Menyikapi Pemberitaan Medsos (Tinjuan Kaidah Ushul Fiqh)

Oleh: Matin Syarkowi

(Ketua PCNU Kota Serang)

 

Perkembangan teknologi sekaligus kebebasan dunia informasi tentulah ada nilai positif dan negatifnya. Nilai positif akan membawa kemashlahatan setidaknya dapat menjadi alat kontrol bagi transparansi dan akuntabilitas publik. Hal-hal yang positif tentulah harus tetap dijaga dan diperkuat. Untuk menjaganya maka perangkat aturan yang ketat, yaitu aturan yang tidak hanya melingkar dalam konteks kebebasan press dengan diberikanya hak “somasi” tetapi wajib diatur secara ketat pertanggungjawaban dari kebenaran sebuah berita.

Maraknya pemberitaan di Medsos sisi positifnya salah satunya masyarakat begitu cepat dapat membaca suatu peristiwa. Tetapi tidak jarang juga medsos menjadi sarana “cuci otak” yang mengarah pada fitnah dan adu domba akibat dari pemberitaan Medsos yang tidak bertanggungjawab. 

Sebetulnya tidaklah sulit mengantisipasi pemberitaan Medos jika orang yang membaca medsos memahami tentang makna berita dan medaos itu sendiri. Untuk memahaminya sangatlah sederhana (untuk memperkuat fatwa dalam implementasinya, karena fatwa itu tidak dan bukanlah keputusan yang mengikat).

Pengertian “berita” dan Medsos

Masyarakat yang biasa membaca berita, baik dari media cetak, elektronik termasuk di dalamnya medsos hendaknyalah memahami terlebih dahulu pengertian berita dan Medsos. Dengan memahami pengertian tersebut diharapkan para pembaca berita dari manapun dan dalam bentuk apapun dapat mensikapi secara bijam.

Berita dalam bahasa arab adalah خبر (khabar). Jika diverbalkan maka disebut Kalam Khobariy. Dalam ketentuan kaidah bahasa Kalam Khobari itu mengandung unsur benar dan tidak benar. Perpaduan dua unsur antara “benar” dan “tidak benar” melahirkan “keraguan” (شك ). Karena itu setiap berita tidak bisa pembaca/penerima berita langsung mengambil kesimpulan membenarkan atau tidak membenarkan (كلام الخبري يحتمل الصدق والكذب، اذاحتمل الصدق والكذب هو الشك، الشك لا يعتبر في كل امر عبادة كان او معاملة)

Kaitanya dengan Medos atau apapun seperti Media Cetak atau Elektronik, adalah “alat” (الات خبري) yang kaidah itu menyertai di dalamnya. Karena itu jika pembaca/penerima berita hendak menyimpulkan, maka diperlukan usaha klarifikasi atau cek and ricek (Tabayyun). Mengkroscek berita itu penting agar tidak terjebak pada sesuatu yng hoax. 

Tentunya kita bukanlah orang yang ingin termasuk golongan ahli dan penebar fitnah, maka kaidah tentang kalam khobariy harus menjadi pedoman sebelum kita membaca/menerima berita. Tabayun itu menjadi keharusan untuk terhindar dari jebakan Namimah dan gibah dari berita yang tidak benar.

Wallahu’alamu Bishowab

Tulis tanggapan anda: