Proyek Santri

Suasana hari itu cukup ramai. Banyak berdatangan orang tua santri untuk ngirim anaknya yang berada di pondok. Para santri punya istilah sendiri, “ bestelan “. Rincian bestelan biasanya untuk kebutuhan berupa bayar syahriyah pondok, madrasah serta spp sekolah. Selain itu juga untuk uang jajan, makan satu bulan, serta kebutuhan sehari-hari lainnya. Bagi santri yang satu kamar dengan teman santrinya yang bestelan, ada rejeki tak diduga, yaitu jajanan yang dibawa orang tua santri. Boleh dikatakan bahwa sudah menjadi adat kalau ada santri yang bestelan pasti diminta jajanan mayoran. Istilah qoidah fiqihnya Al `Aadatu Muhakkamatun.

Salah santri yang bernama Kang Aman, seperti teman-teman lainnya juga sedang menunggu bestelan dari orang tuanya. Biasanya antara tanggal satu sampai tiga, awal bulan, orang tuanya sudah datang. Tapi sampai tanggal empat belum juga datang. Kang Aman mulai gelisah karena harus berfikir hutang dulu ke temannya. Tapi walaupun ada kegelisahan di hatinya, Kang Aman sebagimana biasanya tetap cengar-cengir dan tertawa, bersendau – gurau dengan temannya. Di tambah lagi penampilan Kang Aman yang selalu bercelak mata, maka hampir tidak terlihat kesedihan di bola matanya.

Di tengah-tengah penantiannya, Kang Aman melawati papan pengumuman yang biasa digunakan untuk mencatat para santri yang bertugas kemit kecil ( istilah untuk santri yang bertugas memberishkan lingkungan pondok ), dan kemit besar ( istilah untuk santri yang bertugas jaga malam ).

Di situ Kang Diryatno atau yang masyhur dengan sebutan Kang Kinong sedang menulis nama-nama santri yang cukup banyak, kurang lebih  lima belas orang. Itu berarti bukan menulis jadwal piket, tapi ada proyek untuk santri. Ya.. di pondok Kang Aman, para santri sering dimintai bantuan oleh masyarakat sekitar, untuk membaca Qur`an juz-juz an yang dihadiahkan pahalanya ke keluarga yang meninggal dunia. Para santri mengistilahkan “proyek”.

Ternyata pada saat itu, Kang Kinong sedang nulis nama santri yang diikutkan dalam proyek. Biasanya tiap bilik diambil satu atau dua orang. Kang Aman dengan sigapnya langsung melihat pengumuman proyek. Ternyata nama Kang Aman masuk. Dengan suara lantang dia mengucapkan “Alhamdulillah”.

Setelah dilihat, ternyata besok pagi setelah sholat subuh Kang Aman dan teman santri lainnya yang tertulis, ditugaskan untuk membaca Al Qur`an masing-masing satu juz plus tahlil dalam rangka empat puluh hari kewafatan.

Esok harinya, Kang Aman dan teman-temannya dijemput mobil bak untuk menuju lokasi ngaji Qur`annya, yaitu di pemakaman.

Setelah selesai, para santri termasuk Kang Aman diangkut menuju rumah shohibul bait, untuk makan bersama. Setelah selesai, para santri diberi nasi berkat, serta bisyaroh. Kang Aman terlihat sangat girang, ternyata dia mendapat rizki min haestu la yahtasib. Lumayan untuk tambahan penantian bestelan dari orang tua.

Di bilik pondok, teman santri sudah siap menunggu untuk menghabiskan nasi berkat. Berkat dari ‘proyek”.