Muhasabah Kebangsaan KERIS EMPU GANDRING DAN KEBOIJO

Oleh : Al-Zastrlouw

Bermula dari sebilah keris sakti yg dibuat oleh Empu Gandring, tragedi perebutan kekuasaan yg merenggut korban jiwa itu terjadi. Korban pertama keris Empu Gandring ini adalah sang resi pembuat keris itu sendiri. Berturut-turut setelah itu adalah Tunggul Ametung, sang penguasa Tumapel, Kebo Ijo, dilanjutkan oleh Ken Arok dan anak cucunya; Anusopati, Toh Joyo, Ranggawuni yg semua mati di ujung keris Empu Gandring.

Sebenarnya bukan keris Empu gandring yg membunuh, tapi nafsu serakah dan ambisi kekuasaanlah yang menjadi pembunuh sesama manusia. Ambisi kekuasaan yg tdk terkendali telah mengubah mamusia menjadi pembunuh dg menggunakan segala cara dan keris Empu Gandring hanya menjadi alat untuk membunuh dan menyingkirkan sesama demi kekuasaan.

Diantara korban keris Empu Gandring yg paling tragis adalah Keboijo. Dia sebenarnya bukan seorang ambisius yg haus kekuasaan. Dia hanya prajurit rendahan yg pingin eksis dan terlihat hebat di depan publik. Untuk itu dia memamerkan senjata hebat keris Empu Gandring milik Ken Arok itu di depan publik dan diakui sbg miliknya. Nafsu ingin populer telah membuat Keboijo lupa diri sehingga tanpa sadar dia telah terperangkap skenario licik yg mematikan dari Ken Arok yg haus kekuasaan.

Kerena sering dipamerkan di depan publik dan diakui sbg miliknya maka semua org berasumsi bahwa keris sakti Empu Gandring adalah milik Keboiijo. Ketika Ken Arok berhasil mencuri keris tersebut dari Keboijo dan digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung, maka semua org menuduh bahwa Keboijolah yg membunuhnya krn dialah yg memilki keris tersebut. Keboijo telah jadi korban fitnah akibat nafsu kekuasaan orang lain dan ambisi pribadi untuk populer di depan piblik.

Fenomena Keboijo dan keris Empu Gandring ini tampaknya terulang dlm realitas sosial politik kita saat ini. Keris Empu Gandring yg sakti dan mematikan itu telah bermetamorfosis menjadi “keris” Kanjeng Kyak Jihad,  Kanjeng Kyai Kafir, Kanjeng Kyai Munafiq dan sesat

“Keris” ini sedemikian sakti. Barangsiapa terkena “keris” kanjeng kyai jihad, kafir, sesat dan munafiq maka dia akan hancur kehidupannya, karier bisnis dan politiknya, keluarganya bahkan nyawanya. Inilah hebatnya “keris” ini.

Karena kesaktian keris ini, maka banyak “Keboijo” yang yg membawa dan memamerkan keris ini di depan publik agar mereka terlihat eksis, populer dan disegani. Dengan mudah mereka meneriakkan “jihad”, menuduh kafir, sesat dan munafiq pada sesama, agar gerlihat suci dan sholeh, seolah merekalah yg punya hak dan otoritas menggunakan kata tsb.

Sebagaimana layaknya Keboijo yg sdh merasa hebat dg dianggap memiliki keris Empu Ganding, orang2 yg pamer “keris” jihad, kafir, sesat dan munafiq itu juga merasa dirinya kebat dan paling benar di hadapan kelompok lain. Padahal sikap dan perasaan seperti inilah yang mudah membawa mereka terjebak dalam skenario licik Ken  Arok. 

Karena sering meneriakkan jihad dengan kekerasan dan teror, maka setiap muncul kekerasan dan teror, siapapun pelakunya , tudingan akan diarahkan pada mereka. Meski banyak orang melakukan tindakan radikal dan intoleran,  tapi label tsb akan tetap diberikan kepada mereka yg nyaring berteriak kafir, sesat dan munafiq pada sesama. 

Sulit bagi Keboijo menolak tudingan sbg pembunuh Tunggul Ametung ketika keris Empu Gandring yg diasumsikan sebagai miliknya itu menjadi barang bukti pembunuhan. Hal yg sama terjadi pada “Keboijo” masa kini yg sulit menolak label teroris, radikal, intoleran jika setiap hari mereka mereka pamer “keris” kanjeng kyai “jihad” yang sarat dg kekerasan dan teror, menebar issu SARA dg tuduhan kafir, sesat dan munafiq pada sesama. Sikap spt ini sama dengan Keboijo ketika pamer keris Empu Gandring di depan publik.

Ada baiknya kita menjadikan sejarah Keboijo sebagai pelajaran dalam menghadapi realitas kekinian. Keris Empu Gandring adalah senjata sakti yg dibuat oleh orang hebat berilmu tinggi. Keris ini mestinya digunakan untuk membela kebenaran agar bisa mewujudkan kemaslahatan. Tapi di tangan orang2 ambisius yg haus kekuasaan dan gila popularitas keris sakti itu justru menjadi sumber konflik dan bencana yg membinasakan diri mereka sendiri.

Jihad, kafir, sesat dan munafiq adalah kalimah suci yg kesaktian dan ketajamannya melebihi keris Empu Gandring. Oleh karenanya dia harus digunakan secara hati2. Ketika kata2 tsb digunakan oleh org2 alim yg arif maka akan bisa menjadi senjata untuk mewujjdkan kemaslahatan. Tetapi jika digunakan oleh org2 ambisius dan org2 bodoh yg gila popularitas maka dia akan menjadi sumber bencana dan konflik

Saya khawatir, org2 yg sedang teriak2 jihad dg kekerasan, menuduh kafir, sesat dan munafiq pada sesama adalah Keboijo yg sedang pamer keris sakti. Ini artinya mrk sdg masuk dalam perangkap dan siasat Ken Arok yg mematikan. Dan sekarang Ken Arok sedang menunggu momen melaksanakan ambisinya merebut kekuasaan dengan memanfaatkan kenaifan Keboijo yg lupa diri untuk dikorbankan. 

Ada baiknya para pemegang “keris” kanjeng kyai jihad, kafir, sesat dan munafiq besikap lbh hati2 dan arif dalam menggunakan “senjata” tsb agar tdk menjadi korban siasat licik dan dimanfaatkan oleh “Ken Arok”. Saatnya belajar pada sejarah
(Berniat umroh? Dapatkan info dari http://www.matratour.com

Tulis tanggapan anda: