Ramadhan Kebangsaan : Mengusung Cinta NKRI dan Berakhlak Pancasila.

Pesantren kilat mungkin tak aneh di dalam kegiatan Ramadhan untuk membina dan mentradisikan suasana iktikaf di masjid. Namun yang menarik dalam kegiatan iktikaf ini dengan program pesantren kilat yang hampir semua pesertanya adalah kaum muda dan yang mendominasi adalah anak unyu-unyu alias anak-anak SMA. Mereka antusis dalam mengikuti pesantren kilat selama dua hari di masjid yang memiliki sejarah penting di bilangan daerah sumur batu kemayoran Jakarta Pusat mulai hari Minggu sampai Senin tepatnya tanggal 18 s/d 19 juni.  

Masjid fatahillah yang dijadikan tempat pesantren kilat didirikan oleh kyai Rifai yang meletakan tradisi Nahdiyah dalam peribadatan di tengah tarik menariknya gerakan salafi wahabi. Dari dasar tradisi trrsebut,  tak heran materi dalam pesantren kilat adalah tentang manhaj Ahli Sunnah Waljamaah. Kemudian Islam Nusantara serta bagaimana mengaplikasikan hubungan sinergi antara Islam dan Pancasila menuju NKRI.  Ketiga materi tersebut disampaikan secara lugas dan sederhana oleh Ustad Fadholi (pengarang Buku jejaring ulama Betawi). KH.  Syamsuddi HS (kyai muda yg concern dengan Islam Nusantara adalah alumnus ponpes Attaqwa)  dan yang terakhir adalah ustadz Taufiq (alumnus Kairo, Mesir salah satu tokoh di kalangan PWNU).  Ustadz Fadli memberikan narasi yang sederhana tentang manhaj ahli sunnah waljamah yakni Islam yang sadar akan budaya lokal, di mana Islam dibangun dari altar keyakinan dan tradisi yang mengikat di masyarakat.  Contoh sederhana menurutnya adalah tahlilan, tahlilan adalah suatu tradisi yg mengemas kegiatan kematian untuk mendoakan dan membagikan makanan kepada yang hadir untuk shodaqoh dan berkumpul dalam suasana silaturrahmi.  Hal tersebut senada dengan materi yg disampaikan kyai syamsuddin alumnus attaqwa menyampaikan bahwa akar sejarah agama di Indonesia adalah agama kapitayan yang meneguhkan keyakin pada roh-roh leluhur dan benda. Kemudian agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia sehingga agama tersebut menguasai Indonesia.  Maka tak pelak,  islam datang ke indonesia melalui pendawah yang disebut sebagai komunitas Walisongo. Islam hadir di tengah masyarakat bukan dengan pedang akan tetapi hadir dengan suasan yg lembut dan santun dengan tidak berhadapan dengan budaya lokal.  Itulah yg disebut kyai muda ini sebagai pendekatan cuktural.  Di sanping itu hadirnya tembang dan pagelaran budaya seperti pewayangan merupakan pendekatan kesenian yang memang melekat di masyarakat sebagai hiburan. Itulah islam Nusantara,  maja tak heran islam masuk ke indonesia menjadi muslim terbesar hingga 87 persen.  Ini dengan cara-cara cultural dan seni.

Lain halnya dengan ustadz Taufiq lebih melihat sisi hubungan Islam dengan Pancasila.  Menurut ustadz muda yang aktif menjadi penda’wah dikalangan elit masyarakat bahwa pancasila dibangun juga dari dasar Islam yang menselaraskan sejarah Piagam Madinah di mana multi etnik dan multi agama terbangun atas dasar Piagam Madinah sama halnya dengan Pancasila yang menjadi dasar negara telah mengatur sistem berbangsa dan bernegara. Dari materi tersebut setidaknya Peserta pesantren kilat dapat mengapresiasikannya di lapangan dengan banyak belajar yakni jihad menuntut ilmu bukan jihad yang jahil, membunuh diri sendiri demi dokrin surga dan bidadari.  

Di awal kegiatan tersebut hadir ustadz Mualif anggota DPRD yang memaparkan sambutannya untuk semangat menjadi pemimpin sehingga kalau jadi pemimpin bisa mentukan kebijakan di masyarakat bisa dengan kendaraan politik atau partai politik.  Adapun akhir dari rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan bingkisan lebaran untuk marbot mushola. Kegiatan dimaksudkan untuk memberi kesejahteraan marbot karena dari tangan nereka inilah masjid menjadi bersih dan memelihara peralalatan masjid hingga setiap kali azan marbot bertanggung jawab dalam menyelenggarakan aktivitas keseharian dalam sholat, meski bingkisan tersebut tidak banyak akan tetapi mampu memberikan mereka tersenyum dalam merayakan suasana lebara. 

Jakarta,  20 juni 2017

Saefudin asmara

Tulis tanggapan anda: