PANGGILAN BAKTI TERHALANG TEMBOK KEKUASAAN

 

Oleh: Zulfa Nh

Dosen IAIN Tulungagung

 

“Pertama, sedekah diberikan oleh Hamba Allah, jumlah dua juta rupiah, pahalanya ditujukan kepada kedua orang tua. Kedua…… Ketiga….. Mari kita doakan bersama agar semua sedekah ini diterima Allah SWT sebagai amal saleh. Al fatihah…..”

Kalimat di atas aku dengar dari pengumuman takmir masjid di mana aku shalat tarawih tadi malam. Ketika itu, ingatanku langsung tertuju pada seorang sahabat masa kecilku. Dua bulan yang lalu, dari luar negeri ia menelponku, mengatakan bahwa ia telah mentransfer uang 1 juta lebih untuk TPQ-ku. 

“Sedekah ini aku atasnamakan bapak dan ibuku. Tapi tolong jangan kamu katakan pada siapa-siapa, hanya kamu yang tahu”

“Kenapa tidak atas nama kamu sendiri, kan ini hasil kerja kerasmu merantau di negeri orang?”

“Untuk baktiku pada bapak ibuku, aku anak nakal, sering menyusahkan orang tua, semoga Allah mengampuni dosa-dosaku. Setelah jauh dari mereka, aku baru merasa sangat butiuh orang tua, sangat ingin diberi kesempatan lebih lama untuk berbakti. Doakan agar aku bisa rutin sedekah ya, aku ingin tiap bulan bisa menyisihkan dan menjadi amal ayah ibuku”    

Terus terang aku sangat terharu, aku mendoakan agar ayah ibunya senantiasa sehat dan bahagia, dan sahabatku ini dikaruniai istiqomah berbakti pada kedua orang tuanya. Mungkin suatu saat aku akan menceritakan kepada ayah ibunya, tentang kebaikan anak mereka, tapi bukan saat ini karena belum diijinkan. Aku yakin, ayah ibunya bahagia atas keputusan sahabatku itu. Di luar amal ini, dia sudah berusaha membahagiakan orang tuanya dengan membelikan sebidang sawah.

“Untuk kecehan bapakku, alhamdulilah”, katanya. Kecehan itu artinya main lumpur, penghalusan bahasa dari bekerja di sawah.

Belajar dari pengalaman di atas, aku menyimpulkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah kebutuhan batin setiap anak yang menuntut dipenuhi. Aku sangat yakin, dalam sanubari setiap anak, ada panggilan suci untuk senantiasa memberikan sikap, tindakan dan doa terbaik untuk kedua orang tuanya. Panggilan itu terus menggema sepanjang waktu, sekalipun orang tuanya telah wafat.

Kesimpulanku ini dikuatkan oleh peristiwa lain yang terjadi menjelang Ramadhan kemarin. Seorang sahabatku mengaku baper berat alias terbawa perasaan gara-gara teman-temannya di FB banyak yang posting foto berziarah ke makam orang tuanya. 

Ia bercerita padaku, “Zulfa, bayangkan bagaimana sedihnya aku, banyak teman kita yang jauh-jauh mudik ke kampung, sekedar untuk mengunjungi dan membersihkan makam orang tuanya, mendoakan sambil mengenangnya, tapi aku? Orang tuaku masih hidup, rumahnya tidak terlalu jauh, tapi aku sudah dua tahun tidak pernah mengunjungi, asli aku sebenarnya sediiiiiih banget, merasa durhaka dan tidak tahu diri”

Serius, aku kaget mendengarnya. Aku tahu, sahabatku ini tinggal di rumah suaminya, sedangkan rumah orang tuanya masih satu kabupaten, jaraknya sekitar 30 kilo meter. Suaminya juga punya mobil, sangat bisa kalau mau mengantarnya.

“Memangnya kenapa kamu nggak pernah pulang?”

“Suamiku tidak mengijinkan. Berkali-kali aku minta tapi belum juga dikasih ijin. Alasannya, aku sekarang sudah jadi miliknya, kewajibanku adalah berbakti pada suami, ayahku sudah menyerahkanku padanya waktu akad nikah. Aku selalu kalah berargumentasi karena dia pakai banyak dalil tentang wajibnya taat pada suami. Alasan lainnya aku harus mau jadi contoh para santri, contoh istri yang taat, contoh juga agar santri tidak sering minta ijin pulang. Kalau aku sering pulang, santri tidak akan punya panutan untuk belajar sabar. Aku berusaha menerimanya, tapi jujur nggak nyaman banget karena akhirnya orang tuaku mengalah, mereka sering kesini buat njenguk aku dan anakku, berusaha memaklumi karena suamiku diamanahi banyak santri”

Ya, sahabatku ini adalah seorang nyai, istri seorang kyai pengasuh pesantren. Ayahnya juga kyai, bedanya tidak mengasuh pesantren, melainkan imam masjid desa. Memang aku pernah mendengarkan ceramah suaminya di acara pernikahan santrinya, isinya tentang kewajiban istri mentaati suaminya. Dalam ceramah itu ia menyebutkan kutipan riwayat dari sebuah kitab (hadis, kalau tidak salah dengar) yang menceritakan tentang perempuan yang sangat taat pada suaminya. Suatu hari suaminya pergi keluar kota dan berpesan agar si istri tidak keluar rumah. Kebetulan, pada saat suaminya sudah berangkat, ada utusan keluarga ayahnya untuk menjemput dia karena ayahnya sakit keras. 

Karena alasan taat, perempuan itu tidak mau. Sampai tiga kali dijemput karena ayahnya makin parah, bahkan sampai meninggal, perempuan itu tetap tidak mau. Akhir dari riwayat itu adalah ayahnya dihadiahi surga sebagai buah dari ketaatan putrinya kepada suaminya. 

Tentang riwayat itu, wallohu a’lam. Yang aku tidak sangka adalah ternyata riwayat itu dipedomani sedemikian ketatnya hingga sahabatku ini tidak mengunjungi orang tuanya lebih dari  dua tahun. Artinya, lebaranpun tidak berkunjung. Buatku itu aturan yang terlalu berat dan kurang manusiawi. Aku sebut demikian karena aku yakin panggilan untuk berbakti pada orang tua  tidak hanya menggema di relung batin anak laki-laki, tapi juga anak perempuan. Aku yang bekerja di lain propinsipun selalu merasakan panggilan itu sangat kuat, hingga kuatur sedemikian rupa agar dapat sering berkunjung. 

Masalahnya, apakah berbakti itu identik dengan menunjungi? Apa tidak cukup berdoa dari kejauhan? 

Doa memang bisa dari mana saja, bakti juga bisa dengan banyak bentuk, berkirim uang dan hadiah misalnya, atau menyediakan pembantu. Tapi, bagi anak yang jaraknya masih terjangkau, apalagi memiliki uang dan fasilitas yang cukup, aku kira orang tua akan lebih ridho jika disowani alias dikunjungi, bukan sebaliknya, diminta mengalah. Sekalipun secara sosial menantunya memiliki status lebih tinggi, kurang etis menurutku kalau tidak menyempatkan berkunjung, hanya karena alasan agar istrinya dapat jadi teladan ketaatan bagi santrinya. 

Justru santri akan punya teladan yang lebih bagus jika istri kyainya menunjukkan tawadhu atau sikap merendahnya kepada orang tua sekalipun telah bersuamikan kyai besar. Dalam hal ini, lebih teladan lagi kalau si suami bukannya menahan istrinya, melainkan menemani istrinya sowan, sungkem atau bersimpuh meminta keridhoan orang tuanya, bisa juga sebagai ungkapan terima kasih atas ijinnya menikahi putrinya. 

“Loh, kan tidak ada dalilnya, istri yang sudah menikah harus mengunjungi orang tuanya?”

Islam itu tidak hanya berisi dalil yang mengatur hukum wajib dan tidak wajib. Islam juga mengatur tentang apa yang patut dan tidak patut, yakni dalam bab adab, akhlak atau etika, yang ukurannya sangat tergantung di mana Islam dipraktikkan. Bagi orang Jawa misalnya, adabnya anak adalah sowan, bukan minta disowani. 

“Itu kan Jawa, bukan Islam… harusnya Islam yang dipedomani, orang Jawa yang harus menyesuaikan Islam yang murni, jangan dicampuradukkan dengan tradisi lokal”.

Ini pemikiran orang yang kurang belajar dari sejarah. Seandainya dulu para penyiar Islam berpandangan seperti itu, mungkin hari ini kita tidak mengenal Islam, karena dakwah Islam pasti ditolak kakek nenek moyang kita. Untungnya, para wali yang alim dan mulia, sangat bijaksana, tidak melawan tradisi, tetapi menggunakan tradisi sebagai alat untuk mengenalkan Islam dan memodifikasinya agar bernilai Islam. Sowan pada orang tua menurutku adalah tradisi Jawa yang sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, justru dapat digolongkan sebagai wujud dari konsep “birrul walidain” atau bakti kepada orang tua.

Maka, idealnya, perempuan yang telah menikah dapat berbakti kepada orang tua dengan lebih mudah karena ada belahan jiwa yang dapat mendampingi secara fisik, dapat membantu dengan uang maupun pemikiran. Sangat ironis jika pernikahan dijadikan alasan untuk memenjarakan istri dalam ukuran ketaatan yang sangat subjektif dan lepas dari adab dan akhlak. 

Tidak sepatutnya suami bersikap otoriter, tidak mau mendengarkan aspirasi istri, padahal ketenangan hidupnya sangat tergantung pada keberadaan istri. Sepatutnyalah suami merasa butuh keridhoan istri dan ridho mertua, bukan hanya mengklaim bahwa ridho Tuhan terletak di tangannya.

Maka, kepada sahabatku itu, aku menyarankan agar mengajak suaminya berdiskusi tentang adab dan akhlak, barangkali karena terlalu fokus pada dalil hukum, ia lupa bahwa Islam tidak hanya berisi hukum.

Wallohu a’lam bish showab. Semoga kita dilimpahi ridho kedua orang tua, ridho suami/istri, dan ridho anak-anak kita, dan tentu saja ridho Gusti Allah SWT.

Tulis tanggapan anda: