PRESIDEN AFGHANISTAN, MUHAMMAD ASHRAF GHANI KE MASJID ISTIQLAL

 

“Presiden Afghanistan, Muhammad Ashraf Ghani harapkan  Kerjasama lebih erat dengan berbagai organisasi Islam di Indonesia”

Jakarta, jagatngopi.com (6/4/2017) Presiden Republik Islam Afghanistan Muhammad Ashraf Ghani mengadakan pertemuan dengan para pemimpin organisasi Islam, bertempat di ruang VIP Masjid Istiqlal. Pertemuan yang dimulai pukul 17.30 WIB tersubut berlangsung kurang lebih 45 menit dengan penuh keakraban. 

Dalam sambutannya, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI), Dr. DB. KH. Muzammil Basyuni menyambut gembira kedatangan Presiden Afghanistan di Masjid terbesar se-Asia Tenggara ini dan berharap bahwa kunjungan ini dapat memberikan manfaat bagi hubungan bilateral kedua bangsa, Indonesia – Afghanistan. Muzammil Basyuni menjelaskan bahwa masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang berarti kemerdekaan karena didirikan sebagai kesyukuran atas kemerdekaan Indonesia. Masjid Istiqlal sejak awal didirikan untuk mempromosikan perdamaian dan toleransi antar masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Dalam kesempatan tersebut, juga dijelaskan bahwa pertemuan dihadiri oleh beberapa pemimpin Ormas Islam, di antaranya adalah MUI, PBNU, Muhammadiyah, ICMI, ICIS, Ma’arif Institute, ISOIC dan Wahid Institute.

Sementara itu Presiden Afghanistan Muhammad Ashraf dalam sambutanya Ghani menyatakan,  bahwa kedatangannya ke Masjid Istiqlal membawa kenangan akan kemerdekaan Indonesia. Hal itu karena Afghanistan adalah salah satu negara yang pertama-tama mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan persaudaraan Indonesia Afghanistan, karenanya sudah terjalin sejak lama.

Melalui Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung,

Indonesia berhasil mengangkat harkat bangsa-bangsa Asia menjadi bangsa yang besar di dunia. Dari konferensi inilah lahir nama-nama besar seperti Jawaharlal Nehru di India, Zhou En Lai di China, Gamal Abdel Naser di Mesir dan tentu saja Presiden Soekarno sendiri.

Presiden Ghani juga menyampaikan penghargaan yang setingi-tingginya dan kekagumannya  kepada bangsa Indonesia yang dipenuhi oleh para cendekiawan muslim dan berhasil mengembangkan toleransi, demokrasi, dan juga ekonomi yang tumbuh tinggi. Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menjadi anggota G20, semuanya menunjukkan kemajuan yang luar biasa. 

Presiden Ghani juga menyatakan kekaguman yang luar biasa bagaimana Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau mampu bersatu di dalam sebuah harmoni, dan mampu menyelaraskan kesalingpahaman untuk menghindari perpecahan. Hal itu memberikan pelajaran berharga bagaimana rakyat Afghanistan bisa bersatu. 

Indonesia, tambah Presiden Ghani juga berhasil membangun Islam yang Rahmatan lil’alamin, Islam yang cinta damai. Dengan visi yang sama, Indonesia dan Afghanistan bisa membangun kerjasama lebih erat dalam berbagai bidang. Kerjasama antar-ulama, antar-universitas, dan antar-masyarakat. Kesuksesan Indonesia adalah kesuksean Asia, dan juga kesuksesan dunia dalam mempromosikan keselarasan dan kedamaian. 

Bahtiar Effendi yang mewakili Muhammadiyah memperkenalkan organisasi Muhammadiyah sebagai organisasi sosial yang mempunyai bidang dakwah luas mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kegiatan sosial. Muhammadiyah sangat terbuka untuk menjalin kerjasama dengan masyarakat Afghanistan dalam berbagai sektor. Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah mengundang rakyat Afghanistan untuk bisa bersekolah dan berkuliah di berbagai lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah. 

Sementara itu, K.H. Abdul Manan Abdul Ghoni yang mewakili PBNU mengatakan bahwa hubungan antara Nahdlatul Ulama dengan masyarakat Afghanistan sudah terjalin cukup lama. Para ulama Afghanistan beberapa kali mengadakan kunjungan ke PBNU dan berdiskusi mengenai banyak hal. Bahkan sekarang ini,  ada sekitar 25 mahasiswa  Afghanistan yang sedang belajar di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Semarang. PBNU berharap bahwa hubungan ini membawa keberkahan bagi kedua negara dan menjalin persaudaraan serta kerjasama lebih erat di kemudian hari. 

Sementara Sekjen Indonesian Society of Islamic Conference, Bunyan Saptomo, memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya karena ikut diundang dalam pertemuan ini. ISOIC merupakan organisasi muda didirikan pada tahun lalu oleh para mantan Duta Besar, ulama, akademisi, dan para aktivis yang memberi perhatian terhadap Organisasi Konferensi Islam (OKI) sekarang. Visi organisasi adalah mempromosikan Islam damai ke seluruh dunia. Visi itu dijabarkan dalam kegiatan diskusi, seminar, riset, dan pengembangan kerjasama antara pemerintah dengan non pemerintah baik di dalam negeri Indonesia maupun luar negeri. Tema yang dikembangkan adalah kedamaian, persatuan dan pembangunan. Pertemuan ini diharapkan dapat menjalin hubungan yang lebih erat antara bangsa Indonesia dengan Afghanistan. 

Mengakhiri pertemuan, Yeni Wahid dari Wahid Institute, mengucapkan terima kasih karena mewakili kaum perempuan dalam pertemuan ini. Menurut Yeni, Indonesia terus mengembangkan Islam yang toleran, menghargai perempuan, dan mengembangkan perdamaian. Toleransi Islam di Indonesia ini menjadi inspirasi untuk bisa disebarkan di seluruh dunia. Indonesia dan Afghanistan bisa membangun kerjasama mengembangkan Islam yang menghargai kebebasan beragama, kedamaian, toleransi, dan partisipasi perempuan di dalam masyarakat. 

Selesai berdialog, acara dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah. Usai shalat maghrib, Presiden Afghanistan melanjutkan. berkeliling melihat-lihat arsitektur Masjid Istiqlal didampingi Ketua BPPMI.  (AZ-BSA)

 

 

Leave a Reply