Sahaya

Kemiskinan bukan makhluk asing dari planet lain, tiba di bumi menjalankan misi penghancuran seperti dalam film-film barat. Bicara kemiskinan, seperti omong kosong. Barangkali lantaran kemiskinan seolah keniscayaan takdir, “bagai gerimis yang selalu membayang” ujar WS. Rendra. Ia dianggap “penyakit takdir”, mustahil dimusnahkan.
Kemiskinan, pada suatu hari yang mengingat manusia bernama buruh, melekat bagai kutukan. Kutukan takdir, kutukan sejarah. Buruh, apa pun alasannya, bukan makhluk asing dari planet nun jauh di sana. Ia makhluk bumi. Ia pun, mungkin juga, sebagai kita, di tengah congkaknya modal raksasa yang menciptakan jurang gelap keterasingan, kesenjangan.
Lukisan-lukisan pelukis Jerman, Kathe Kollwitz, menggambarkan potret kemiskinan yang kelam, muram, terkutuk, mengerikan. Pun dalam cerita-cerita Hamsad Rangkuti dan Joni Ariadinata. Kemiskinan jadi obyek, selalu menarik untuk dilukis dan dikisahkan, baik secara realis maupun metaforis dengan diksi-diksi mencengangkan. Ada kisah kekejian, kehinaan, derita, tragedi tiada tara. Orang yang tak miskin mengagumi, meneteskan air mata haru biru, untuk itu orang yang tak miskin rela membeli. Kemiskinan pun menjadi dagangan, dipertontonkan dengan iklan, ditangisi sambil diperhinakan secara diam-diam atau terang-terangan sambil makan kacang.
Dalam kearifan Islam, kefakiran adalah subyek. Bukan belaka obyek. Setiap hamba ialah fakir di hadapan Allah. Agar ia tak congkak. Ketika melihat kefakiran di depan matanya, kefakiran yang terdengar telinganya, kefakiran yang berada di sekelilingnya, tak lain adalah dirinya sendiri. Agar ia tergerak meringankan derita orang lain yang tak lain adalah derita dirinya sendiri.
Tatkala kefakiran dipandang sebagai obyek, congkaklah yang melimpah. Ia menolong dengan imbal-balik, menghutangkan jasa, mengandaikan penderitaan yang lemah sebagai alat pemujaan terhadap status. Kefakiran jadi komoditas, ditolong sebatas berbasa-basi sosial. Tak menyimpan tanggungjawab mengentaskan, lantaran kefakiran cuma dianggap kata ganti orang kedua dan ketiga; “kemiskinan bukan aku”, tapi “kemiskinan itu dia, kamu, mereka”.
Segala ungkapan perihal hidup yang lebih baik, omong kosong dalam hidup yang diberaki kemiskinan. Benar, bahwa manusia selalu ingin hidup lebih baik dan sejahtera sebagaimana didalilkan Maxim Gorky. Tapi, bisakah ia mewujudkan itu dengan sendirinya?
Dalam khazanah Islam, tak satu pun teks suci menyatakan atau menyinggung, baik secara tegas maupun metaforis, bahwa kemiskinan terkutuk. Sebaliknya, nyaris seluruh teks suci dalam Islam mengutuk kekayaan atau kekuasaan yang kikir atau bakhil. Apa artinya? Tak lain setiap orang beriman harus menyadari kefakiran dirinya. Tanpa kesadaran terhadap kefakiran diri, mustahil merasakan, apalagi meringankan atau—lebih jauh—mengentaskan, kefakiran orang lain. Nilai keimanan yang vital dalam khazanah Islam, diukur dari kesadaran kemanusiaan; diri sebagai seorang hamba Allah belaka, fakir, tiada daya-upaya. Manusia itu fakir, fakir adalah subyek yang bergerak menuju obyek, yang adalah subyek itu sendiri.
Tak ada hamba sahaya yang melimpah-ruah. Ketika ia melimpah, maka didapati ia tak lagi sahaya. Ia telah menjelma juragan. Hamba bukan juragan. Seorang hamba sahaya adalah yang dikuasai, tak punya kuasa apa-apa. Sehingga ia hidup dari belas-kasih juragannya. Metafora ini menarik, lantaran dalam firman Allah, kata “hamba sahaya” adalah status sejati manusia. “Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk menghamba” (QS. adh-Dhariyat:56).
Membiarkan, mengeksploitasi, tak merasa turut dalam derita kefakiran, menempatkannya sebagai obyek adalah kesombongan. Sifat sombong bukan sifat “hamba sahaya” sebagaimana pesan ayat Allah dalam Qur’an. Setidaknya, segala omong kosong perihal kemiskinan tak belaka percuma dalam rasa yang turut. Syukur-syukur tergerak sebagai subyek yang meringankan atau mengentaskan derita yang tak putus sepanjang hidup manusia, tanpa basa-basi yang memuakkan dan menyesaki sejarah.
Apa yang memedihkan dalam hidup si fakir, tak lain adalah keterasingan dirinya. Karl Marx bicara perihal keterasingan. Tapi, siapa yang lebih pedih dari seorang hamba sahaya yang tak memiliki apa-apa, yang tak mempunyai dunia, bahkan dirinya sendiri? Seorang buruh batu pembuat rumah dan bangunan megah, tak lagi dapat menginjakkan kaki pada lantai yang telah dibuat dengan seluruh dayanya sebagai manusia. Buruh pemetik kopi tak pernah menikmati kopi berkualitas yang dipetik nyaris seumur hidupnya.
Jika manusia hanya hamba sahaya, sejatinya Tuhan berpesan; semua manusia senasib, harus saling meringankan, mengentaskan, membebaskan di antara sesama, setinggi atau serendah apa pun status yang melekat padanya. Ia tak mempunyai dunia, ia hanya mengolah, ia terikat janji dengan-Nya sebagai hamba, janji yang tak mungkin diingkari. Jika diingkari, ia telah mengingkari iman yang berarti mengingkari fitrahnya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang maha esa.
Muncar, 2017
(Diambil dari wall Facebook: Fiq) 

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..