Mengukir Jejak Sebuah Perjalanan Pengabdian Sang Demokrat

Jakarta, (18/04/2017) – Perjalanan pengabdian Partai Demokrat masih panjang, Demokrat akan terus belajar dan berbenah diri, Demokrat harus kontributif terhadap negara dan harus semakin dekat dengan rakyat. Demikian Ketua Umum Partai Demokrat Prof. Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato politiknya saat Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat Februari 2017 lalu dengan judul INDONESIA UNTUK SEMUA. 

Potongan Pidato itu kembali membuka catatan ingatan saya tentang kalimat-kalimat penting yang selalu saya rekam dalam catatan hati saya setiap kali SBY berbicara, diskusi, atau menyampaikan pesan-pesan politik serta nasehat kebangsaan sebagai seorang negarawan baik secara langsung maupun ketika dalam sebuah acara politik. Tadi malam, dihadapan para peserta Bimtek orientasi dan Pendalaman Tugas Anggota FPD Seluruh Indonesia gelombang ke 7 Angkatan ke 10,11 dan 12 yang dibuka resmi oleh Sekjen Partai Demokrat setelah sebelumnya didahului sambutan oleh Ketua Panitia  Iwan Rinaldo Syarif, kalimat potongan Pidato itu terngiang deras ditelinga sebagai pesan moral kepada seluruh Kader Partai Demokrat dan khususnya para peserta Bimtek kali ini. Ada pesan terucap tentang bagaimana, apa dan kemana arah Partai akan berjalan sehingga para kader bisa lebih mantap dalam mengukir jejak pengabdian bersama Partai Demokrat.

Sebuah tulisan dinding di Auditorium Wisma Proklamasi yang menjadi tempat pembukaan resmi Bimtek tersebut juga menarik perhatian saya, meski mungkin luput dari perhatian banyak orang. If men were angel, no government would be neccesary. terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini : Jika manusia (Kita) adalah malaikat, maka pemerintah tidaklah diperlukan. Sebuah kalimat pendek yang sarat makna oleh James Madison. James Madison adalah bapak Pendiri Amerika, Presiden Amerika Serikat ke 4 yang memimpin 2 Periode pada tahun 1809 – 1817, seorang Republiken-Demokrat. 

Pertanyaannya, mengapa tulisan itu harus ada di dinding Auditorium Wisma Proklamasi Gedung DPP Partai Demokrat? Kalimat itu sarat makna bagi setiap orang terutama Kader Demokrat. Bahwa ternyata kita bukanlah malaikat, maka atas itu semua Kader Demokrat harus terus belajar dan terus berbenah sebagaimana pesan pidato politik SBY yang saya kutip diatas. Belajar untuk menjadi negarawan yang hanya memikirkan pengabdian pada bangsa dan negara. Belajar mengukir jejak hidup dan meninggalkan jejak pengabdian yang bersih dan kehidupan religi yang baik. Berbenah diri untuk menjadi pemimpin negara dalam mewujudkan cita-cita Demokrat yang selaras dengan cita-cita kemerdekaan yaitu mewujudkan masyarakat yang makmur, sejahtera, berkeadilan, berbineka dan bebas dari tekanan kehidupan. Karena hanya pemerintah yang berkarakter pemimpinlah semua cita-cita itu bisa diwujudkan, pemerintah yang berjiwa negarawan, bukan pemerintah yang berkarakter gaya penguasa. Maka untuk itulah Demokrat akan melahirkan para negarawan bukan hanya sekedar politisi.

Demokrat ingin melahirkan para kader yang menjadi negarawan, karena Partai ini adalah Partai yang di lahirkan bukan untuk kepentingan pribadi, namun di lahirkan untuk menjadi wadah besar sebagai partai besar untuk mengukir jejak pengabdian para negarawan, sehingga semua mulut dan lidah akan bangga mengucapkan : SAYA DEMOKRAT sebagaimana pesan semangat yang disampaikan Sekjen Demokrat DR Hinca Panjaitan. 

Adakah kita yang tidak bangga berada dibawah payungan seorang dan dekapan penuh kasih seorang ibu? Adakah kita akan berani mengabaikan seorang ibu yang membesarkan kita? Hanya Malin Kundang lah yang berani seperti itu dan kemudian berakhir tragis karena di kutuk sang ibu menjadi batu. Partai Demokrat adalah ibu bagi semua kader. Partai Demokrat adalah ibu yang akan merawat, memayungi dan mendekap kadernya dengan kasih sayang supaya menjadi kader negarawan yang mengabdi hanya kepada bangsa dan negara, berbakti kepada Partai dan mendengar panggilan dengan iklas. Itulah seharusnya kita, kita adalah anak yang dirawat dan dibesarkan ibu bernama Partai Demokrat. 

Kembali kepada para kader partai anggota FPD yang tadi malam resmi mengikuti Bimtek dari Partai. Kita semua sedang mengukir jejak perjalanan pengabdian. Meninggalkan kampung halaman dan sanak keluarga untuk sebuah jejak pengabdian. Itu bukan pengorbanan kecil, namun disitulah letak jiwa semangat kecintaan pada Partai, kecintaan pada bangsa dan negara karena pengabdian yang bersih akan mengukir nama kita semua dalam kenangan sejarah bangsa, BAHWA DEMOKRAT MENGUKIR JEJAK PENGABDIAN KEPADA BANGSA DAN KITA SEMUA BANGGA MENYATAKAN SAYA DEMOKRAT. 

Harapan besar Partai ini ada dipundak para kader, diletakkan di bahu para kader. Maka itu, adalah kewajiban bagi kita untuk terus mengukir jejak pengabdian, menorehkan catatan sejarah, bahwa Demokrat hadir untuk rakyat, menjadi solusi untuk rakyat, lebih perduli kepada rakyat, melayani rakyat sebagai pemimpin yang melayani, memayungi rakyat dari panas terik dan hujan serta membirukan (membuat bahagia) hati rakyat supaya rakyat merasakan mereka tidak sendirian, bahwa ada Demokrat yang perduli dan memberi solusi. 

Jayalah Demokrat..!! Demokrat akan hadir disetiap jengkal ibu pertiwi, Demokrat tidak akan membiarkan merah putih berkibar sendirian, dimana Merah Putih berkibar, maka disitu Panji Demokrat harus berkibar mengawal Merah Putih..!!

Jakarta, 18 April 2017

Oleh  : Ferdinand Hutahaean
Komunikator Partai Demokrat