Ramadhan dan Kedaulatan Pangan

 

Hadi M Musa Said

(Ketua Bidang Pertanian dan Kedaulatan Pangan PP GP Ansor)

 

Memaknai Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah dan ampunan, Selama sebulan penuh umat Islam secara bersama-sama di seluruh dunia diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa. Puasa sendiri tidak sekedar menahan haus dan lapar, yang paling penting adalah menahan nafsu, baik nafsu kekuasaan yang berlebihan dan nafsu yang yang mengarah pada perusakan. Selain itu kelebihan bulan Ramadhan adalah bulan sosial, di mana kita diberi ruang seluas-luasnya untuk berbagi guna meningkatkan kualitas hidup kita dan terus menyampaikan serta mendakwahkan pada masyarakat luas bagaimana Islam menjadi ruh dalam kehidupan kita, menjadi spirit dalam perjuangan kita. Dan semua itu didasari dengan dengan rasa cinta dan kasih sayang sesama manusia. Disitulah Islam sebagai Agama menjadi peneduh bagi pemeluknya bukan menjadikan Islam dengan wajah yang garang dan gaduh.

Ramadhan seharusnya mampu menjadikan kita sebagai makhluk sosial yang semakin peka bagaimana ber-Agama dengan baik dan benar serta santun dalam berprilaku sekaligus semakin memahami bagaimana cara kita ber-Negara dan ber-Bangsa serta mengelolanya dengan baik. Karena semua itu menjadi tanggungjawab kita sebagai warga Bangsa dalam mengelola rasa cinta kita pada Indonesia, pada NKRI, dengan bersama-sama menjaga stabilitas Kedaulatan Pangan kita di bulan Ramadhan ini menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1438 H

Hubbul Wathan Minal Iman, adalah rasa cinta kita yang harus kita ejawantahkan dalam merawat NKRI. Karena dengan merawat NKRI sesungguhnya kita sudah mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar, tapi sebaliknya dengan tidak mengakui NKRI bahkan cenderung provokatif untuk melawannya itu sama saja dengan menghilangkan nilai-nilai Agama yang dimiliki Islam sebagai Agama yang Rahmatan lilalamin, 

Khairunnas anfauhum linnas,  jadilah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain, konsep Islam begitu Agung mengajarkan kita saling mengingatkan kebaikan ta’awanu alal birri wa Taqwa, di situlah Islam menjawab dengan gamblang tentang bagaimana cara ber-masyarakat dan ber-Indonesia dengan baik, mengelola kebhinekaan dan perbedaan dengan dasar Rahman Rahim Nya, bukan dengan nafsu kekuasaan manusia yang berlebihan. 

Senyatanya kesungguh-sungguhan kita sangat diharapkan dalam memaknai Islam dan kita harus meng-koreksi secara terus menerus, Islam adalah agama rahmat bagi siapapun bukan hanya orang Islam sendiri tapi juga non Muslim, jadi kalau ada sekelompok, golongan atau gerombolan orang yang hobinya, kebiasaanya memusuhi orang lain baik yang Muslim ataupun non Muslim maka ke-Islam-an nya perlu dipertanyakan, belajarnya di mana, ngajinya sama siapa, gurune sopo, sampaikanlah Islam dengan cinta, dengan sungguh-sungguh, dengan ramah bukan dengan marah. 

Kedaulatan Pangan

Selanjutnya pada Ramadhan ini diharapkan kita sebagai (umat Islam) dapat menjalankan ibadah puasa secara khusyu tanpa ada gangguan apapun dari awal hingga akhir menjelang Idul Fitri

Tapi ironisnya disetiap Bulan Ramadhan masyarakat selalu disibukkan dengan urusan-urusan terkait isu-isu pangan yang seringkali membuat lupa makna bulan yang penuh berkah, sudah menjadi rahasia umum dari tahun ketahun, setiap memasuki bulan Ramadhan di mana-mana harga kebutuhan pokok seringkali melonjak tajam.

Ketidakstabilan harga pangan dan kekhawatiran masyarakat terhadap kurangnya stok dan ketersediaan pangan seringkali dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk berburu keuntungan yang berlebihan, isu seperti ini sudah hadir dari sebelum masuk Ramadhan seakan-akan mereka yang menjadi panitia penerima tamu yang siap menyongsong datangnya bulan Ramadhan.

Ditambah lagi kebiasaan kelompok para pemburu rente yang suka mempermainkan harga bahan pokok pangan dan tidak memperdulikan masyarakat luas. Mereka tidak memikirkan dampak sosial yang akan timbul dengan permainannya. 

Bahwa naiknya harga kebutuhan pokok jelang puasa sampai jelang lebaran seperti ini, sebenarnya tidak perlu terjadi kalau Pemerintah melalui Kementrian Pertanian dan Kementrian Perdagangan bekerja dengan baik. Artinya, kesiapan sebagai pemegang kebijakan dan pengelola aturan menyiapkan segala sesuatunya dengan benar. Persoalnya tidak hanya ulah dari pedagang yang menimbun dan memainkan harga semata, justru akar masalahnya adalah berasal dari kepastian data ketersediaan suplay bahan pangan dan sebarannya serta sistem distribusi logistik yang buruk sehingga terbukanya ruang bagi para pemburu rente mempermainkan harga dan stok pangan.

Persoalan tersebut dari tahun ke tahun terus berurat-akar dan tak kunjung usai setiap jelang ramadhan hingga lebaran. Persoalan data pangan yang harus jelas dan pasti, data yang tidak jelas dan tidak pasti dari Kementerian Pertanian akan menghasilkan kebijakan perdagangan yang tidak jelas dan penuh anomali. 

Demikian juga dengan Kementerian Perdagangan diharapkan lebih jujur dan terbuka terhadap kemampuan pemenuhan kebutuhan pangan kita. Berapa jumlah ketersediaan pangan dari produksi dalam negeri, berapa jumlah kebutuhan masyarakat serta berapa jumlah pangan yang harus diimpor sebagai antisipasi kelangkaan dan permainan kartel.

Harga kebutuhan pokok akan sulit dikendalikan selama tidak adanya sinergi dari semua pihak, kalau sistemnya berjalan dengan baik, semestinya tidak perlu merepotkan Polri yang harus terlibat dalam satgas pangan.

Sekali lagi Kementrian Pertanian harus memperkuat pendataan agar bisa dijadikan rujukan lembaga lain dan yang lebih penting lagi adalah harus memperkuat produksi dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan seluruh Pangan Rakyat Indonesia. Wallahu A’lam bishawab..