Menguak Alasan Yuridis Rukyatul Hilal bil Fi’li aw Istikmal li Nahdlatil Ulama

Oleh: agus salim thoyib (Pengelola jagatngopi.com)

 

Hari ini sabtu (24/6/2017), tepat tanggal 29 Ramadhan 1438 H para ahli rukyat akan melakukan kerja saint yang sangat berharga dan ditunggu-tunggu jutaan umat Islam dibelahan dunia, khususnya Indonesia. Para ahli rukyat akan di(terjun)kan baik atasnama pribadi maupun untuk mewakili berbagai institusi baik pemerintah (baca: Kementerian Agama), pegiat astronomi, para ahli hisab dan rukyat maupun dari berbagai ormas yang menggunakan rukyatul hilal bil fi’li sebagai system pengambilan keputusan akhir untuk menentukan awal bulan. Seperti halnya Nahdlatul Ulama yang secara concern-sustainable menggunakan metode rukyatul hilal bil fi’li dan Istikmal sebagai pijakan akhir, berdasarkan informasi yang penulis dapat akan menerjukan para kyainya untuk rukyatul hilalbil fi’li di lokasi-lokasi yang ditentukan. Kalau toh NU menggunakan hisab, fungsionalisasinya sebatas rujukan awal dan atau membantu pelaksanaan rukyatul bil fi’li (lihat keputusan Muktamar ke 27/1984 dan Munas Alim Ulama NU 1987 tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah)

Seiring dengan prosesi rukyatul hilal bil fi’li dilaksanakan selepas ashar sampai dengan maghrib, kementerian agama sebagai waliyul amri akan melaksanakan sidang itsbat yang diikuti berbagai unsur seperti pegiat astronomi, pimpinan ormas-ormas Islam, dan pemangku kepentingan yang lain yang aktivitasnya bersinggungan dengan keputusan-keputusan keagamaan, utamanya seputar hisab-rukyat. Pada tataran ini, mari kita percayakan kepada para ulama/kyai dan para ahli yang akan bersidang dan bersilat argumentasi demi kepentingan umat Islam. Dan untuk para peserta sidang penting disampaikan bahwa,  kami menaruh hormat yang tinggi, karena dengan kesepakatan (penentuan hari raya) mereka lah, umat Islam dengan penuh suka cita merayakan kemenangan dengan kembali suci (fitri; recovery) setelah satu bulan berpuasa dalam rangka membakar (ramadhan) orientasi hidup yang bersumbu pada pragmatism duniawi dengan harapan membuahkan kesalehan diri dan sosial (la’alakum tataqun).

Menyoal rukyatul hilal bil fi’li sebagai pengambilan keputusan akhir Nahdlatul Ulama dalam penentuan awal bulan, ke depan -–menurut hemat penulis—akan mengalami problem serius, utamanya menyangkut, pertama kekaderan, dan kedua ideologisasi sebagai dampak lanjutan problem kekaderan. Kedua problem serius tersebut tidak bisa lepas dari aspek berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin masif dan menyajikan sesuatu yang serba instan. Sajian Ilmu Pengetahuan khususnya Astronomi yang mampu mengakses pergantian awal bulan secara cepat secara nalar (aqliyah) dimungkinkan sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan warga NU tentang penentuan awal bulan, bahkan pada tingkat lanjut, akan mencoba membanding-bandingkan antar metode penentuan awal bulan, dan lagi-lagi mendasarkan dan atau atas nama efektivitas. Dalam konteks inilah pelemahan atas ideologisasi (baca: loyalitas) ber-rukyat akan tergerus secara perlahan. Padahal penentuan metodologi Hisab dan rukyah oleh Nahdlatul Ulama tidak sekedar bertolak dari pengejawentahan penalaran (litta’aqul) tetapi lebih dari itu bagaimana penalaran tetap bertumpu pada kekuasaan illahy (litta’abud; peribadahan).

Dalam satu kesempatan penulis pernah membincang tentang ihwal Hisab dan Rukyat dengan seseorang, dan pada satu segmen penulis terperangah dan tidak bisa menjawab ketika ditanya. Lalu kenapa Nabi Muhammad menyuruh berpuasa dengan melihat hilal? Saya yakin ke depan ada sesuatu yang akan terjadi tentang kenapa kita harus rukyat? Pada dataran inilah dan pertanyaan kolega penulis tersebut menurut hemat penulis, mengingat kembali apa alasan yuridis NU menggunakan rukyatul hilal bil fi’li dan istikmal  sebagai penentuan awal bulan menjadi penting untuk terus diinformasikan.

Pengertian rukyat adalah kegiatan melihat hilal baik tanpa alat maupun dengan alat atau sering disebut dengan rukyatul hilal bil fi’li. Sedangkan Istikmal sendiri lebih pada akibat yang mengiringi proses rukyatul hilal yang jika tidak berhasil maka jumlah hari disempurnakan (digenapkan). Pengertian tersebut mengacu beberapa hadits shohih dan pendapat para ulama. Banyak hadits yang menyitir tentang kegiatan rukyatul Hilal antara lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: “Berpuasalah kalian karena melihat (rukyat) hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Maka jika tertutup awan bagi kalian,maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh (hari)”. Senada dengan Imam Bukhori, Imam Muslim pun meriwayatkan hadits yang sama, di mana Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa dan berbuka karena melihat hilal atau istikmal. Dalam hadits lain dengan matan yang berbeda disebutkan “Janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal dan janganlah kalian berbuka sebelum melihatnya. Maka jika ia tertutup awan bagi kalian, maka perkirakanlah ia”. 

Syekh Abdul Rahman bin Muhammad ‘Awad Aljaziri dalam karyanya Al-Fiqh alal Madzahibil Arba’ah menyebutkan bahwa para Imam madzhab empat bersepakat bahwa penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal ditetapkan melalui Rukyatul hilal atau Istikmal. Dinyatakan di kitab tersebut, bahwa tidak perlu diperhatikan apa yang dikatakan ahli astronomi. Tidak wajib bagi mereka berpuasa berdasarkan hisabnya, dan juga bagi orang yang mempercayai perkataannya, karena pembuat syariat (Allah) menggantungkan puasa pada tanda yang tetap dan tidak berubah sama sekali, yaitu Rukyatul hilal atau menyempurnakan bilangan tiga puluh hari. Dalam keterangan berikutnya, disebutkan pula bahwa hukum daripada rukyatul hilal adalah fardhu kifayah.

“Diwajibkan bagi kaum muslimin sebagai fardhu kifayah untuk mencari (melihat) hilal pada saat terbenamnya matahari tanggal 29 Sya’ban dan Ramadhan sehingga jelas masalah berpuasa dan berbuka mereka” (lihat Alfiqh alal madzahibil Arba’ah, I, hal;551)

Pendapat Madzhab empat tersebut selanjutnya diikuti oleh para ulama generasi setelahnya, seperti Imam Ibn Hajar yang menyebutkan di kitabnya Tuhfatul Muhtaj dan Imam Ramli di kitabnya Nihayatul Muhtaj. Imam Nawawi sendiri sebagai ulama yang pendapat-pendapatnya banyak menjadi rujukan warga Nahdlatul Ulama menyatakan “wa la yajibu shaumu romadhana illa birru’yatil hilali fain humma alihim wajaba an yastakmilu sya’bana : Tidak wajib puasa Ramadhan kecuali karena rukyatul hilal. Maka apabila hilal tertutup bagi mereka wajib menyempurnakan (istikmal)”.

Demikianlah sekelumit landasan yuridis, kenapa Nahdlatul Ulama secara concern-sustainable menggunakan Rukyatul Bil bi Fi’li atau Istikmal sebagai pengambilan keputusan akhir menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Akhirul Kalam, tulisan ini bukan kemudian untuk membandingkan benar salah atas perbedaan metodologi hisab-rukyat yang berkembang, tapi lebih pada menguak dan mengeksplorasi Ilmu pengetahuan, karena disitulah kita memapas dan mengupas serta mengagungkan ayat-ayat (kekuasaan) Tuhan untuk meningkatkan derajat ketakwaan. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, 1 Syawal 1438 H. Wallahu a’lam bishshawab.

Foto: Penulis dengan KH. Ghazalie Masroerie (Ketua Lajnah Falakiyah PBNU)