Rabbani : NU bukan lagi Lembaga tapi Ideologi

Adalah Syekh Burhanudin Rabbani (1940-2011) mantan presiden afghanistan yang penuh tegun dan keterkejutan ketika membaca surat Raisul Akbar KH. Hasyim Asy’ari yang ditujukan kepada Raja Arab Saudi lewat komite hijaz kala itu. 

 

Betapa tidak, zaman di mana pemeluk Islam kebanyakan pada saat itu belum berfikir tentang pentingnya penghormatan dan ukhwah bainal madzahib, pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama itu sudah memulai dan melaksanakan ikhwal itu. Hal mana yang sekarang ini sangat dibutuhkan, agar terjalin keberagamaan yang penuh harmoni.

 

Latar persoalan itulah yang menghentakkan tsiqah (kepercayaan diri) mantan presiden itu untuk mempercayakan NU menjadi mediator perdamaian di Afghanistan. Himmah itu kemudian berhasil walaupun belum sepenuhnya. Pihak Afghanistan diberi kesempatan untuk belajar tentang NU lewat beasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Bahkan konon di daerah penuh kecamuk perang itu sudah berdiri kurang lebih 20 cabang NU Afghanistan di wilayah yang berbeda.

 

Hal menarik lain dari sekelumit kisah ini adalah pernyataan Rabbani tentang NU. Ia mengatakan bahwa NU –akan bahkan sebagian sudah–bukan lagi lembaga tapi telah menjadi ideologi yang dibutuhkan di tengah benturan ideologi dan kepentingan global.

 

Lalu pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah NU menjadi ideologi kita sebagai warga ? Semoga.

 

agus salim thoyib

 

———————

Disarikan dari obrolan singkat dengan DR. KH. As’ad Said Ali, 2015

Leave a Reply