SALAFI JIHADI : DARI AL QAEDA HINGGA ISIS

DR.(HC). KH. As’ad Said Ali

(Mantan Wakabin dan Pembina Yayasan Prakarsa Kemandirian dan Ketahanan Bangsa)

Terorisme global yang berkembang sejak awal 1990-an merupakan perwujudan sikap dan pikiran kaum Salafi Jihadi yang berdasarkan pada pemahaman agama secara tekstual. Salafi Jihadi bersumber pada ajaran Sayyid Qutub dalam kitabnya Al Ma’alim Fi al Tariq. Inti ajarannya adalah bahwa dunia sekarang berada dalam sistem jahiliyah karena dikuasai penguasa Taghut yang memerintah berdasarkan hukum buatan manusia bukan hukum Allah. Kapitalisme, komunisme, dan faham kebangsaan adalah bentuk dari sistem jahiliyah yang harus diganti dengan Khilafah Islamiyah. Untuk mencapainya  harus menggunakan metode “Manhaj Rabbani” yaitu penyerahan diri secara total  kepada Allah SWT dan bersifat holistik. Penjabarannya, kaum muslimin wajib melakukan jihad (perang) untuk merebut kekuasaan. Siapapun yang bersekutu dengan Taghut   meskipun mengaku beragama Islam dianggap kafir. Ajaran takfiri tersebut bersandar pada pendapat Ibnu Taimiyah yang menganggap keturunan bangsa Tartar yang berkuasa di Baghdad pasca penyerbuan Jengis Khan, meskipun telah memeluk Islam dianggap kafir, karena menerapkan sinkretisme, hukum campuran Islam dan tradisi. Sedangkan Jihad qital merujuk pada pendapat Ibnu Qoyyum yang menafsirkan  Surat At Taubah ayat 5 sebagai perintah jihad (perang)  dan menghapus jihad persuasif yang turun pada masa sebelumnya (nasah mansuh). Tentu pendapat ini berbeda dengan pendapat jumhur ulama.

Para penerus Salafi Jihadi menyempurnakan ajaran Qutb antara lain Abdul Salam Faraj (Tanzimul Jihad), Umar Abdurahman (Jamaah Islamiah Mesir) dan Abdullah Azzam (Ikhwanul Muslimin). Dalam kitabnya Al Faridhah Al Ghaibah (kewajiban yang hilang), Abdul Salam Faraj memperjelas tentang  siapa saja  yang termasuk kafir yakni penguasa muslim yang tidak menerapkan syariat Islam secara Kaffah dan harus diperangi lebih dahulu, sehingga tercipta doktrin “musuh dekat  (penguasa di negara sendiri) dan musuh jauh (Amerika Serikat dan Negara Barat)”. Umar Abdurahman dalam bukunya Kalimatul Haq mempertegas  pendapat Qutb tentang makna  jahiliyah. Bagi Umar Abdurahman, jahiliyah modern yang dipimpin oleh Amerika  Serikat  harus  dihapuskan  melalui  jihad  qital . Abdullah Azzam menambahkan doktrin bahwa tujuan jihad yang utama adalah membebaskan wilayah Islam yang dikuasai kaum kafir diseluruh dunia khususnya tanah Palestina. Jihad bagi mereka hanya berarti perang dan menjadi fardlu ‘Ain, suatu tafsir hukum yang kontroversial.

Selama  perang Afganistan (1981 sampai 1989), ajaran radikal tersebut diindoktrinasikan kepada sukarelawan dari seluruh dunia Islam yang sebagian besar adalah kelompok oposisi di negara masing-masing misalnya anggauta DI/NII.  Mereka inilah yang sekarang dianggap bagian sebagai jaringan terorisme Internasional. Selama perjalanan waktu dari 1990 sampai sekarang terdapat dua generasi radikalisme dan kaum terorisme Global yakni generasi Al Qaeda dan generasi ISIS. Keduanya exist sampai saat ini dan masing masing mempunyai pengikut di Indonesia yang disatukan oleh semangat melawan jahiliyah modern dengan jihad, Istisyhadah (bom sahid/kamikaze), ightiyal (pembuhan diam-diam) ,takfiri dan sebagainya.

Generasi Pertama AL QAEDA: Embrionya adalah  para sukarelawan atau mujahidin experang Afganistan yang merupakan proxy war antara Blok Barat  melawan Blok Timur. Negara negara Teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi mendukung Blok Barat didasarkan pada kepentingan regional khususnya menghadapi Iran dan Iraq. Melalui Rabithah Alam Islami, Arab Saudi memobilisir sukarelawan dari negara negara Islam untuk diterjunkan dalam perang melawan Rusia bahumembahu bersama dengan para mujahidin Afganistan. Para sukarelawan selain memperoleh latihan ketrampilan militer termasuk teror dan cara membuat bom, juga mendapat pengalaman terjun langsung dalam pertempuran, disamping gemblengan ideologis dari tokoh tokoh Salafi Jihadi seperti Abdullah Azam, Usama bin Ladin, Aiman Al zawahiri, Umar Abdurahman.

Setelah perang usai, kaum mujahidin sebagian besar meneruskan perjuangan membantu perang di Chechnya, Chechnya,  Bosnia, Kosovo dan Filipina Selatan. Sebagian menyebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika karena ditolak masuk kembali ke negara asal, tapi mendapat suaka politik dengan alasan hak azasi manusia. Secara diam diam Osama mengorganisir  expejuang Afgan dengan mendirikan camp militer di Yaman. Dari Yaman itulah Osama bin Ladin (OBL) mengatur aksi terorisme ke berbagai negara misalnya peledakan gedung WTC jilid pertama pd 1993, ledakan asrama militer tentara NATO di Riyadh  dan Al khobar pd 1996,  ledakan kedutaan besar Israel di Nairobi dan Daressalam pada 1998. Karena aksi aksinya tersebut, OBL diburu banyak negara termasuk Arab Saudi. Akhirnya pada 1996, OBL pindah ke Afganistan dan selanjutnya mendeklarasikan Al Qaeda pada Juni 1998. Dari Afganistan itu, Al Qaeda  berhasil meledakkan menara  kembar WTC yang dikenal dengan “Aksi 11 September 2001”. 

Indonesia termasuk menjadi incaran aksi teror dimulai dari bom Natal pada desember 2000 sampai bom Marriot – Ritz Carlton 2010 yang dilakukannoleh oleh kaki tangannya Al Jamaah Al Islamiah dengan tokohnya Hambali, Dr Azhari dan Nurdin Top. Dengan terusirnya Osama dari Afganistan dan kemudian bersembunyi di Pakistan sampai tewasnya pada 2010, kekuatan Al Qaeda menurun dan muncul kekuatan teroris baru yakni ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) atau DAIS (Daulah Islamiyah Fi Iraq wa Sham).

ISIS atau DAIS:  Embrio ISIS adalah Jamaah Tauhid Wal Jihad yang dibentuk oleh radikalis dari Yordania, Abu Mus’ab Al Zarqawi. Ketika Usama terusir Afganistan pada 2001, Abu Mus’ab dan pasukannya berada di Afganistan sebagai bagian dari Al Qaeda. Segera Abu Mus’ab  menggeser pasukannya ke kota Heratz terletak diperbatasan Iran-Iraq. Ketika Saddam jatuh pada 2003, Abu Mus’ab pindah ke Iraq utara dan kemudian membentuk Al Qaeda Fi Iraq dengan kekuatan 2500 personil campuran dari Yordania, Syria dan Chehnya. Pada awal 2006, Abu Mus’ab bersekutu dengan 5 kelompok gerilyawan Sunni dan pendukung Saddam Husein membentuk Dewan Shura Mujahidin. Dibawah  pimpinan baru, Abu Ayub Al Masri yang menggantikan Abu Mus’ab Al Zarqawi yang tewas terkena serangan drone, memproklamirkan Islamic State In Iraq atau ISI pada 13 Oktober 2006. Ketika pecah Arab Spring di Syria pada 2011, sebagian pasukan Al Qaeda Iraq asal Syria kembali kenegaranya  dan membentuk Jabhah Al Nusra dipimpin Mohammad Al Golani. Terjadi perkembangan yang mengejutkan ketika pemimpin baru Al Qaeda Iraq, Abu Bakr Al Baghdadi menyatakan keluar dari Al Qaeda dan pada April 2013 mendeklarasikan ISIS dan menekan Jabhah Al Nusra untuk begabung, namun ditolak. Dengan demikian terjadi perpisahan antara ISIS dengan Al Qaeda. Selanjutnya, ISIS pada Oktober 2014 mendeklarasikan Khilafah Islamiyah dan segera mendapat dukungan dari kaum radikal Mesir, Arab Saudi, Yaman, Libya, Tunisia, Nigeria, Kaukus Utara dan Asia Selatan.

Di Indonesia, radikalis yang mendukung ISIS adalah Anshar Al Daulah dan Anshar Al Khilafah, sedangkan pendukung  Al Qaeda (Jabhah Al Nusra) adalah  Al jamaah Islamiyah dan Neo Jamaah Islamiyah. Sejumlah aktivis organisasi tersebut masih berada di Syria, Iraq dan Yaman serta sebagian bergabung dengan kelompok ISIS di Filipina Selatan. Dalam hal ini, ISIS telah menjadikan Filipina sebagai pusat kegiatannya di Asia Tenggara terutama sebagai tempat pelatihan militer. Tidak ada cara lain bagi NU dan  Muslimat  kecuali mendukung kebijakan deradikalisasi pemerintah, terutama memperkuat komitmen terhadap ideologi negara. Disamping itu penguatan terhadap Aswaja merupakan keniscayaan, apalagi kalau dibarengi dengan memahami kontra argumen yang bersifat teologis melawan doktrin takfiri, jihad qital dan khilafah.