REVIEW FILM PENGKHIANATAN G30SPKI

Di Wall Facebook-nya, Gugun Arief menuliskan review tentang film “Pengkhianatan G-30-S/PKI” karya sutradara Arifien C. Noer. Sebuah review dari sudut sinematografi yang menarik, dan akan samgat disayangkan jika banyak yang tidak tahu. Silakan dibaca review tersebut di bawah ini. 

Pada awalnya saya tidak suka film yang oleh orang-orang tua di desa kami disebut ber-genre “beleh-belehan” (sembelih-sembelihan, bhs. Jawa). Bahkan melihat poster film Jaka Sembung saja dulu saya bergidik. Itu jaman saya masih SD di tahun 80-90an. Selera saya bergeser sejak nonton film-filmnya Quentin Tarantino. Yang berperan mengubah taste saya antara lain adalah Kill Bill dan paling nyantol jelas Inglorious Basterds. Sebagaimana yang anda para movie buff tahu, Tarantino sudah jelas-jelas dikenal sebagai filmmaker yang brandingnya adalah “cinematic violence”. Maka perlahan namun pasti saya pun mulai menonton ulang beberapa film yang masuk kategori beleh-belehan tadi. Bukan kekerasannya yang saya kagumi, melainkan citarasa estetik yang disampaikan. Kadang cerita saja tidak cukup. Sebuah film butuh karakter.

Pengkhianatan G30SPKI adalah film yang dibiayai negara (with a very big budget) dan menontonnya adalah sebuah ritual wajib yang dipropagandakan di kanal-kanal resmi negara. Tak heran film ini jadi box office pada masanya (tahun 1984 dan setelahnya). Lha yo jelas….nontonnya dipaksa. Kewajiban ini baru berhenti setelah era reformasi 98, di saat propaganda penguasa sebelumnya telanjur meresap dengan baik. Ini kayaknya membuat pengetahuan masyarakat soal sejarah 1965, secara praktis, ya hanya dari film itu. Cobalah tanya orang-orang, pernahkah mereka baca buku putih peristiwa G30SPKI yang dikeluarkan sekretariat negara? Buku itu terlalu tebal (meski tak setebal Das Kapital).

Sebagai sebuah film propaganda, bagaimana kualitas film bikinan Arifin C. Noer ini sebenarnya?

Pertama-tama, sebagai seorang movie buff, saya akan menentukan dulu genre film ini. Saya tidak memandang film ini sebagai sebuah film sejarah melainkan film horror. Maka kita kesampingkan dulu soal muatan propaganda atau kekisruhan baru-baru ini mengenai rencana putar ulangnya.

Arifin C. Noer, pengadeganan film-filmnya selalu memikat, membumi dan bernuansa. Wajar karena ia punya latar belakang teater. Kaidah pengadeganan panggung sudah ia kuasai dengan baik, dan ia tinggal memindahkan esensinya ke media seluloid. Suntingan (editing) gambarnya tidak cuma sekadar penggabungan gambar dan suara, melainkan sudah menjadi wahana estetikanya yang khas. Tontonlah opening Suci Sang Primadona (1977) di mana saat terdengar suara “Eros! Kembali, Eros!”, gambar yang nongol malah patung Pancoran. Selain itu sinematografinya selalu inovatif. Filmnya menyajikan kualitas visual yang levelnya lain dari kebanyakan film yang beredar. Bibir Mer (1991), perhatikan kemewahan gambarnya yang sangat lain dari film-film nasional semasanya. Sedangkan tentang film G30SPKI yang akan kita obrolkan kali ini, tentu anda (yang dulu nonton) masih ingat extreme close up shot mulut yang legendaris itu.

Film G30SPKI, sekali lagi ini murni dari sudut pandang estetis belaka, adalah sebuah film hebat. Pengadeganannya detail dan bernuansa. Perhatikan saat Bung Karno (diperankan Umar Khayam) yang sedang sakit-sakitan, berdiri membelakangi kita, pelan-pelan ia menyapukan pandangan. Ini adegan yang menyimpan begitu banyak rasa. Kita diajak ikut merasa…apa gerangan yang berkecamuk di dalam diri Si Bung dan apa yang sedang bergerak di luar istana? Kegamangan ini disajikan secara kelam. Gamang bahwa sebuah bencana akan terjadi tak lama setelah ini.

Itulah bagaimana Arifin C. Noer memulai horror film ini. Jika film-film horror pada lazimnya memuat gambar-gambar setting (misal rumah tua, kuburan dll.) G30SPKI memuatnya dalam gambaran pergolakan tokohnya. Melihat bagaimana Bung Karno menoleh, ikut membuat kita tak menentu. Bahkan menontonnya dalam resolusi terburuk (saya nonton versi VCD) pun nuansa itu masih terasa. Saya ingat betul ini adegan yang bikin saya takut untuk terus nonton. Sampai sekarangpun saya tidak pernah nonton dalam sekuens utuh. Selalu “skip-skip”.

Horror yang berdarah, yakni adegan pembunuhan para Jendral bukanlah hal yang bisa saya nikmati sebagaimana nonton darah di film-film Tarantino. Tarantino mengemas darah secara “cool”, artistik…nggak “njijiki”. Sedangkan atmosfir adegan gitu di G30SPKI samasekali lain. Adegan penyiletan muka jendral dan melemparkannya ke dalam lubang itu sebuah mimpi buruk terburuk di jagad sinema. The most gory scene I’ve ever seen.

Ada banyak adegan yang bisa bikin anda mimpi buruk. Terutama adegan penculikan. Saya sebut beberapa secara acak:
-Adegan saat penjemputan paksa (saya udah lupa nama jendralnya hehehe)
-Adegan slow motion roboh kena tembak (ini saya juga lupa siapa yang ditembak)
-Tertembaknya Ade Irma Suryani
-Adegan basuh muka pakai darah

Oke, tadi saya ungkap kenapa film ini saya sebut film horror. Bahkan saya kasih julukan khusus “historical noir military slasher horror”. Sekarang gimana dengan struktur naratifnya?

G30SPKI, sebagai film yang maunya jadi film sejarah, menggunakan pendekatan linier. Semua dibangun secara kronologis. Tapi sejarah yang asli bukanlah sebuah narasi film. Di sinilah kecerdasan Arifin C. Noer terlihat. Ia menyusun sejarah (versi penguasa saat itu) seakan memang dalam 3 babak. Untuk kebutuhan storytelling film tentunya. Arifin cermat membangun suspense, menyelipkan humor, membikin klimaks secara mengerikan dan memberikan ending yang membuat penontonnya bernafas normal lagi.

Jujur saja, review yang saya tulis ini lebih berdasarkan ingatan daripada mencermati satu per satu adegannya. saking horror-nya film ini di mata saya, buku kuduk saya masih merinding setiap saya memutar ulang di scene tertentu. Paling-paling saya cuma denger audionya, gak berani lihat gambarnya haha (anehnya lha kok saya malah puter berulang-ulang)

Film dibuka dengan kegentingan situasi karena sakitnya Bung Karno. Penggunaan bahasa Mandarin sang dokter dari RRC membuat film ini nampak otentik. Sementara itu rapat para elit PKI ditampilkan dalam semacam high angle shot yang keren. Penampilan D.N. Aidit (diperankan Syu’bah Asa) tak cukup dengan akting namun juga didukung dengan pencahayaan satu arah dan angle yang membangun karakternya sebagai tokoh jahat. Extreme close up shot mata Aidit yang tajam sungguh gila. Seram secara subliminal.

Bersamaan dengan ketegangan politik, disebutkan para militan PKI menggelar latihan di Lubang Buaya. Detail senjata, seragam dan settingnya begitu otentik. Saya pernah baca kalau tak salah adegan tersebut diambil di lokasi aslinya. Jika benar, maka tak salah aura seramnya begitu dapet. Dasar Arifin memang seorang master storytelling, ia masih mengijinkan kita menghela napas karena pengadeganannya yang kadang tegang, kadang lepas. Mungkin ada yang masih ingat kata-kata komandan yang melatih pasukan?

“…sebelum bisa nembak, itu harus bisa baris dulu!”

“Baris aja nggak becus lho… mau ngganyang Nekolim!”

Kapan lagi kita bisa dengar kata-kata se-greget itu dalam film Indonesia?

Sementara itu di luar pagar elit politik, ditampilkan adegan penderitaan rakyat; antrian bahan bakar oleh rakyat jelata. Sebagai katarsis, Arifin C. Noer juga menyelipkan humor. Simak saja karakter seorang bapak relijius yang anti komunis dengan keluarganya yang mulai kesulitan beli beras. Di sela-sela omongannya yang berapi-api soal “kominis” anaknya malah main drum band. Ini lucu sekaligus ironi. Bagi saya ini kayaknya satu-satunya adegan yang tidak menyeramkan hehehe. Kelucuan itu tak cuma dibangun dalam dialog-dialog namun juga lewat sinematografi. Extreme close up mulut yang legendaris itu, selain lucu juga berkarakter kuat. Ini yang saya pikir sebagai master piece shot-nya Arifin C. Noer. Sayang, itu dipotong di versi VCD-nya, namun kemarin baru saya dapat info tautan link dari rekan versi uncut-nya (TVRI version). Cari saja di Youtube.

Menuju suspense. Ketegangan dibangun lewat potongan-potongan berita. Koran-koran yang memuat aksi sepihak PKI. Juga kecemasan yang digambarkan lewat firasat para tokoh militer yang kelak akan jadi korban. Dalam sebuah adegan, istri seorang tokoh salah menerka rancangan gambar museum sebagai gambar kuburan. Simak juga dialog-dialog yang seakan mengisyaratkan tragedi.

“Malam apa ini?”
“Malam Jum’at legi.”

Betapa dahsyat Arifin C. Noer, membangun suspense.

Menjelang subuh, pergantian hari yang kalau dalam banyak film horror merupakan akhir dari sebuah terror, dalam film ini malah sebaliknya. G30SPKI memulai terrornya justru sejak subuh. Derap kaki pasukan penculik, keremangan cahaya dan jelas satu hal…

Musik!

Horror film ini jelas tak kan semakin mencekam tanpa satu kunci penting!… Musik dari Embie C. Noer!

Ini perlu saya sebut secara khusus karena memori saya terhadap film ini tak cuma potongan adegan namun juga potongan musik. Musik utamanya kalo tak salah cuma 3 atau 4 not. Akor yang dibangun lewat bunyi synthetizer organ (kalau saya tak salah mencermati) “dihinggapi” dengan alunan alat musik tiup semacam saluang. Sekali lagi itu cuma kesan dengaran saya. Saya belum sempet nanya detail ini ke komposernya. Pak Embie pernah bilang kalau masternya ilang dilalap banjir.

Musik ini tak cuma menghiasi, mengilustrasi, melainkan sudah menjadi jiwa film itu sendiri. Berpadu dengan gambar berpencahayaan rendah, musik ini jadi mimpi buruk mengendap di bawah sadar. Buktinya? Ya itu….sampai sekarang saya masih ngeri menonton film ini secara utuh hehehe

Klimaksnya tentu adegan penyiksaan. Saya selalu tak betah menontonnya. Bahkan saat quote memorable “Darah itu merah, Jendral!” diucapkan, udah bikin saya ngeri. Di sini G30SPKI menunjukkan kelas sebagai film slasher…yaitu…genre “beleh-belehan”. Para Jendral disiksa dengan alat, ditusuk dengan bayonet, dipukuli, ditendangi, disundut rokok, dicungkil matanya dan lalu dimauskkan ke sumur tua. Tak cukup sampai di situ. Di atasnya ditanam pohon pisang. Itulah puncak horror film ini. Tentu saja akan lain kalau anda baca sejarah asli dari banyak sumber. Konon horror di realitanya malah berlangsung setelah 30 September kan?

Lalu sebagai resolusi cerita, muncullah Pak Harto (diperankan Amoroso Katmasi) sebagai penyelamat bangsa. Di sini film G30SPKI jadi nampak kayak film perang. Ada tentara-tentara bergerak dan kendaraan tempur. Ketika saya menontonnya saat masih kecil, di sinilah saya mulai merasa lega. Tidak takut lagi. TNI bersama Pancasila telah menumpas kekuatan setan hehehe

Ada untungnya film ini diproduksi negara. Jadinya budget nggak terlalu masalah bagi sang filmmaker. G30SPKI begitu detail. Naskahnya, meski terlalu panjang, memuat hal-hal yang secara sinematik penting. Arifin C. Noer adalah penutur kisah yang hebat. Maklum ia bisa nulis dan ngerti dramaturgi. Tapi ia juga punya tim yang bagus. Filmnya sangat well made. Adapun beban gugatan sejarah, itulah yang menjadi kelemahan non teknis satu-satunnya. Ya mau gimana lagi?

Entah sudah berapa kali saya ngomong….G30SPKI yang disutradari Arifin C. Noer adalah satu-satunya film terhebat yang pernah dibikin orang Indonesia. Dan selalu saya katakan itu dengan ironi…sayangnya ini film propaganda hahaha.

Lalu saya dengar ada wacana usulan mau dibikin remake?

Pendapat saya…nggak bisa. Itu nggak akan berhasil. Nggak ada yang akan menandingi Arifin C. Noer. Tapi ya monggo saja sih dengan segala resiko, kekurangan, kelebihan dan dampaknya. Tapi jangan pakai naskah Arifin C. Noer lah. Film ini sudah menjadi sejarah estetika sinema Indonesia.

Keterangan gambar:
Arifin C. Noer (pakai kacamata) menyutradarai film G30SPKI. Dokumen TEMPO.

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: