Sabar Berbuah Nikmat

Gus Acun merupakan fenomena kecil dari banyaknya Gus nyleneh dalam lingkungan pesantren salaf. Berbadan kurus, rambut panjang, kumis tipis, sok pasti perokok berat plus peminum kopi sejati. Maklum, tiap malam boleh dikatakan tak terlihat tidur. Kalau sudah jam dua belas ke atas, kerjaannya ziarah ke makam wali di perkampungannya. Cerita nylenehnya juga terjadi ketika Gus Acun masih mondok, sering baru beberapa minggu kiriman dari Abahnya sudah habis. Karena peristiwa ini berlangsung sering, maka Abahnya Gus Acun, tabayyun kepada teman mondok Gus Acun. Apa sebenarnya yang dilakukan Gus Acun. Selidik punya selidik, ternyata Gus Acun senang mayoran ( makan-makan bareng ) dengan teman-temannya. Gus Acun punya hobi mentraktir. Abah Gus Acun adalah Kyai, yang tajam mata batinnya, tahu kelakuan anaknya seperti itu, malah ditambah besetelan mondok Gus Acun.

Gus Acun punya sebelas saudara, yang semuanya menjadi orang biasa, bahkan ada yang kurang mampu. Hanya Gus Acun lah yang menonjol mewarisi ilmu kekyaian Abahnya. Hal ini bisa terlihat dari seringnya tamu yang datang untuk meminta doa dan ijazah. Mungkin Gus Acun sedang menatapi makom tajrid, yang tidak begitu memperhatikan  bisnis dunia. Lakunya sebagian besar ngaji, wirid, ziarah, nolong orang, bikin orang seneng. Dah itu saja.

Sampai suatu saat, terjadi musibah, saudara laki-laki Gus Acun ditangkap polisi karena punya permasalahan dengan bosnya. Mondar-mandir Gus Acun ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah saudaranya dan membebaskan dari jeratan pasal. Puncaknya, Gus Acun harus menjual mobil yang baru dibelinya demi kebebasan saudaranya.

Pengorbanan Gus Acun tidak sia-sia, saudaranya bisa pulang ke rumah serta dapat beraktifitas seperti biasanya.

Musibah itu tak sampai di situ. Entah karena iri atau apa, tiba-tiba saudara Gus Acun yang telah ditolongnya meminta Gus Acun untuk segera pindah rumah, karena akan ditempati yang bersangkutan. Ya Allah, boro-boro terima kasih, rumah yang ditempati Gus Acun pun diminta.

Gus Acun pun  pasrah, dia tak mau ribut dengan saudara, dia hanya minta waktu empat bulan untuk mencari tempat tinggal baru.

Karena kesabarannya, Gus Acun dapat membeli tanah di kampung sebelah, tapi belum dapat membangun rumah karena belum ada biaya. Waktu terus berjalan, ternyata waktu yang ditentukan kurang satu bulan.

Di malam yang penuh kesedihan itu, Gus Acun berziarah ke makam Abahnya. Layaknya ketika hidup, dia menyampaikan permasalahannya, seperti orang yang sedang mina nasehat. Entah itu mimpi atau bukan, Gus Acun seperti didatangi Abahnya, yang mendoakan dan mendorong untuk melanjutkan pembangunan tempat tinggal baru plus pesantren. Paginya, Gus Acun,berangkat menuju lokasi tanah yang akan dibangun. Bertepatan lokasinya di dekat sebuah rumah makan yang hampir tutup karena tak ada pengunjungnya. Gus Acun, menuju mushola rumah makan itu, untuk sholat dhuha, dan bermunajat kepada Allah.

Tak diduga pemilik rumah makan itu mendatangi Gus Acun. Gus Acun pun menghampirinya. Kemudian Gus Acun berkata kepada pemilik rumah makan,bahwa Gus Acun akan membangun majelis taklim dan pesantren di lokasi tersebut, jika dia mau membantunya, insya Allah rumah makannya akan ramai kembali dan usahanya lancar-barokah.

Masya Allah, ternyata pemilik rumah makan menyanggupi membiayai pembangunan pesantren tersebut. Dan lambat laun banyak orang yang ikut membantu pembangunan baik berupa material maupun tenaga.

Akhirnya Gus Acun dapat berpindah di tempat tinggal barunya yang juga digunakan untuk majelis taklim dan pesantren. Sabar berbuah nikmat.

Tulis tanggapan anda: