Pesantren Kapurejo : Awal dari Kalahnya PKI atas NU

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam  sejarahnya, NU,PNI dan PKI sebagai anak sejarah bangsa sudah sering bertemu untuk membicarakan nasib Bangsa Indonesia. Melalui tokoh-tokohnya, mereka rutin berdiskusi bahkan tidak jarang sampai nyaris baku hantam dalam mempertahankan pendapatnya. NU diwakili oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan Hasan Gipo, PKI diwakili oleh Musso dan Dipa Nusantara Aidit dan PNI diwakili Soekarno.

Hasan Gipo (1896-1934) misalnya, Ketua TanfidIyah PBNU pertama mendampingi KH. Hasyim Asy’ari ini, satu waktu pernah menggantikan KH. Wahab Hasbullah untuk meneruskan diskusi dengan Musso menyoal ketuhanan. Musso menyerah kalah ketika argumentasi verbalnya tentang ateisme tak berbanding lurus dengan prakteknya. Kala itu Hasan Gipo mengajak Musso untuk membuktikan adanya Tuhan dengan menyambut datangnya kereta Surabaya-Batavia dengan membaringkan kepala masing-masing di rel kereta–Musso tidak berani.

Sejarah juga mencatat bagaiman DN Aidit terdiam seribu bahasa, ketika di salah satu sidang yang dipimpin Soekarno, Ia menanyakan sesuatu dengan nada satire kepada KH. Saifuddin Zuhri (1919-1986) yang juga Menteri Agama pada saat itu. Saifuddin Zuhri dengan keahlian mantiq yang Ia peroleh pada saat nyantri, jawabannya  mampu membungkam DN Aidit yang menyoal hama tikus dengan ujaran kebencian terhadap komunitas Islam (baca : NU).

Adalah Rumah Mbah Hasyim Asyari di Pondok Kapurejo, Kediri yang tidak kalah penting dalam lintasan sejarah Bangsa Indonesia. Di rumah bersejarah itulah pertemuan dan diskusi rutin antar tokoh terkemuka khususnya NU yang diwakili Mbah Hasyim Asy’ari, PNI dengan Soekarnonya dan PKI dengan Mussonya kerap berlangsung. Agaknya “silang-sengketa” untuk mempertahankan kebenaran seperti yang dilakukan oleh KH. Wahab Hasbuĺah, Hasan Gipo dan KH. Wahab Hasbullah dengan para tokoh lain terinspirasi dari tokoh sentralnya Mbah Hasyim Asy’ari.

Kenyataan bahwa Pondok Kepo Rejo adalah tempat diskusi kebangsaan para tokoh itu, dibenarkan oleh sejarawan dan pegiat kebudayaan dari NU, Abdul Mun’im, Dz. Dalam penuturannya Mun’im memperjelas dengan menuturkan bahwa pondok Kepo Rejo adalah bagian penting dari sejarah Indonesia.

“Di Pesantren itulah ditahun 1930 an, KH. Hasyim Asy’ari rutin bertemu Bung Karno dan Musso untuk membicarakan masa depan Indonesia” jelasnya.

Dalam penuturannya, Mun’im memperjelas bahwa dalam rangkain pertemuan-pertemuan para tokoh itu, KH. Hasyim dan Bung Karno seringkali menyepakati persoalan masa depan bangsa dibandingkan dengan Musso yang cenderung berlawanan. Hal ini dibuktikan dengan pendirian Negara Soviet Indonesia oleh Musso.

“Kyai Hasyim bersama Bung Karno memproklamasikan Kemerdekaan 1945 sementara Musso dengan PKI nya menolak Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan memproklamasikan sendiri Negara Soviet Indonesia di Madiun 1948. Akhirnya KH. Hasyim Asy’ari dan Bung Karno menang, sementara Musso kalan dan tewaa tertembak dalam pembrontakan itu” jelasnya.

Dari keterangan di atas, menjadi jelas bahwa Rumah KH. Hasyim Asy’ari  Pondok Kapurejo, selain salah satu dari arsiran sejarah Bangsa Indonesia, juga bisa dikatakan sebagai awal kalahnya PKI atas NU.

agus salim thoyib

Tulis tanggapan anda: