Salahkah Ahok Diberi Gelar Sunan Kalijodo? Ini Jawabannya

Jakarta, Jagatngopi.com-Beberapa hari yang lalu media sosial ramai memperbincangkan, Sosok Sunan Kalijodo yang dinisbatkan oleh Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), yang berawal dari, ketua Umum GP Anshor secara bercanda menyebut Basuki Cahaya Purnama sebagai Sunan Kalijodo. Mereka membikin meme dan status di medsos yg membuly Anshor, seolah Anshor telah mencampur adukkan Islam dengan agama lain karena menyematkan gelar “sunan” pada non muslim, China lagi. Ansor juga dituduh telah menjual agama, menjadi anthek kaum kapitalis non-muslim dan berbagai tuduhan keji lainnya.

Anehnya, ketika kata “sunan” yg mengandung bid’ah tersebut disematkan pada seseorang yang mereka benci, tiba-tiba mereka bereaksi keras. Pemberian gelar sunan pada non muslim, seolah-olah merupakan penyimpangan agama dan pelecehan Islam atau mencampur adukkan ajaran Islam.

Oleh karena itu, untuk meradam kemarahan, dan untuk menambah ilmu pengetahuan sehingga kita tidak saling menyalahkan, alangkah baiknya kita memahami makna kata “sunan” supaya tahu penggunaan dan penempatannya secara tepat.

Kata “sunan” berasal dari bahasa Jawa “susuhunan” yang berarti “yang terhormat” atau “yang dimuliakan”. Ada juga yg menyatakan dari bahasa China Jùnnàn (cunan) yg berarti pejabat dari kasta Nan. Pada masa kerajaan Islam di Jawa kata “Sunan” digunakan sebagai bentuk pemerintahan yg posisinya sama dengan Kesultanan dan dikenal dengan “kasunanan”. Jadi sebenarnya kata “sunan” lebih dekat pada pengertian posisi jabatan daripada posisi keagamaan.

Karena pada saat itu seorang pejabat dianggap sebagai orang yg alim agama maka kata “sunan” akhirnya menjadi berkonotasi agama seperti Sunan Ngudung, Sunan Pandanaran dan semua Walisongo dipanggil dengan sebutan Sunan, karena semua anggota Walisongo adalah pejabat negara Kesultanan Demak. Oleh orang Jawa, kata “sunan” ini akhirnya digunakan sebagai kata penghormatan untuk menyebut orang-orang yang dianggap terhormat, termasuk para pejabat.

Jelas di sini terlihat bahwa kata “sunan” bukanlah sebutan yg mencerminkan derajad atau maqam keagamaan yg terkait dg kondisi spiritualitas atau kealiman seseorang di bidang agama Islam. Tetapi hanya sebutan penghormatan yg terkait dengan masalah kultural dan konstruksi sosial bukan teologis. Meskipun memiliki keterkiatan dg soal keislaman tapi itu hanya simbolik dan kultural

Masalah “sunan” ini sama dg kata “wali”. Kalau kata “wali” memang berasal dari bahasa Arab dan beberapa kali disebutkan dalam Al-qur’an. Kata Wali bermakna pelindung atau kepercayaan, waliyullah berarti seseorang yg menjadi kepercayaan Allah. Dari awal, kata “wali” memang berkonotasi religius atau terkait dengan maqam keimanan dan kondisi religiusitas seseorang. Namun dalam perkembangannya kata “wali” mengalami transformasi makna yang berkonotasi jabatan atau berfungsi perlindungan seperti kata “wali kota”, “wali murid”, “wali santri” dan sejenisnya.

Jelas, di sini orang-orang yg ribut soal sebutan “sunan Kalijodo” kepada Ahok adalah orang yang berpikir dangkal yang tidak memahami akar, makna dan fungsi suatu kata baik secara sosiologis atau etimologis. Atau mereka sebenarnya mengerti tetapi karena sudah terbakar kebencian dan apriori akibat semangat keberagamaan yang salah kaprah akhirnya menggunakan simbol dan logika agama yang dipaksakan untuk meributkan masalah ini.