Pluralisme, PR yang Belum Selesai 

Kota Jakarta dikenal sebagai  pusat administrasi pemerintahan, ekonomi, bisnis dan Jasa. Bila diibaratkan Kota Jakarta adalah Gula, sehingga tidak mengherankan semut-semut pada datang dan berlomba untuk mendapatkan sedikit gula. Tidak juga mengherankan kalau Kota Jakarta, menjadi barometer utama dari pembangunan nasional. Kemajuan pembangunan dibidang sosial budaya, ekonomi, politik dan lainnya.

Dari perjalanan sejarah masa lalu, sejak masih dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Pakuan Padjajaran, Pelabuhan Sunda Kalapa telah menjadi magnet dalam perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi. Para pedagang dari Arab, Cina, Eropa dan suku-suku yang ada di Nusantara sudah melakukan aktifitas usaha disini. Pengambilalihan kekuasaan oleh Bangsa Portugis dan kemudian direbut oleh Fatahillah (1527-1570), dan merubahnya menjadi Jayakarta. Secara harfiah berarti Kemenangan yang nyata “ Fathan Mubina” ( Al Qur’an, Surah ke-48 : 1 ).
Pada masa ini sesuai namanya, kemenangan yang nyata, kemenangan yang jelas dan nampak. Fatahillah benar-benar memaknai bahwa kepemimpinan itu amanah, sehingga menamakan daerah yang dikenal dengan nama Sunda dirubah dengan Jayakarta, meskipun ada nuansa bahasa Sansekerta. Tapi Fatahillah mengartikannya dengan mengacu kepada surat Al Fath. Yang merupakan masa dimulainya perjanjian Hudaibiyah di zaman Rasulullah, dan pada masa ini Islam berkembang dengan luas dan bebas. Tidak diperangi dan juga tidak memerangi kaum kafir. Masa ini perdamaian, persaudaraan dan toleransi sangat terjaga.
Spirit inilah yang ingin diciptakan dan menjadi ruh penggerak dari Fatahillah untuk membangun Kota baru yaitu Jayakarta. Selama kepemimpinan Fatahillah, kota Jayakarta sangat ramai dan damai, sehingga usaha perdagangan maju pesat. Meskipun demikian,   system pemerintahan yang memasukan nilai-nilai Islami dalam kebijakannya tetap terjaga. Menjadikan kota Jayakarta, yang maju dan sejahtera dengan nilai-nilai keagamaan. Tidaklah mengherankan bila di pusat pemerintahannya juga dibangun masjid.
Kemajuan Kota Dagang, Jayakarta dengan pelabuhan Sunda Kelapanya mendorong usaha dagang dari Negara Belanda ke Jayakarta, usaha dagang dari negeri Belanda ini yang kita kenal dengan sebutan VOC. Dari taktik usaha, sampai akhirnya menguasai pemerintahan dan menjajah. Sikap hormat kepada bangsa lain, namun disalah artikan sebagai takluk dan penyerahan kekuasaan, meskipun kita tahu bersama bahwa dominasi VOC di Jayakarta, karena adanya perebutan kekuasaan di kesultanan Banten, dan salah satu pangeran meminta tolong kepada Belanda dan kompensasinya adalah kekuasaan di Jayakarta. Perebutan kekuasaan anatar keluarga memang menjadi cerita tersendiri dari sejarah bangsa nusantara, termasuk kesultanan Banten. Sejarah kelam akan runtuhnya suatu kejayaan bangsa.
 

Pluralisme pilihan dalam membangun Kota Jakarta
Sejak awal merebut dari kekuasaan Portugis, Fatahillah mempunyai cita-cita dan harapan akan sebuah Kota modern yang maju secara ekonomi, budaya, dan persamaan atas kemanusiaan. Karena menyadari bahwa Kota Jayakarta yang akan dibangun perlu dukungan dan sokongan dari berbagai komunitas masyarakat dunia, seperti bangsa Cina, Arab dan Eropa. Mendirikan Kota Jayakarta juga, dalam rangka menerapkan ajaran Agama dengan menenamkan nilai-nilai Islami dalam memimpin masyarakatnya.
Masyarakat Mutamaddin yang terbebas dari kekurangan pangan, sandang dan papan serta bebas beraktifitas bagi semua warga masyarakat, merupakan harapan dari digantinya Sunda kalapa menjadi Jayakarta. Memang dalam perjalanan sejarah terjadi pasang surut dan pergantian kekuasaan mulai dari kehadiran kaum kolonialis, yaitu mulai dari zaman Portugis, VOC, Hindia Be­landa, Jepang, hingga masa pasca-ke­merdekaan, yaitu dari Orde Lama, Orde Baru, dan sampai dengan sekarang. Meskipun demikian penerapan dan pengejawantahan nilai-nilai  keagamaan Islam di kota  Jakarta selalu menjadi kutubnya.
Karena mayoritas penduduknya, yakni sekitar 90%, adalah muslim, kota tua ini kaya dengan peninggalan sejarah yang ber­nuansa religius. Banyak makam dan mas­jid peninggalan para ulama tempo dulu yang kini dianggap sebagai situs berse­jarah dan dilindungi oleh pemerintah. Sebaliknya juga di Jakarta banyak situs dari Agama lain seperti Gereja , Vihara dan Kelenteng. Ini menunjukkan bahwa, perjalanan kota Jakarta mulai dari zaman kerajaan pakuan Padjadjaran, Jayakarta, Batavia sampai Jakarta. Nilai-nilai keragaman dalam keberagamaan sudah hidup dengan subur. Meskipun pada masa-masa awal sering terjadi benturan budaya, dikarenakan perbedaan kultur dan agama.
Cerita rakyat Nyai Dasima yang menjadi Isteri bangsa Belanda, dan kemudian lari dengan Samiun yang jadi kusir Delman, dimunculkan karena perbedaan Agama. Apalagi pada masa itu memang bangsa Belanda sangat kejam dan anti kepada ummat Islam. Tapi ini Cuma sepenggal kisah dalam perjalanan budaya masyarakat Jakarta. Sejarah ini juga yang menjadikan suku Betawi  menjadi Fanatik dan Militan jika berbicara mengenai Islam. Ini juga yang menjadi bukti dan alasan mengapa partai Islam hanya menang di Ibukota Jakarta.
Fenomena Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru lalu dan Lurah Susan mungkin contoh konkrit, bagaimana isu kepala daerah atau pemimpin non muslim bisa menjadi hal serius di Jakarta ini. Padahal dalam Pemilihan yang Demokratis dan Reformasi Birokrasi seharusnya yang jadi patokan utama seseorang bisa menjadi pemimpin adalah karena prestasi dan kinerja, bukan lagi karena persoalan keyakinan yang dianutnya. Tapi tidak bagi Kota Jakarta, meskipun dari segi pendidikan lebih tinggi dan kesejahteraan diatas rata-rata daerah lain. Tetapi bila sudah bicara kepemimpinan maka isyu muslim dan non muslim menjadi hal yang menarik dan kalau salah kelola bisa terjadi huru hara di Ibukota.
Padahal, dari beberapa makam yang ada disitus masjid, seperti Masjid Luar Batang dan Masjid Al Alam Marunda, dengan jelas menunjukkan bahwa orang kepercayaan para Waliyullah tersebut adalah orang dari Etnis Cina, dan kemudian mendapat Hidayah. Sebab inti sebenarnya dari Da’wah para ulama adalah menyeru dan mengajak saja, tapi tidak memaksakan kehendak. Artinya mereka berperan dan berjuang membela masyarakat Islam meskipun bukan seorang Muslim, seperti pada zaman Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ternyata pemandu jalan dan pengatur logistik dalam perjalanan hijrah tersebut orang yang beragama non muslim.
Hal ini, Boleh jadi sikap-sikap di atas tidak terlepas dari upaya-upaya dari suatu kelompok transnasional yang tidak menghendaki bangsa Indonesia hidup rukun, makmur, dan sejahtera. Mereka tidak menghendaki Islam di negeri ini menjadi faktor pemersatu, yang memimpin dengan cara yang moderat dan toleran sesuai dengan hakikat dan makna ajaran Islam itu sendiri, khususnya di Jakarta. Intelektual AS, Samuel P. Huntington, bahkan menjelaskan dalam bukunya The Clash of Civilization, bahwa pasca perang dingin akan terjadi benturan peradaban antara peradaban Barat (White Anglo Saxon Protestant) dengan peradaban Timur (Islam dan Konfusianisme).
Ini menunjukan bahwa benturan peradaban barat timur memang sedang direncanakan dan direkayasa untuk diperhadapkan, padahal bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Jakarta. Keragaman dalam keberagamaan, merupakan suatu yang niscaya dan tidak perlu diperhadapkan. Sebab dalam memahami Agama bukan persoalan menang-menangan dan saling mengalahkan, tapi sejauh mana nilai-nilai Agama yang ada di Ibukota dapat meningkatkan persaudaraan, toleransi dan meningkatkan kinerja pemerintah dan warganya.
Karenanya Pluralisme di ibukota meskipun kondusif, tapi senantiasa harus ditingkatkan dan tetap dijaga. Wallahu’ alam
Oleh : Mahmud Hamdani

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..