan dikenang dalam sejarah. Namanya harum, adalah sebuah ‘keberuntungan’ lintasan sejarah. Orang-orang butuh pahlawan sebagai ‘kiblat’ pemikiran dan sepak terjang. Salah satu syarat sejarah adalah sebuah bukti. Dan Kartini meninggalkan sebuah bukti pemikiran-pemikiran visioner dalam bentuk tulisan. Barangkali, Kartini pun tidak penah menyangka, akan ada seseorang yang membukukannya.
Tidak mudah berpikir anti mainstream di tengah budaya yang membelenggu. Saat seluruh kehidupan terjajah, maka kehidupan pikiran yang merdeka begitu istimewa. Tak ada yang paling menyedihkan, saat semua dirampas….dan pikiran pun dirampas pula.
Saya ingin menaruh hormat kepada Kartini. Seperti saya ingin menaruh hormat yang dalam kepada Dewi Sartika, Laksamana Malahayati, Rohana Kudus, Nyi Ageng Serang, Aisyiah, Rasuna Said, Tjut Nyak Dien, dsb.
Saya percaya, banyak perempuan-perempuan Indonesia lain yang luput dalam catatan sejarah, namun Semesta telah mencatatnya. Buya Hamka berkata, “Orang besar belum tentu terkenal. Orang terkenal belum tentu besar”.
Kini saya hanya berpikir, saya hanya ingin menggugat diri sendiri,

yang belum memberi jejak apa-apa, dan memberi yang terbaik dalam kehidupan ini.
Selamat Hari Kartini
______

*) Posting ulang.

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..