Menulis dianggap Tidak Beretika?

Menulis adalah proses transformasi gagasan ke dalam bentuk kalimat yang tersusun rapi. Sementara gagasan akan terkonstruksi dari segala hal yang telah dilihat, dirasa, dan didengar. Singkatnya, menulis merupakan kegiatan pemindahan teks yang dilakukan setelah berhadapan dengan kenyataan. Lebih jauh, sebenarnya menulis adalah proses yang diciptakan dengan jujur dan benar.

Siapa pun bisa menulis. Status di media sosial, misalnya. Si pemilik akun dapat menulis karena telah atau sedang merasa, melihat, dan mendengar sesuatu. Pemrosesan itulah yang nantinya akan berubah menjadi tulisan. Jadi, menulis adalah sebuah pengabaran yang tercipta bukan karena kebohongan. Ia jujur. Begitu pun halnya seorang penulis fiksi. Ia jujur terhadap segala sesuatu yang telah dialami oleh pikirannya. Dan, tidak mungkin pikiran atau otak berproses tanpa sebuah pencapaian yang telah diinderakan.

Gagasan serupa peluru. Sementara tulisan seperti senjata. Dengan memfungsikan keduanya secara baik dan benar, maka akan menciptakan kegaduhan rasa bagi sasaran tembak atau musuh. Terlebih kalau dalam tulisan dimaktubkan fakta-fakta yang membongkar ketersembunyian sesuatu. Musuh akan bergetar hebat. Bahkan, menebar kebencian sana-sini. Mengintimidasi dan segala hal yang bisa dihalalkan, ia halalkan.

Setiap orang bisa menulis. Namun hanya beberapa yang dapat menulis dengan tepat. Menulis dengan disesuaikan pada kenyataan. Menyusun kalimat dengan rapi. Memadukan etika dan estetika. Sebab, tidak sembarang manusia bisa menulis. Terlebih yang sifatnya menghantam, menyerang, dan memerangi musuh yang berbuat kejahatan. Satu hal yang perlu diketahui seorang penulis adalah bahwa teks itu sifatnya multitafsir. Ia harus membatasi makna. Jangan biarkan kata-kata menjadi liar sehingga bias makna.

Seperti saya, misalnya. Beberapa hari lalu menulis dengan maksud ditujukan kepada Rektorat Universitas Islam “45” (Unisma) Bekasi. Saya menulis kata “Iblis” yang sebenarnya tidak dituju untuk manusia. Iblis disitu bermakna denotasi. Sayangnya, ditanggapi dengan serius yang tak berarah. Semua pihak yang merasa tersinggung bukan membalas tulisan dengan tulisan, tapi justru melakukan doktrinasi kepada mahasiswa baru bahwa saya tidak beretika. Saya mendapat laporan bahwa beberapa dosen menyisipkan obrolan soal itu.

Pertanyaannya, dengan tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, siapa yang tak beretika? Seorang yang menulis atau orang-orang yang membibir di belakang sana? Saya rasa, melawan tulisan dengan tulisan akan terlihat keren dan jauh lebih elegan ketimbang tulisan dilawan dengan cibiran, tebaran kebencian, dan kobaran api permusuhan. Sementara kita berada di ranah akademik yang sarat dengan tulis-menulis. Bagaimana?

Saya juga sudah lakukan pemaknaan yang detail terkait Iblis yang dimaksud. Silakan dibaca dalam tulisan berjudul “Iblis dan Kesalahpahaman Kata-kata”. Pemaknaan itu saya lakukan karena ketersinggungan beberapa pihak. Juga disebabkan karena tidak adanya tulisan balasan. Maka, saya merasa bertanggung jawab untuk memaknai “Iblis” yang dianggap diluncurkan kepada para pejabat kampus. Seperti ada yang aneh. Atau saya yang tidak bisa membedakan, barangkali. Apa bedanya tersinggung dengan kegeeran? Sementara saya sebagai penulis sama sekali tidak pernah melucurkan kata “Iblis” kepada rektorat yang terhormat.

Jadi, begini. Aksi yang dilancarkan Aliansi Mahasiswa Unisma Bekasi (Amunisi) akan terus dilancarkan sampai kebenaran terang-benderang. Jumat (22/9) pekan lalu, Amunisi melakukan audiensi dengan pihak rektorat. Namun sayang, belum sampai pada titik temu. Pihak rektorat masih berkelit soal transparansi anggaran yang benar-benar rinci dan detail. Mereka meminta waktu lagi hingga Senin (25/9).

Satu hal yang menjadi pertanyaan bagi aktivis mahasiswa Unisma Bekasi adalah, kenapa pihak rektorat mengulur-ulur waktu? Mungkinkah ini cara mereka untuk membuat barisan massa aksi kian menipis? Atau memang begitu strategi mereka agar borok tak terlihat? Entahlah. Sebab, soal transparansi anggaran adalah tuntutan pertama. Masih ada dua tuntutan lain yang masih saling berkait. Yakni, terkait fasilitas kampus dan soal mutu pendidikan atau kualitas tenaga pengajar.

Kepada kawan-kawan Amunisi, tetap semangat. Kuatkan barisan sekalipun di tiap-tiap kelas, dosen bergerilya. Menginstruksikan mahasiswa untuk langsung pulang usai kuliah sekaligus melarang mahasiswanya untuk masuk ke dalam barisan. Tetap tenang. Asalkan kaji sebelum aksi. Cahaya kebenaran akan segera memberangus kezaliman. Sementara Amunisi adalah pembawa cahaya itu. Jangan takut diredam. Karena ketika gerak diredam sama dengan memperpanjang usia perlawanan dan usia tulisan saya.

Sementara itu, kepada seluruh pihak yang tersinggung dengan tulisan saya dan masih menyebar kebencian serta menganggap saya tak beretika, silakan jadwalkan pertemuan. Atau mari kita mengkaji terlebih dulu, siapa yang tak beretika? Sebab menulis adalah proses penyampaian gagasan. Juga tidak mungkin tercipta gagasan tanpa ada yang dilihat, dirasa, dan didengar. Soal “Iblis”, itu hanya bentuk kegeeran saja. Masih bisa didiskusikan. Tak perlu membebek di depan mahasiswa baru.

 

Salam takzim untuk Rektorat Unisma Bekasi yang terhormat dan termulia.

Aru Elgete
Bekasi Utara, 25 September 2017

 

Aru Elgete

Aru Elgete

Pecandu nona manis si penikmat kopi pahit. ☕

Tulis tanggapan anda: