Revolusi Jadi Pilihan Kaum Anti-NKRI

Kaum Marxis percaya, bahwa dalam proses peralihan kekuasaan, kelas yang berkuasa tidak akan menyerahkan kedudukan istimewanya secara damai. Karenanya, Lenin berpendapat bahwa peralihan ke sosialisme hanya dapat dicapai lewat sebuah pengambil alihan kekuasaan secara paksa atau revolusi. 
Ketika Kautsky bertanya: “mengapa harus revolusi, mengapa tidak menunggu hingga mendapat dukungan rakyat?”  Maka Lenin menjawab dengan lugas: ” karena kita tidak akan memperoleh mayoritas suara apabila kita tidak merampasnya dari tangan kapitalis”.
Konsepsi ini menunjukkan bahwa kunci revolusi berada di tangan elit, dan proses jalannya revolusi juga berada dalam bimbingan kelompok elit. Karena hanya merekalah yang memiliki kesadaran arah perubahan masyarakat secara terperinci.
Berbeda dengan Lenin, Engels sebelumnya membuka kemungkinan bahwa peralihan ke arah sosialisme dapat berjalan secara evolutif. Adalah sangat penting untuk melakukan kerja propaganda secara perlahan, sabar lewat program panjang untuk memenangkan perjuangan kelas. Gramsci melontarkan gagasan dua jalan perjuangan, yakni lewat gerakan yang langsung ditujukan untuk menundukkan kaum kapitalis borjuasi dan gerakan kedudukan yakni lewat penguasaan ideologi yang menyebar di setiap lini dan bersifat hegemonik. Gramsci tidak sekedar mengubah, tapi membangun suatu corak masyarakat.
Ternyata, konsepsi teoritis ini, ketika dipraktikkan di Indonesia tidak hanya menjadi monopoli kaum marxis. Kaum islamis anti NKRI juga mulai meniru gaya Marxian. Tanpa membaca Gramsci, gerakan mereka saat ini sudah sampai kepada tahap gerakan kedudukan.
Masalahnya, apakah pemerintah yang katanya nasionalis ini, apakah mau membubarkan organisasi separatisme yang bercirikan anti NKRI, anti Pancasila dan anti Indonesia Raya?

Ditulis oleh: Humaidi

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..