Muhasabah Kebangsaan: BEDUG MAGHRIB DAN NASIB RAKYAT

Oleh: Al-Zastrouw

 

Ramadhan telah berlalu, meninggalkan kita semua tanpa kompromi. Hiruk pikuk Ramadhan dengan segala berkah, ampunan dan berbagai pernik ritual peribadatan seolah berakhir dg datangnya hari kemenangan, Idul Fitri.

Setelah Idul Futri datang semua kembali normal. Tak ada lagi sholat taraweh, buka bersama, sahur dan ngabuburit. 

Selama Ramadhan acr faforit yg paling ditunggu semua orang adalah bedug maghrib.  Bedug maghrib menjadi sesuatu yang fenomenal dan monumenta, karena kehadirannya sangat , diperhatikan dan dibutuhkan. Semua org menunggunya seperti menunggu kekasih yg sangat dirindukannya

Saat wkt maghrib datang seluruh ummat Islam menyambutnya dengan suka cita. Seperti anak kecil menyambut mainan kesayangan yg baru ditemukan. Semua pekerjaan ditinggalkan, semua kesibukan berhenti unt menyambut adzan maghrib dg berbuka puasa. Apa yg terjadi menunjukkan batapa dinantikan kehadiran bedug maghrib di bulan Ramadhan.

Posisi bedug maghrib di bulan Ramadhan sama dengan posisi rakyat di hadapan politisi saat menjelang Pemilu atau Pilkada (pemilihan).

Jelang pemilihan rakyat menjadi primadona. Mereka didekati, dirayu unt diharap dukungannya. Demi memperoleh simpati rakyat, para politisi rela melakukan apapun. Mereka rela menunggui rakyat dengan penuh perhatian seperti orang berpuasa menunggu maghrib. Posisi rakyat jelang pemilihan sangat mulia dan berharga, krn semua membutuhkannya. Ini persis spt posisi bedug maghrib saat Ramadhan

Bagi politisi busuk, perhatìan pd rakyat akan berhenti sampai masa pemilihan. Pasca Pemilihan dan mrk berhasil memperoleh kemenangan semua akan dilupakan. Tak ada lagi perhatian dan kepedulian pada rakyat harena hal itu sdh dilakukan saat menjelang pemilihan. Bagi politisi busuk berpolitik dan memperhatikan rakyat hanya sebagai sarana unt memenuhi nafsu kekuasaan semata.

Orang yg berpuasa hanya untuk memenuhi tuntutan melampiaskan nafsu semata tdk ada bedanya dengan politisi busuk. Mereka menunggu  bedug maghrib dengan penuh perhatian hanya pada saat Ramadhan, sbg momentum melepas nafsu. Setelah Ramadhan mereka tdk peduli lagi pd adzan Maghrib. Seperti politisi busuk yg tdk mempedulikan rakyat setelah berkuasa. Mrk mabuk kemenangan di hari Lebaran spt politisi busuk mabuk kemenangan pasca pemilihan

Hal spt ini tdk mungkin terjadi pd politisi idealis-moralis. Politisi spt ini akan terus memperhatikan nasib rakyat meski masa pemilihan sdh usai dan memperoleh kemenangan. Krn bagi mrk berpolitik adalah perjuangan dan pengabdian unt membela kepentingan rakyat dan mewujudkan kemaslahatan ummat.

Sikap yg sama juga akan dilakukan oleh org2 yg berpuasa sbg sarana beribadah dan pendidikan mengendalikan nafsu. Org seperti ini akan terus memperhatikan keberadaan adzan maghrib, terus bertadarrus, qiyamul lail dan bersedekah meski ramadhan telah lewat. Mrk tdk mabuk kemenangan di hari lebaran spt politisi idealis yg tdk mabuk kemenangan pasca pemilihan.

Kini Ramadhan tlh berlalu, saatnya merenung dan bercermin, kita masuk golongan yang mana. Golongan yg kembali mengabaikan bedug maghrib pasca Ramadhan, atau masuk dalam kelompok org2 yg tetep memperhatikan dan menunggu bedug maghrib spt meski Ramadhan telah berlalu

Orang2 yg mengabaikan bedug maghrib pasca Ramadhan maka sesungguhnya sikap mrk tdk jauh berbeda dengan politisi busuk yg mengabaikan rakyat setelah berhasil memperoleh kemenangan pasca pemilihan

Dalam suasana Idul Fitri ada baiknya kita berdoa spy diberi kekuatan unt tetap istiqamah mengendalikan nafsu. Tetap semangat menunggu bedug maghrib spt saat Ramadhan. Agar nasib bedug maghrib tdk spt nasib rakyat di hadapan politisi busuk. Ditunggu dan diperhatikan saat dibutuhkan. Dilupakan dan diabaikan setelah memperoleh kemenangan.