Muhasabah kebangsaan (Catatan the 2nd Nanchong International Puppet Art Week #2)

 

SENI: BAHASA HATI YANG UNIVERSAL

Oleh: Al-Zastrouw

 

Upacara pembukaan the 2th Nanchong International Puppet Art Week berlangsung sangat meriah dan mewah. Ratusan seniman dilibatkan dalam even kebudayaan bertaraf internasional ini. Para pejabat setempat datang secara antusias dan memberi support penuh baik secara moral maupun material.

Dalam upacara pembukaan, China menampilakan opera puppet kolosal, semacam wayang orang yang mengisahkan perjalanan seorang Jendral China menempuh jalur sutra menuju Romawi. Perjalanan sang Jendral didampingi oleh seorang pedagang dari Arab. Ada kisah heroisme, rantisme dan nasionalisme dalam pagelaran ini.

Sejak dibuka pada Kamis malam, 1 Juni, waktu Nanchong, para seniman  wayang (puppet) dari seluruh dunia langsung melakukan perform di beberapan pangung yang sudah disediakan panitia. Ada 20an negara yang ikut jadi peserta dan tampil dalam pegelaran ini.

Penulis sempat menyaksikan delegasi Mesir yang menampilkan seni tradisional puppet dikolaborasikan  dengan qasidah dan tari sufi. Kontingen UNIMA Indonesia menampilkan wayang golek “Giri Komara” dengan dalang Apep Hudaya. 

Yang menarik, dalam event ini, semua peserta dan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia dengan latar belakang yang berbeda berbaur dan berinteraksi bersama dengan penuh suka cita.  Sekat-sekat etnis, bahasa, status sosial bahkan ideologi dan agama hilang, lebur dalam suasana kebersamaan. Semua berbabagia dalam rajutan seni budaya yang penuh dengan nuansa keindahan.

Apa yang terjadi menunjukkkan bahwa seni merupakan bahasa hati yang universal. Dia tidak bisa dilapahami secara verbal dan rasional tapi bisa dirasakan getarannya sampai ke hati dan jiwa. Getaran estetik seni yg menyentuh jiwa inilah yang menyatukan berbagai perbedaan sekalipun masing-masing tidak paham dengan bahasa yang diucapkan. Itulah kehebatan dan kekuatan seni.

Dari sini saya bisa memahami kenapa para sufi lebih tertarik menggunakan seni untuk mengekspresikan spirit religiusitas dan jalan mendekati Tuhan. Ini terjadi karena seni lebih mampu menyentuh hati dan rasa batin manusia. Dengan kata lain seni adalah bahasa hati yg universal.

Memang tidak semua seni bisa mengarahkan jalan menuju Tuhan. Imam Ghozali membagi seni dalam lima katagori; pertama seni inderawi yang hanya menyentuh dimensi lahiriyah semata. Seni ini lebih bersifat sensual.

Kedua seni imajinatif atau emotif yaitu seni yang lebih menyentuh aspek-aspek emosional. Seni jenis ini juga bisa mengarahkan manusia menjauh manusia dari Tuhan. Ketiga seni yang terkait dengan keindahan aqliyah.

Keempat seni sebagai ekspresi keindahan ruhaniah yang oleh imam Ghozali disebut sebagai keindahan irfani. Kelima seni sebagai kindahan ilahiyah atau transenden. Kedua jenis keindahan terakhir yang dieksplorasi para sufi.

Bagi Imam Dzun Nun al-Myshri, apapun jenis seni, terutama seni musik, akan sangat tergantung pada manusia dalam menggunakan dan mensikapinya. Dalam hal ini dia menyatakan: “musik (seni) adalah pengaruh surga yang mendorong hati mencari Tuhan. Karenanya barang siapa yang mendengarkan musik (seni) secara ruhaniah maka (sesungguhnya) dia tengah mendekati Tuhan. Tapi barang siapa mendengarkan musik (menikmati seni) hanya unt sensasi maka ia termasuk org yg tdk beriman”.

Terlepas dari apapun jenis seni dan dimensi spiritualitas religius seni, yang jelas seni bisa menjadi sarana komunikasi yang efektif, yang mampu menyentuh semua lapisan dan menembus berbagai sekat perbedaan.

Seseorang bisa saja menikmati seni hanya sebatas lahiriah, sekedar mencari kesenangan batin. Meski demikian dia dapat berdekatan dengan mereka yang mendekati seni sebagai ekslresi dan laku sporitual religius. Inilah iniversalitas seni dalam kehidupan manusia.

Di tengah kegersangan hati dan jiwa bangsa Indonesia. di tengah maraknya sikap keberagamaan yang keras dan intoleran ada baiknya menggunakan seni dan budaya sebagai sarana menyampaikan dan mengajaran agama. Selain bisa melembutkan hati (layyinatil qulb), seni budaya juga bisa membuat manusia tetep bertahan menjadi manusia.

Dengan seni budaya nilai ilahiah dari agama yang abstrak dan universal akan lebih mudah diterima dan dirasakan oleh ummat manusia karena langsung menyentuh hati dan perasaan. Lewat seni budaya ajaran agama menjadi terlihat lebih indah dan lebih ramah. Pendeknya melalui seni dan budaya hubungan dengan sesama manusia dan antara Tuhan dengan manusia terasa lebih indah dan lebih menyenangkan.****

 

Nanchong, China 3.07.2017

 

Tulis tanggapan anda: