Perjuangan Berat Ulama NU di Zaman Jepang

 

Dalam jangka tiga setengah tahun Jepang telah membuktikan bagaimana harus menjajah tidak kepalang tanggung. Menghancurkan bangunan, struktur politik, ekonomi dan sosial yang telah dibina pada masa pemerintah Hindia-Belanda. Merampok kekayaan tanah air, menghancurkan kebudayaan serta adat istiadat bangsa, menyebarkan rasa takut dan gelisah di kalangan penduduk. Hampir saja, tiap orang tidak sempat berfikir tentang politik dan nasib hari depan, karena masing-masing orang menghadapi kemungkinan yang paling mendesak : apakah hari ini masih hidup atau selamat tidak masuk penjara.

Sosok Hadhrotus Syekh KH. Hasyim Asy`ari, tanpa alasan yang jelas dimasukan ke dalam tahanan Jepang. Termasuk juga KH. Makhfudz Shiddik, Ketua PBNU. Menyusul pula tokoh-tokoh NU di Jawa Tengah dan Jawa Barat ditangkap dengan alasan tidak jelas. Nahdhatul Ulama beruntung punya tokoh yang menonjol yaitu KH. Wahab Hasbullah dan KH. A. Wahid Hasyim, beliau berdua yang mengatur strategi dan upaya pembebasan Mbah Hasyim Asy`ari dan tokoh-tokoh Nahdhatul Ulama. Beliau berdua juga punya saham yang besar dalam mengggoalkan pembentukan laskar Hizbullah.

Adapun ucapan penyemangat Mbah Wahab kala itu adalah Kalau kita mau keras, harus mempunyai keris. Artinya kita baru bisa bertindak jika kita telah mempunyai kekuatan, yait kekuatan politik, militer, juga kekuatan lahir dan batin.

( Disarikan dari buku Mbah Wahab Hasbullah : Kiai Nasionalis Pendiri NU )

Tulis tanggapan anda: