Renungan Pagi: Tuhan di ujung Ramadhan

Oleh: Adhe Bagus Said

 

Di manakah Tuhan di akhair Ramadhan? adakah bersama dan dalam hati kita? atau, menyemayam dalam jiwa dan keyakinan kita?. Lagi, mungkinkah ada difikiran kita ataukah justru jauh dari kehidupan kita?. Pertanyaan-pertanyan itu menjadi penting sebagai langkah awal mengevaluasi atas lelaku hidup yang selama ini kita jalani. 

Sebuah kesadaran hati dan nurani itu menjadi penting dalam hal apapun, untuk menghindari salah paham dan paham yang salah,

Kalau kita semua memahami akan kehidupan yang sebenarnya dan mau belajar dengan baik, seharusnya kita semua bisa mengerti apa itu pesan Tuhan lewat gelagat alam disekitar kita bahwa hidup tidak sekedar semudah membalikan telapak tangan. Semua orang punya mimpi dalam hidupnya yang tidak bisa dihilangkan, ditindas apalagi dimatikan begitu saja hanya sekedar memaksakan kehendak dan kepentingan perorangan atas nama Tuhan. 

Semua perlu proses dan waktu yang tidak bisa diringkas begitu saja atau diputarbalikan, ada tujuan, ada mimpi, ada harapan yang harus dibangun dengan kerelaan dari semua pihak, ketulusan hati, keikhlasan jiwa, persamaan pandangan demi sebuah tujuan yang mulia, yang tidak merugikan dan mengurangi hak siapapun dalam banyak hal untuk tetap mendapatkan kemerdekaan dalam kehidupannya.

Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah punya nilai lebih dan tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, yang ada hanya harapan kosong tanpa isi, yang pada ahirnya akan melahirkan penyesalan yang berkepanjangan. 

Tidak ada kesungguhan untuk mendapatkan manfaat dan keberkahan di atas bumi Tuhan, tidak ada khairunnas anfa’uhum linnas yang kita dapatkan –nihil kebermanfaatan!.

Ramadhan adalah bulan di mana pahala dilipatgandakan dan menjadi puncak penghambaan kita sebagai (manusia) dalam kesungguhan mengabdi pada Sang Khaliq. Ramadhan adalah saat yang paling agung untuk mengakui bahwa kita sebagai manusia seringkali khilaf dan melakukan kesalahan yang lumintu, berulang dan berulang. Ramadhan adalah arena hening untuk merefleksikan hidup dan kehidupan kita. Sudah sampai di mana mengayuh “pedal kehidupan” kita selama ini. Ada saat dan waktu di mana kita harus berhenti dari sebuah perjalanan dan memulai perjalanan kembali dengan semangat dan niat yang lebih baik dari sebelumnya. Di situlah kita akan merasakan nilai lebih baik dari sisi kita sebagai manusia maupun sebagai hamba. Dan betapa kita butuh Agama (Islam) sebagai sandaran ketika merasakan lelah yang sangat atas jumudnya kehidupan dunia. Dan betapa kita butuh agama, untuk menghadirkan Tuhan sebagai sejatinya pelipur lara atas. Agama adalah tempat kita menghadap dan berhubungan dengan Tuhan bukan Agama dijadikan Tuhan. 

Kesadaran kita sebagai hamba harus terus disentuh, dirawat dan dipupuk agar tumbuh subur dan berkembang serta berbuah kebaikan untuk kemanfaatan yang lebih besar, dan yakinlah bahwa Tuhan bersama kita orang-orang yang terus meyakini bahwa hidup harus terus menyampaikan Perdamaian walaupun di tengah perbedaan, berdampingan dengan siapapun dengan damai dalam cinta KasihNya. Salam