Oemar Bakri in Love (cerber)

Matahari sebentar lagi terbit. Tapi, itu kian menyiksa batin saya. Gara-gara saya gagal menemui Ani dan melihat laki-laki lain yang menemaninya, saya jadi takut pada matahari terbit. Saya ingin tetap malam agar masih bisa tetap tidur. Saya tak perlu bangun dan tak perlu pergi ke sekolah sehingga saya tidak perlu bertemu dengan Ani. Saya mungkin salah seorang dari tiga laki-laki yang takut pada terbitnya sang fajar. Aneh, memang aneh, kenapa negeri ini memiliki cerita rakyat yang mengaitkan cinta dengan fajar ya? Dan, hebatnya ternyata perempuan-perempuan dalam cerita itu memanfaatkan karakter kemunculan sang fajar untuk mengandaskan harapan laki-laki yang mencintainya. Cobalah tengok nasibnya Bandung Bondowoso atau Sangkuriang. Terlepas dari apakah cintanya itu bertepuk sebelah tangan atau tidak, bermoral atau tidak, keduanya terperdaya oleh kecerdasan perempuan dalam mengeksplorasi karakteristik kemunculan sang fajar. Padahal kedua laki-laki itu, laki-laki pilih tanding yang sakti mandraguna, menguasai alam supranatural.
Sejujurnya saya tidak ingin ke sekolah hari ini. Tapi, bukankah saya ditunggu Burhan. Ah, gara-gara Burhan jatuh cintalah saya makin terjerumus dalam pemujaan sosok Ani. Lagi pula kenapa sih Amor, si dewa asmara,  yang pipinya tembem itu memanahkan panahnya pada saya dan Ani? Awas ya, kalau muncul, bakal saya cubit pipi tembemnya itu. Ha-ha-ha-ha.
Baiklah, walau bagaimana, matahari tidak boleh dipaksa tidak terbit. Lagi pula siapa yang kuasa menghentikan matahari tidak terbit? Ya, ya, Tuhanlah yang kuasa. Meskipun, kata Jujun S. Suriamantri, apakah Tuhan—dengan kemahakuasaan—sanggup menciptakan sebuah batu yang sangat besar sekali sehingga Tuhan sendiri tidak sanggup mengangkatnya? Wualah, kenapa saya bawa-bawa filsafat ilmu dalam urusan cinta saya dengan Ani ini.
Cerah sekali matahari pagi itu. Semestinya saya pun cerah. Ya, semestinya kalau saja semalam saya bisa bertemu Ani atau yang paling penting sebenarnya adalah seandainya saya tidak melihat ada pria lain di rumah Ani, tentu saya pun cerah. Langkah saya terasa gontai. Gontai yang luar biasa. Tak bersemangat. Tak berselera hidup. Lebay, mungkin begitu kata anak sekarang.
Saat memasuki halaman sekolah, beberapa siswa menyapa saya. Kadang saya balas dengan senyum, anggukan, atau ucapan selamat pagi juga. Beberapa anak malahan mencium tangan saya. Ya, ya cium tangan itu tanda hormat kepada yang lebih tua. Mantaps sekali ya tradisi orang tua kita itu sebenarnya. Waku baru menunjukkan pukul 06.30, setengah jam lagi jam pertama sekolah akan dimulai. Jam-jam segini biasa ruang guru sudah penuh dengan aktivitas para guru, mulai dari sarapan, menyiapkan materi pelajaran, hingga sekadar kongkow-kongkow saja.
Ani belum tampak.
“Aih, rupanya dia belum datang juga,” kata saya dalam hati, “begadang juga rupanya dia semalam, sama sepertiku. Tapi, kalau aku begadang tersiksa cemburu, sedang dia kayaknya begadang dengan hati penuh bunga-bunga. Dia bisa tidur sambil tersenyum, sedangkan diriku dikejar-kejar mimpi buruk.”
“Hoi, roman mukamu kucel sekali, Teman!” ledek Pak Tagor, guru fisika yang paling ditakuti siswanya. Sebab kalau ngajar, Pak Tagor akan minta menjawab soal di papan tulis secara langung. Siswanya tidak boleh duduk jika jawabannya belum betul. Tapi, sebenarnya Pak Tagor sangat lembut hatinya dibalik wajahnya yang kasar.
“Ah, Abang ini. Saya masih mengantuk nih,” jawan saya sambil duduk di kursi yang disediakan khusus buat saya. Selain kursi, guru pun disediakan meja dan loker.
“Begadangkah kau semalam?”
“Kurang lebih begitulah.”
“Cerialah sedikit. Bidadari kita belum datang juga nih,” kata Pak Tagor. Hmm, bidadari, siapa lagi kalau bukan Ani. Begitulah, kami-kami ini menyebut Ani dengan sebutan bidadari. “Kemanakah dia? Biasanya jam segini dia sudah duduk-duduk di kursinya dan membuat jantung semua laki-laki di sini berdebar-debar.”
Jam sudah pukul 06.50 ketika tiba-tiba Ani terlihat berjalan di lorong sekolah. Tapi, oh, siapakah gerangan yang berjalan di samping Ani? Guru-guru laki-laki langsung melihat dari jendela. Mereka saling tindih agar bisa melihat dengan jela. Siapa yang bareng bersama Ani?
“Sangat cocok!” kata Pak Tagor.
“Seperti Rama dan Sinta!” kata Pak Jono.
“Romeo dan Juliet!” kata Pak Johan.
“Pembunuh berdarah dingin!” kata Pak Mulyadi.
“Haaaahh!!!!???” kami serentak melirik Pak Mulyadi.
“Kenapa kau bicara begitu, Mul?” Pak Tagor menegur Mulyadi.
“Bukankah kita-kita diam-diam memuja Ani. Nah, sekarang Ani bergandengan sama laki-laki, yang lebih tampan daripada kita-kita. Mungkin ada di antara kita yang akan patah hati, lalu besok atau lusa bunuh diri. Bukankah kalau begitu, laki-laki itu pembunuh berdarah dingin?” terang Mulyadi.
“Paling-paling kau yang bunuh diri,” sahut Pak Tagor.
“Iyaa!” timpal yang lain.
Pak Mulyadi pun terdiam.
“Aih, bapak-bapak ini, malah kayak anak kecil, ngintip-ngintip orang segala,” teriak Bu Dedeh.
“Ssssssst! Ini persoalan hajat hidup orang banyak, Bu,” kata Pak Johan.
Bu Dedeh langsung diam. Tapi, tampaknya dia dongkol juga melihat kelakuan bapak-bapak guru.
“Teng! Teng! Teng!” bel berbunyi. Jam pertama dimulai.
Ani berhenti, mereka berbincang sebentar, lalu Ani mencium tangan laki-laki itu. Rupanya mereka tidak jadi masuk ke ruang guru. Lalu, laki-laki balik meninggalkan Ani, sedangkan Ani dengan tersenyum bergegas masuk ke ruangan guru. Kami pun segera bubar dan segera berpura-pura untuk masuk kelas.
Di pintu masuk, aku bersenggolan dengan Ani.
“Maaf…maaaf, Bu,” kataku meminta maaf dengan gugup.
“Gak apa-apa kok, Pak,” sahut Ani sambil tersenyum. Aih, manis sekali itu senyum seperti madu sumbawa asli.
Dengan jantung yang berdegup kencang, saya tersenyum kembali pada Ani.
Ooh, Ani…. Ani….

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: