Menulis adalah Melawan!

“Kata-kata merupakan peluru peradaban,” demikian asumsiku saat memahami kalau di era digital ini tidak lagi perang dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan kata-kata. Baik berbicara atau menulis. Keduanya, menurutku, serupa tapi tak sama.

Karenanya, saya tak ingin tidak menguasai keduanya. Semangat dan faktor pendukung dari berbagai pihak, menjadi pemicu untuk terus mengembangkan kata-kata. Kini, saya punya asumsi bahwa menulis adalah melawan.

Terkait aksi berturut-turut yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Unisma Bekasi (Amunisi), saya lebih memilih untuk berperan menjadi pencatat adegan. Perlawanan, bagiku, harus dimulai dengan kata-kata. Kalau tidak, resiko terbesar yang harus diterima adalah penindasan yang tak berkesudahan.

Kalau pun melawan, tapi dengan tanpa kata-kata atau tulisan, akan jauh dari kemenangan yang akan diraih. Sebab dengan menulis, ribuan kepala akan terbius sehingga gelombang massa kian bertambah. Atau setidaknya, semakin menciptakan kepercayaan diri terhadap perlawanan yang sedang dilakukan.

Tulisanku terkait Rektorat Unisma Bekasi yang diduga korupsi dan institusi pendidikan yang berubah fungsi menjadi badan usaha untuk melakukan bisnis, dikomentari banyak orang. Tentu, pro-kontra. Sebagian besar mendukung, tapi tak jarang yang mencibir. Itu sudah biasa. Wajar.

Namun satu hal yang mesti diketahui adalah, tulisanku sesuai data dan fakta. Saya siap mempertanggungjawabkan. Bahkan saya akan menerima dengan senang hati, kalau suatu saat dituntut ke ranah hukum. Apa yang harus ditakuti? Kalau cahaya kebenaran sudah direngkuh, kezaliman pasti sirna. Begitu prinsipku.

Saya tidak lagi takut diancam Drop Out (DO) atau mendapat nilai akademik yang buruk. Karena, selama ini, nilai akademik saya baik. Dan, untuk DO perlu proses yang panjang. Ancaman demi ancaman selalu saja menghampiri siapa saja yang sedang dalam proses perjuangan. Sebagaimana Satuan Pengamanan (Satpam) Unisma Bekasi yang diancam pemutusan kontrak kerja kalau ketahuan bergaul dengan mahasiswa.

Jancuk memang. Tapi begitulah orang-orang picik bekerja. Hanya bisa mengancam. Selain itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Jajaran rektorat dan bahkan kampus tidak memiliki apa-apa kalau tanpa peran Satpam. Sayangnya, kaum sumbu pendek memang tak mampu berpikir jernih.

Begitu pun terkait kebijakan yang tanpa melibatkan mahasiswa. Mereka tentu khawatir proyeknya gagal kalau berunding sebelum mengeluarkan kebijakan. Padahal, mereka bukan apa-apa tanpa mahasiswa. Lucunya, mahasiswa tak pernah terlibat dalam proses. Barangkali jajaran rektorat tidak belajar nilai-nilai Pancasila. Yakni, musyawarah mufakat dan gotong-royong.

Kurang lebih, seperti itulah kerja orang-orang yang di otaknya hanya terdapat uang dan harta berlimpah. Sehingga, kampus tidak lagi menjadi institusi pendidikan melainkan ladang bisnis yang dapat memperkaya diri dan golongan. Lucu, kan?

Sementara itu, lahan parkir baru sungguh memberatkan mahasiswa yang berperan aktif dalam organisasi. Padahal, pusat organisasi terletak di belakang kampus. Mulai Senin (18/9), tidak boleh lagi ada motor yang bisa menerabas hingga ke sekretariat organisasi. Lucu. Singkatnya, Unisma Bekasi sedang melakukan proses pembunuhan dan pembusukan organisasi.

Rektorat tak pernah berpikir panjang, yang penting proyeknya berjalan. Soal ditolak, pembenaran dan pembelaan akan dilancarkan di kemudian hari. Lagi, begitu kaum sumbu pendek bekerja. Tidak dengan hati yang bersih dan akal yang sehat. Padahal, ada embel-embel agama pada nama Unisma Bekasi.

Kini, rektorat Unisma Bekasi seperti menjual dan mengatasnamakan agama agar menarik minat calon mahasiswa. Namun sesungguhnya, perilaku mereka sangat jauh dari karakter keislaman. Lebih jauh, mereka adalah sebenar-benarnya penista agama.

Kepada siapa saja yang tidak terima dengan tulisan saya silakan atur jadwal untuk berdiskusi. Kapan pun saya siap. Juga kepada seluruh pejabat kampus. Pun demikian. Pertanyaannya, kalau tidak senang disebut sumbu pendek dan penista agama, kenapa tidak pernah melibatkan mahasiswa dalam proses menentukan atau mengeluarkan kebijakan baru?

Saya tegaskan, saya berdiri di atas dua kaki. Kaki kanan untuk berteman, sedangkan yang kiri untuk melawan. Musuh terbesar saya adalah orang-orang jahat. Akan tetapi, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan, di dunia ini tidak ada orang jahat. Melainkan orang-orang yang sedang dalam proses menuju kebaikan.

Karenanya, saya tidak pernah punya musuh. Kalau pun ada yang merasa bermusuhan dengan saya, itu hal lain. Masih bisa didiskusikan. Saya siap menerima segala resiko atas tulisan ini. Karena menulis adalah melawan!

Aru Elgete
(Mahasiswa aktif Unisma Bekasi)
Desa Sirnabaya, Kabupaten Karawang, 20 September 2017.

 

Aru Elgete

Aru Elgete

Pecandu nona manis si penikmat kopi pahit. ☕

One thought on “Menulis adalah Melawan!

Tulis tanggapan anda:

%d bloggers like this: