Ngopi sebagai Strategi Kebudayaan

Selepas subuh, seperti biasanya saya dan temen-temen (jamaah) ngopi di teras depan masjid at-Taqwa, Utan Kayu, pake gelas bekas air mineral yang dijual secara generik di kios-kios perempatan jalan utan kayu raya. Kok gak pake gelas kaca, atau cangkir seperti umumnya para penikmat kopi lain ?. Maklum, di masjid itu, tepatnya di gudang, gelas kaca jumlahnya tak seberapa, paling banyak lima buah, itu pun kadang entah di mana, karena seringnya para musafir pinjam –tentunya buat ngopi juga– taruh di sembarang tempat tidak dikembalikan ke tempat asalnya.  

Kebiasaan ngopi di pagi hari, kala itu, buat saya seperti keharusan yang mutlak. Kalau gak ngopi, ada sesuatu yang kurang, perasaan ada yang salah, gak “sreeg”, dan kondisi sepadan lainnya. Apalagi seorang “marbot tembakan” seperti saya. Kata tembakan untuk menunjukan bahwa bukan merbot aslinya, charlie kalau istilah supir taksinya, badal kalau bahasa santrinya. Hemat saya, minum kopi itu terasa lebih nikmat jika berkumpul dan bersama-sama. Bahkan untuk merasakan tegukan kopi, kalau kebetulan di masjid sepi, saya menyengaja jalan ke komunitas supir bajaj, untuk sekedar nongkrong dan berkumpul membincang pernak-pernik kehidupan sambil minum kopi. 

Deretan peristiwa itu berlangsung di tahun 1992, konon beberapa temen ngopi saya di masjid yang tergolong tua itu sudah kembali ke sang pencipta kopi yang sesungguhnya–Allahurabbi. Pendek kata, saya adalah penikmat  kopi hingga sekarang. Hatta di saat saya menulis artikel ini pun hidangan kopi bak dupa pemanggil dewa hayal-logika.

Menyoal kopi tidak lepas dari daerah semenanjung Arab, tepatnya Yaman. Karena, waqila, kata kopi derivasinya  berasal dari bahasa Arab yaitu kata qahwah dan kebanyakan tumbuh di daerah Yaman. kenyataan ini terus bergeser ke daerah Mesir, Makkah, Syiria dan Turky. Seiring dengan perkembangan zaman, kata qahwah mengalami transmorfologi sesuai dengan adaptasi daerah masing-masing. Orang-orang eropa menyebutnya dengan coffee dan Indonesia dengan kata kopi. Sejurus dengan itu mencul lah kata cafe. Maka tidak heran jika sering kita lihat dan dengar Kopi Arabika menjadi sajian di cafe-cafe di mana kita suka.

Minum kopi dengan cara yang benar akan meningkatkan suasana hati. Mungkin ini karena kandungan senyawa kafein yang dapat merangsang sirkulasi darah dan berujung pada ketenangan. Daily Mail pernah melansir bahwa wanita yang meminum kopi 4 cangkir sehari akan terhindar dari depresi.  Maka tak heran kalau beberapa literasi menyebutkan bahwa budaya minum kopi awal mulanya di nikmati para sufi, di mana orientasi ketenangan batin adalah sumber energi kehidupannya. 

Dewasa ini minum kopi –sebut saja ngopi– tak lagi di maknai sekedar menikmati cercahan dan cecapan pahit-legitnya kopi. Realitas sosial yang terus berkembang menggeser ngopi meretas batas-batas terminologi bak radikal bebas. Saya begitu sering bahkan mungkin Anda, membuka kata di wa (whats up), telpon, kirim e mail, atau jenis komunikasi lain dengan kata “mari ngopi”, “sudah ngopi pagi ini ?”, “sruput dulu kopinya kawan” dan kata lain yang semakna. Kalau ajakan tersebut  berbanding lurus dengan kenyataan bahwa kita sedang ngopi, no problemo. Persoalannya, tidak semua sesuai dengan kenyataan. Kalimat pembuka itu tidak lain sekedar “say hallo” atas sebuah keakraban. Di sini Ngopi lebih sebagai strategi kebudayaan !

Ngopi sebagai strategi kebudayaan juga bisa “jelentrehkan” pada tamsil atas  tokoh-tokoh dunia. Majalah ottencoffee menyebut, setidaknya lima tokoh dunia penggila kopi, yang karenanya (ngopi) mampu menghasilkan karya. Dengan menikmati kopi bersama proses diplomasi berlangsung sukses. Mereka adalah Ludwig van Beethoven, Benjamin Franklin, Voltaire, Soren Kierkegaard dan Teddy Roosevelt.

Satu contoh lagi, Bung Karno !. Betapa hari-harinya tidak lepas dari kopi. Sampai dalam satu cerita, konon sang istri, Inggit, harus cepat menghidangkan secangkir kopi manakala suara gebrakan meja forum diakusi menyoal kebangsan Bung Karno sudah mulai terdengar karena tidak adanya kopi. 

Menikmati kopi bagi Bung Karno adalah cara mengais inspirasi menyoal bangsa. Dan konon saat Soekarno bertemu dengan delegasi negara-negara sahabat yang penuh dengan hidangan wine, Soekarno justru lebih memilih kopi.

 

Sampai di sini, ngopi bukan lagi sekedar meneguk dan mencecap kopi dengan segala cita rasanya. Ngopi sudah “meliarkan” diri sebagai strategi kebudayaan.

 

Uupppzz…tinggal ampasnya kopiku.

 

agus salim thoyib

 

Tulis tanggapan anda: