Pembubaran HTI dan Uji Nyali Semangat Nasionalisme Anak Bangsa

 

Oleh: H. Matin Syarkowi (Ketua PCNU Kota Serang)

 

Perlahan tapi pasti Hizbu Tahrir Indonesia terus bergerak mengkampanyekan sistem negara Khilafah Islamiyah tanpa ada kendala berat.  HTI semakin percaya diri karena kampanye politik untuk mendirikan negara Khilafah bisa dilakukan dengan bebas. Hal tersebut dibuktikan oleh HTI melalui muktamar HTI di Gelora Bungkarno pada tahun 2013 bahkan menggandeng TVRI untuk meliput. Para tokoh HTI menggelorakan Khilafah secara lantang sembari mengecam nasionalisme dan demokrasi yang dianggap bertentangan dengan Syari’at Islam. 

 

Sejak muktamar tersebut gerakan HTI menyuarakan Khilafah semakin Intens dan masif. Pendekatan HTI kepada masyarakat muslim dengan gaya “taqiyahnya” (bunglon) pun tidak ada penolakan yang berarti kecuali ketika HTI berhadapan dengan masyarakat Nahdliyin. 

 

Pemikiran HTI soal mendirikan Khilafah biasanya paling mudah diterima dikalangan anak-anak muda; Siswa SLTA dan Mahasiswa. Pendekatan “silent operation” ini kerap berbenturan dengan mereka yang berlatarbelakang NU dan kelompok masyarakat yang memiliki ciri gerakan frontal di kalangan muslim. Sekalipun dalam konteks ini pun sudah banyak kalangan nahdliyin yang menggeser gerakannya dan ikut organisasi yang dibeberapa negara lain sudah “dibredel” itu.

 

Kasus Ahok soal al-Maidah 51 bagi HTI adalah momentum strategis, taktis dan potensial untuk membakar semangat emosional ke-Islaman dan semakin mendapat peluang untuk menunjukan dalil-dalil agama tentang penting dan urgensinya mendirikan Khilafah. Di satu sisi “meninabobokan” umat dengan dalil-dalil pembenarannya tentang Khilafah, di sisi lain menggembosi sistem demokrasi dan ideologi Pancasila sebagai kredo kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.  Sedikit saja berbeda pandangan soal kasus al-Maidah maka divonis munafik dan bela kafir. Ketika yang tahu soal  bahaya HTI dalam konteks keutuhan NKRI justru dibantah dengan menunjukkan sikap “kami juga NKRI”.  

 

Alhasil, argumentasi verbal dan gerakan lapangan dengan menumpang di kasus Ahok bergayung sambut dengan banyaknya anak bangsa di pinggiran yang nyaris tidak open soal semangat nasionalis Indonesia. Dan ironisnya, di kalangan elit politik, profesional dan akademisi pun seolah tidak tersadarkan bahaya HTI dengan missi Khilafahnya. Sepertinya kebanyakan elit ketakutan apabila menentang gerakan Khilafah terjebak pada “lepas ke-Islaman dan ke-imananya”. Sungguh jika dugaan ini  benar maka adalah hal yang sangat miris karena berarti menandakan “kedangkalan” memahami agama dan negara di kalangan elit.

 

Seiring dengan pembubaran HTI lewat Keputusan Pemerintah yang dibacakan Menko Polhukam kemarin, maka harus dibarengi dengan upaya penertiban kegiatan dan atributnya. Menjadi tugas seluruh elemen anak bangsa untuk mewaspadai. 

 

Tapi memang sulit untuk dipungkiri, bahwa hanya NU dan banomnya yang berani tampil menolak gerakan Khilafah. 

 

Ahirnya Allah Swt, menguji sikap anak bangsa yang setia terhadap empat pilar kebangsaan Indonesia melalui peristiwa “al-maidah 51 dan gerakan pendirian Khilafah yang dikampanyekan HTI dan sejenisnya. 

 

Smoga Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa tetap memelihara keutuhan NKRI dan tetap meridloi Indonesia sbagai bangsa dan negara yang berazaskan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. 

 

Dari berbagai peristiwa yang telah terjadi pasti ada hikmah terbaik dan setidaknya jadi bahan renungan bagi seluruh anak bangsa ini untuk merenungi diri sembari bertanya pada hati kita masing-masing, “masih adakah semangat juang nasionalimse kita, masih adakah spirit juang 1945 pada diri kita?”, wallahu ‘alamu bishowab. #Sekali Merdeka Tetap Merdeka, sekali Pancasila tetap Pancasila, NKRI harga mati, keberagamaan anugrah yang harus disyukuri dan UUD ’45 wajib dijunjung tinggi. Semoga