Persembahan Bunga Flanel Dari Perempuan yang Tak Datang

Bunga flanel yang tanpa catatan apa-apa untuk bisa aku ketahui pengertiannya telah datang pada diriku di sebuah malam yang agak gerimis pada 18 Februari 2017. Malam itu udara agak dingin. Hujan telah memulai tugasnya dengan baik sejak siang. Bumi basah, dan orang-orang memilih bertahan di rumah-rumah.

Bunga itu bukan alami; tak sesuatu yang tumbuh dari perut bumi, yang perlahan mekar dari kuncupnya, dihidupkan oleh hujan atau kecukupan air lainnya, ditegarkan sinar matahari dan akhirnya tegak memberi wangi. Bunga itu juga tak mempunyai duri. Tak dibesarkan oleh luka atau kepahitan hidup lainnya. Tapi ia tak tumbuh seketika. Ada sekian waktu yang diperlukan untuk ia lahir. Ia melewatinya dengan cara yang dikehendaki manusia. Ia butuh kesabaran sebelum utuh sebagai bunga. Ia tumbuh lewat sekian sentuhan jemari yang halus, hati yang cinta dan perasaan yang bahagia.

Sejak hadir di hadapanku, bunga itu diam. Dia tidak menyampaikan sebuah pesan apapun yang bisa aku baca melalui tulisan. Aku belum bisa menduga-duga maksud dari kedatangannya. Apakah pembuatnya sedang menghadirkan suatu makna yang tak selalu perlu dirangkum dalam karangan kata-kata? Apakah pembuatnya menyadari kata-kata tak selalu cukup kaya untuk merangkum makna?

A picture tells more than thousand words.

Aku pernah mendengarnya.

Sebuah gambar, sebuah rupa, bisa lebih kaya melukiskan pengertian ketimbang sekedar lukisan kata-kata biar pun berjuta-juga. Sebuah rupa bisa menghasilkan ribuan atau jutaan kata-kata. Bahkan lebih. Sebuah rupa adalah sebuah teks yang terbuka. Ia membiarkan sebuah mata menelanjangi, menjelajahi atau menggali maknanya sendiri. Ia membiarkan sebuah mata menemukan banyak pengertian.

Sebuah rupa adalah teks yang lebih terbuka daripada kata-kata. Sebuah teks dalam wujud kata-kata atau tulisan meskipun sama terbuka, ia jauh lebih terkendali dalam produksi makna. Teks dalam wujud barisan tulisan menggenggam pengertian yang lebih kuat mengarahkan atau mendekatkan pada tafsiran. Pernah anda menerbitkan gambar di media sosial, entah itu twitter, facebook, instagram, path atau media sosial lainnya? Anda lalu meneruskan dengan memberinya keterangan atau caption dalam wujud barisan kata-kata di bawahnya? Caption atau rajutan kata-kata yang mendeskripsikannya itu telah meminggirkan sang gambar, sang rupa, dari kekayaan maknanya yang semula, yang sesungguhnya itu bisa melampaui apa yang bisa diwakili oleh lukisan kata-kata.

Tapi sebuah bunga dari kain flanel telah datang di malam Februari tanpa sebuah kata-kata yang darinya aku bisa merujuk pengertiannya. Bunga itu menambahkan satu jenis ‘misteri’ lain dalam hidupku yang dipenuhi banyak misteri.

***

“Ini bunga, aku membuatnya untukmu”, itulah kata permulaan. Dia mengulurkannya. Aku meraihnya. Spontan gerakan kami berpadu. Sebuah uluran dan sambutan bertemu. Waktu mengiringinya dengan teliti.

Aku ingat ia memberinya dengan cara yang bahagia. Cahaya terang lampu rumah menyirami wajahnya. Garis senyum di wajahnya tak terlalu samar untuk aku baca pengertiannya. Sejauhmana aku bisa melihat garis senyumnya, aku menyimpan satu pengertian: perempuan itu membuatnya dengan bahagia.

“Ingat, aku membuatnya dengan susah payah, jangan kau rusakkan”.

Aku hanya tersenyum. Ucapannya mengandung teror yang tak serius. Aku menduga itu hanya bumbu kecil dari sebuah isyarat betapa cintanya perempuan itu pada bunga, pada kreatifitas yang ia lakukan dan terutama pada siapa bunga itu dipersembahkannya.

“Mengapa kau bikin bunga, mengapa tidak membelinya?”.

Aku lalu memilih duduk di sebuah kursi di teras rumahnya. Dia turut mengikuti langkahku dan memilih duduk di sampingku. Begitu dekat. Udara berhembus diantara kami. Sebuah wangi tubuhmu segera kutangkap lewat aliran udara. Satu, dua, tiga dan beberapa detik berikutnya, wangi tubuhmu tetap bertahan.

“Aku pikir sebuah bunga itu sama, entah aku membelinya atau membuatkannya, bukan?”.

Aku diam menunggu kemungkinan kelanjutan apa yang ingin dikatakannya.

“Ya, setidaknya itu dalam pikiranku. Aku bisa saja membelinya tapi aku pikir aku lebih bahagia bila aku bisa membikinnya sendiri. Rasanya sesuatu yang dibikin sendiri itu mengungkapkan potensi kreatifitas seni dalam diriku. Seberapapun hasil akhirnya, aku merasa lebih bahagia dengan buatanku sendiri”.

Dia tersenyum. Ada rasa kepuasan tersendiri yang terlukis di wajahnya. Aku teringat ironi Marx tentang kerja dan keterasingan. Ironi itu terjadi dalam situasi dimana kerja atau hasil produksi tidak mewakili kepuasan batin pekerja. Hasil kerja si tukang tidak mengungkapkan kebebasan kreatifitasnya. Melainkan si tukang dipaksa untuk melahirkan sejenis hasil kerjanya berdasarkan tuntutan. Dan apa-apa yang lahir sebagai tuntutan, sepenuhnya tuntutan, biasanya seringkali mengingkari kebahagiaan si tukang. Dan dalam beberapa aspek di bawah situasi keterasingan, kebebasan si tukang untuk berkreasi, mematerialkan ide-idenya yang semula abstrak, menjadi terhambat.

Aku hanya perlu mengapresiasinya. Aku pun tersenyum.

“Kamu terdengar seperti seorang seniman?”.

“Ah, masa begitu?”.

“Ya aku rasa begitu”.

“Entahlah, aku rasa itu hanya perkiraanmu”.

“Tetapi kenapa bunga?”.

Di halaman, terlihat gerimis luruh perlahan. Daun-daun bergerak dimainkan udara malam. Dia menatapku sebentar.

 “Aku menyukai bunga. Mungkin kesukaan itu diwariskan dari ibuku. Sejak kecil, ibuku menanam beberapa bunga di rumah. Aku melihatnya begitu indah. Tanaman itu menyihir rumah kami yang sederhana”.

Dia tersenyum bangga mengingat ibunya.

“Aku sendiri menjadi begitu betah. Ibu adalah orang yang paling pintar untuk memperindah pekarangan rumah. Bunga-bunga itu, yang mekar dan memberi keindahan, juga wewangian, membuat rumah kami seperti syorga. Ah, aku barangkali berlebihan. Tapi setidaknya aku menjadi begitu mencintai rumah kami”.

Dia masih berusaha menelusuri ingatannya.

“Di depan rumahku, ada berbagai macam bunga. Aku tidak pernah tahu jenis bunga-bunga itu. Tapi aku ingat, ibu begitu penuh kasih sayang dalam merawat dan menyiramnya tiap pagi. Bagi ibu, bunga adalah lambang keindahan”.

Aku memandangi bunga buatannya. Aku tersenyum. Apa yang istimewa dari bunga ini? Bahkan ia sekedar bunga yang terbuat dari kain flanel? Sebuah kreatifitasnya. Tak ada yang istimewa. Tapi yang istimewa atau tak istimewa rupanya persoalan yang datang bukan dari sekedar bunga itu. Sesuatu secara perlahan mengisi hati dan berbicara sunyi: bunga ini tak datang tanpa kekuatan atau dorongan dari sang pemberi. Biarlah si pemberi tak mau mengungkapkan maksud hatinya. Anggaplah segalanya masih misteri. Tapi satu-satunya hal yang tak bisa dibantah adalah pengakuannya: dia membuatnya untukmu. Kamu hanya perlu menyimpannya dengan bahagia.

Aku tersenyum. Kata-kata bisa saja mereproduksi kebahagiaan.

***

“Apa arti sebuah bunga?”.

“Yang aku tahu, bunga itu adalah keindahan”.

“Keindahan?”.

“Ah, entahlah, tapi aku senang melihatnya. Mungkin juga lambang kebahagiaan. Ah, aku bingung. Jangan bawa aku pada pertanyaan-pertanyaan yang rumit. Aku hanya membikinnya dan tidak untuk menjawab segala pertanyaanmu yang terdengar rumit”.

Aku tersenyum. Dia tersenyum. Tatapan kami berhenti sebentar dalam posisi saling pandang. Sebentar lalu kami saling memandang langit malam. Gelap. Dan dalam sebentar, senyum kami seolah terukir di sana dan menghilang.

“Aku tidak mengerti mengapa pada momen-momen kebahagiaan tertentu seperti kelulusan, acara pernikahan, atau kadang kematian, bunga menjadi pilihan untuk dipersembahkan”.

“Kamu mulai lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang rumit”.

“Oh maaf”.

Kami pun saling tertawa sebentar. Dan segera setelah itu kembali sunyi.

“Kamu membuatnya sendiri? Sungguh?”.

“Menurutmu?”.

“Ya, rasanya kamu terlihat sungguh-sungguh”.

“Kamu seperti tak yakin”.

“Sudahlah lupakan. Aku hanya penasaran”.

“Darimana kamu belajar membuatnya?”.

“Aku bisa belajar sendiri. Sekarang setiap orang bisa belajar secara otodidak asalkan ada kemauan termasuk dalam membikin bunga flanel ini”.

“Berapa lama kamu membikinnya?”.

“Sehari saja”.

“Hebat ya kamu?”.

“Nggak perlu memberi pujian”.

“Kenapa?”.

“Ucapan yang tak berasal dari ketulusan tampak seperti dipaksakan”.

“Kamu pikir aku berbohong?”.

“Aku mencurigai kebohonganmu haha”.

“Aku terlihat sebagai pembohong?”.

“Segala yang berlebihan mendekati kebohongan”.

“Aku hanya mengatakan kamu hebat”.

“Bahkan kamu mengatakan itu pada saat kamu belum benar-benar mengerti cara kerja membuat bunga ini yang sebenarnya begitu sederhana?”.

Kami tertawa. Perempuan ini begitu detail menilai sebuah sikap, pikirku. Sedetail-detailnya pujian harus berhadapan dengan sedetail-detailnya kecurigaan. Dalam hati aku tersenyum.  

Gerimis terus berjatuhan di halaman rumahnya malam itu. Di sela kami diam, gemericik air terdengar lebih jelas. Kami menikmati suasana ini. Irama gemericiknya berdetak-detak. Sesekali udara malam menggoda kami yang kemudian terpaksa masing-masing bersedekap.

“Oh, iya, maafkan aku tadi siang. Aku sungguh-sungguh tak bisa hadir di acara kebahagiaanmu”.

“Semestinya kamu bisa datang”.

“Iya, maaf, aku benar-benar tidak bisa membatalkan janjiku tadi siang”.

“Semestinya kamu menggandeng tanganku”.

“Hah!”.

“Oh, maaf, sesuatu mengatakan sendiri tanpa kendali”.

“Gombal”.

Aku tertawa lagi sembari menggodainya dengan kata-kata yang terus merayu dan terus terdengar gombal belaka. Dan dia terus-menerus menghukumku dengan kata-kata ‘gombal’.

Aku mengerti: ‘gombal’ sebuah label untuk memisahkan dari yang kata-kata yang penuh kesungguhan. Tapi kadangkala, yang ‘gombal’ hanyalah varian lain untuk mengungkapkan isyarat hati yang sesungguhnya. Dan nampaknya, malam itu, kata yang ‘gombal’ atau yang ‘bualan’ belaka dengan yang ‘sungguhan’ berkait-kaitan, melebur satu sama lain. Bagiku, mungkin juga baginya, keduanya memiliki efek psikologis yang sama: keduanya membahagiakan setiap kali terdengar sebagai ucapan.

 

Ciputat, 04 Juli 2017

Tulis tanggapan anda: