Muhasabah Kebangsaan: MELEPAS BELENGGU SEJARAH (Belajar dari Ki Ageng Soerjomentaram)

Oleh: Al-Zastrouw

Melihat kondisi masyarakat yang terus gaduh dengan berbagai perdebatan tanpa ujung, terjebak dalam rasa saling curiga yang memunculkan fitnah, caci maki dan intrik, bisa dikatakan bahwa masyarakat sedang sakit dan terluka.

Dalam pemikiran Ki Ageng Soerjomentaram (KAS), kondisi ini mencerminkan masyarakat sedang mengalami roso tatu (rasa luka yang menumbuhkan kekecewaan berkelanjutan) dan roso ciloko peduwung (celaka berkelanjutan).

Munculnya kedua roso negatif ini bisa menyebabkan manusia terjebak pada neraka dunia yang bersumber dari empat hal yaitu meri (iri), pambegan (sombong), getun (kecewa pada kejadian yang telah terjadi) dan sumelang (was was pada masa depan yang belum terjadi)

Munculnya perdebatan sejarah yang terus berulang bisa dilihat sebagai bentuk iri, dendam dan kekecewaan pada masa lalu dan kegamangan menatap masa depan.

Sejarah memang perlu dikritisi karena sejarah bukan semata mata kronologi kejadian dan benda mati yang statis. Sejarah juga bisa dilihat sebagai ranah pertarungan (field of contestation) dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang dikonstruksikan melalui berbagai narasi. Seperti tercermin pada perdebatan di kalangan sejarawan pasca kemerdekaan yang terbelah antara Belanda-sentris dengan Indonesia-sentris. Juga perdebatan sejarah G30S/PKI yang terjadi akhir-akhir ini mengemuka.

Munculnya pertarungan makna dalam sejarah G30S/PKI bukanlah semata mata soal sejarah. Lebih dari itu ini adalah soal pertarungan kepentingan. Dalam konteks seperti ini sejarah tidak lagi berfungsi sebagai referensi hidup maupun sumber pengetahuan untuk menuju masa depan yang lebih baik. Sejarah di sini lebih berfungsi sebagai legitimasi untuk mempertahankan kepentingan. Di sini sejarah menjadi kehilangan makna dan fungsi normatifnya.

Jika demikian maka sejarah akan menjadi belenggu yang tidak saja menjerat manusia pada romantisme masa lalu yang membutakan pandangan terhadap masa depan tetapi juga bisa menumbuhkan fanatisme dan sentimen kelompok yang mudah memancing timbulnya konflik.

Menurut KAS ada dua hal yang bisa dilakukan untuk keluar dari belenggu kehidupan (sejarah) yang bisa membawa manusia masuk dalam neraka dunia dan berubah menjadi manusia bebas, damai dan bahagia.

Pertama, keluar dari lungkungan yang tidak sehat dan mengekang. Hal ini dilakukan KAS dengan cara keluar dari lingkungan istana yang menurutnya penuh dengan basa-basi dan topeng.

Sebagai anak ke 55 dari Sultan HB VII KAS memiliki privilege tinggal di keraton dengan segala penghormatan. Namun semua itu tidak membuatnya bahagia, dia justru merasa terasing karena merasa “ora tahu kepethuk uwong” (tak pernah bertemu orang).

Sembah rakyat dan para abdi justru membuat KAS terasa berada dalam jurang kesepian karena dia melihat yang mereka hadapi setiap hari bukan manusia tapi topeng-topeng yang menyembunyikan kepentingan dan robot-robot yang hanya menjalankan perintah.

Karena tak tahan oleh kenyataan yang membelenggu KAS keluar dari istana menjadi rakyat biasa, bertani dan menjadi kuli penggali sumur. Dalam suasana seperti ini KAS justru bisa bertemu manusia karena tak ada lagi topeng dan sekat yang menyembunyikan wajah dan warna hati manusia. Dengan demikian Dia bebas berfikir dan berkreasi sehingga mampu melahirkan gagasan-gagasan besar tentang manusia dan peradaban masa depan.

Kedua dengan cara memisahkan diri dengan perasaan. Artinya tidak hanyut dan larut dalam berbagai keinginan. Harus ada jarak antara aku (diri) dengan aku (atribut duniawi) yang termanifestasikan dalam semat (kekayaan), derajat (kedudukan) dan kramat (kekuasaan).

Seseorang yang dirinya masih terpaut dengan atribut duniawi dan menjadikan atribut sebagai bagian yang tak terpisah dengan diri, maka akan mudah sakit karena dihinggapi rasa tatu dan ciloko yang membawanya dalam neraka dunia. Sebaliknya, manusia yang mampu memisahkan diri dengan atribut dunia dia akan percaya diri, menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya sehingga mampu memandang dan menyusun masa depan dengan cemerlang dan kreatif.

Agar tidak terjebak pada dendam dan kekecewan sejarah masa lalu, ada baiknya kita belajar dari KAS untuk sejenak keluar menjaga jarak dari kubangan perdebatan agar bisa melihat mana manusia dan mana topeng. Dengan cara ini kita akan keluar dari belenggu sejarah dan menjadikan sejarah sebagai sumber mata air dan menunjuk arah menuju masa depan.

 

photo: 1001indonesia.net

Tulis tanggapan anda: