Pelatihan Hadrah dan Marawis FSB di Masjid Nurul Islah Jakarta Pusat

Jakarta-jagatngopi.com- Masjid Nurul Islah, Johar Baru, Jakarta Pusat, hari ini, Minggu (27/8) diramaikan dengan kegiatan Pelatihan Hadrah dan Marawis Forum Silaturahmi Bangsa (FSB).  Program FSB yang berorientasi pada penggalian dan peningkatan potensi kesenian masyarakat Jakarta ini menghadirkan Ustadz M. Arman sebagai instruktur dan Ustadz Syukur sebagai pengisi ceramah. Demikian disampaikan Syaifuddin Asmara, salah seorang pengurus FSB Jakarta Pusat.

Dalam penuturannya Syaifuddin menyatakan bahwa antusiasme masyarakat atas pelatihan hadrah dan marawis ini begitu besar, namun karena siang ini tahap awal belum bisa menampung semua calon peserta.

“Banyak orang yang ingin menjadi peserta pelatihan ini. Namun karena ini adalah tahap awal kami minta maaf tidak bisa menampung keinginan masyarakat. Untuk sementara kami hanya bisa menerima peserta 50 orang dari total 100 orang, hal ini untuk efektifitas pelatihan, insya Allah di waktu yang akan datang kami akan mengikutsertakan mereka yang menjadi peserta”. Terang Syaifuddin.

Seperti diketahui dalam rangka pengabidan kepada masyarakat Forum Silaturahmi Bangsa, mengadakan rangkaian pelatihan  hadrah dan marawis, diberbagai masjid di Jakarta. Sekretaris Jenderal FSB, Djunaidi Sahal dalam keterangannya menyampaikan bahwa latar belakang diadakannya pelatihan ini karena marawis adalah karena pentingnya membangun silaturahmi dan membangun dakwah lewat seni.

“Islam sangat dekat dengan seni. Dalam Islam, seni musik hadroh atau marawis, tidak hanya menjadi media dakwah. Pada perkembangannya musik hadroh tidak lepas dari perjalanan dakwah islam, seni ini juga memiliki semangat kecintaan terhadap rosulullah. Hadroh atau marawis menjadi musik yang sering menyemarakkan acara-acara islam dan tidak jarang musik ini dijadikan untuk memeriahkan acara pernikahan”. Terang Djunai.

Djunai juga menyampaikan bahwa penting memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Hadrah dan marawis tidak hanya sekedar seremonia belaka, tapi lebih dari itu untuk menjaga tradisi.

“Memberdayakan musik hadroh dan marawis menjadi target penting bagi penggiat dakwah islam, agar musik ini tidak hanya dipakai sebagai alat seremonial, namun diharapkan mampu menyentuh esensi dari syiar islam yang di ajarkan oleh Rosullulah. Seiring perkembangan zaman, perkembangan sistem dakwah islam harus mampu beradaptasi dan sesuai kebutuhan masyarakat. Menjaga tradisi musik hadroh menjadi penting, karena isinya merupakan bacaan-bacaan alqur’an dan sholawat nabi yang tidak dipisahkan dalam ajaran Islam”. Sambung Djunai.

Ditanya tentang total jumlah peserta dan tujuan pelatihan, Djunai menjawab bahwa  total jumlah peserta sebanyak 100 orang perwakilan masjid yang akan dibagi di sejumlah daerah di Jakarta Pusat.

“Total peserta kami batasi 100 orang dulu, ini demi efektifitas pelatihan agar lebih applicable. Tujuan pelatihan ini pertama, menciptakan instruktur-instuktur hadroh dan marawis bagi pengurus-pengurus masjid. Kedua, meningkatkan kreatifitas musik Hadroh dan Marawis. Ketiaga, menumbuhkan minat dakwah islam melalui musik hadroh dan marawis. Keempat, memotivasi pengurus-pengurus masjid untuk mempelajari musik hadroh dan marawis. Kelima, membumikan musik bernuansa Islam lewat hadroh dan marawis dan keenam, menanamkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di masyarakat lewat seni musik hadroh dan marawis”. Pungkas Djunai

 

 

Tulis tanggapan anda: