Puasa Adalah Junnatun

Dari Abu Hurairoh Rodhiya Allahu `Anhu bahwa sesungguhnya Nabi Shollallahu ` alaihi wa sallam telah bersabda : Puasa adalah Junnah ( HR. Ahmad dan An Nasai )

Junnah mempunyai makna al wiqohyah, penjaga, pelindung dan as satru,penutup, penghalang.

Orang yang sedang berpuasa pada hakikatnya sedang membangun sebuah penjagaan, perindungan, penutup dan penghalang dalam dirinya dari segala hal yang merugikan dirinya.

Dalam pandangan medis, puasa penjaga dan perlindungan seseorang dari penyakit. Sehingga menjadi masyhur Sabda Nabi SAW : Berpuasalah maka kamu sehat. Sudah dimaklumi bersama bahwa sebagian besar sumber penyakit dari makanan yang dikonsumsi. Paling tidak orang berpuasa selama satu hari dapat menghindari makanan yang berpengaruh buruk bagi kesehatan tubuh. Selain itu juga dapat lebih menjaga kesehatan alat pencernaan.

Secara ekonomis, seharusnya puasa juga dapat menjadi penghalang bagi seseorang dari konsumsi makan yang berlebih. Karena jadwal makan hanya dua kali,ketika berbuka dan sahur.

Dalam pembentukan karakter, puasa dapat menumbuh suburkan sikap positif dalam diri seseorang. Orang yang berpuasa akan lebih dapat menahan amarah, sungkan melakukan perbuatan yang berakibat dosa atau merugikan orang lain.

Oleh karena Nabi SAW mewanti-wanti kepada orang yang berpuasa untuk menghindari perbuatan bohong, ghibah, percekcokan dan kata-kata kotor atau kasar. Sehingga jika ada orang yang mengajak bertengkar secara terang-terangan disuruh mengucapkan, “ saya sedang berpuasa”.

Tanpa menghidari larangan di atas, sangat sulit melahirkan dan menumbuh suburkan karakter positif dalam diri sesorang yang berpuasa.

Ketika karakter positif sesorang yang berpuasa mendominasi dirinya, maka akan mudah baginya melakukan kebaikan. Dia akan mudah melakukan sholat sunah yang berjumlah banyak, merasa senang ketika tadarus al Qur`an, menjadi dermawan dst.

Sungguh jika segala anjuran Nabi SAW yang berkaitan dengan puasa dijalankan dengan sempurna oleh orang berpuasa, target menjadi pribadi yang bertakwa akan tercapai.

Tapi ulama sudah menyampaikan, bahwa puasa itu ada tiga tingkatan ; Awam, khowwaash dan khowwashul khowwaash. Ini artinya bahwa secara realita, orang melakukan puasa itu tidak terlepas dari tiga tingkatan di atas. Jika kebanyakan yang berpuasa hanya memenuhi tingkatan awam, maka dipastikan tidak membawa perubahan yang besar pada revolusi mental masyarakat. Tapi jika semua lapisan masyarakat, terutama para pemimpinnya paling tidak naik pada tingkatan yang kedua, khowwash, maka akan terjadi revolusi mental yang luar biasa.