Santri Jadi Kyai Deso

Orang-orang Desa Mugiwaras memanggilnya Abah Jiun. Sosok Kyai Deso yang alim dengan ilmunya, beramal dengan ilmunya, dan ikhlas dalam pengamalannya, plus berjiwa wirausaha.
Abah Jiun sebenarnya pendatang, dia berasal dari desa Sokowangi, yang kurang lebih berjarak 30 KM dari desa Mugiwaras. Abah Jiun menjadi warga Mugiwaras setelah mempersunting gadis asli situ bernama Jamilah, yang kemudian dikenl Umi Jamilah.
Abah Jiun sendiri pernah nyantri di pondok pesantren yang terkenal laku ngrowotnya ( berpuasa dan tidak makan nasi ) yaitu pondok Tegalrejo. Kisah singkat dari pertemuannya dengan Umi Jamilah adalah karena setelah boyong dari mondok, Abah Jiun berdagang tembakau keliling dengan naik sepeda ontel. Desa Mugiwaras salah satu daerah penjualan tembakau Abah Jiun. Kalau sudah jodoh memang banyak jalan, sampai akhirnya Abah Jiun menikahi Umi Jamilah. Walaupun jarak usia cukup tajam, hampir 20 tahun, yang tentunya lebih tua Abah Jiun, tapi tak menjadi hambatan untuk hidup membentuk keluarga.
Kini Abah Jiun sudah sah menjadi suami Umi Jamilah, saatnya hidup dengan mertua. Sebenarnya secara tradisi sangat terlihat perbedaannya. Keluarga Umi Jamilah adalah keluarga biasa saja, orang tuanya, hanya buruh tani. Adapun Abah Jirun, jelas, kelurga berlatar belakang santri.
Tapi Abah Jiun memang santri yang luar biasa. Tujuan dia menikah tidak hanya sekedar membentuk keluarga, tapi punya cita-cita luhur, ingin juga merubah masyarakat Mugiwaras yang asalnya tidak tertarik ngaji menjadi seneng ngaji, yang asalnya masih enggan sholat menjadi terbiasa sholat, bahasa santrinya nasyrul ilmi.
Setelah berkenalan dengan lingkungan Desa Mugiwaras dan tentunya mengenal tetangga rumah, beberapa bulan berikutnya, dengan persetujuan mertuanya, Abah Jiun mulai membuka pengajian Qur`an dari pengenalan huruf alif ba ta tsa dan seterusnya. Di sela-sela pengajian juga diberi materi cara berwudhu dan sholat yang benar.
Saat pertama, yang ngaji hanya beberapa anak. Ini menjadi kesempatan bagi Abah Jiun untuk mengkader muridnya sebagai badalnya untuk mengajari anak-anak yang masih dasar mengajinya.
Lama-kelamaan, muridnya berkembang dan bertambah. Tentunya dengan rumah yang berukuran kecil, sudah tidak bisa menampung anak-anak yang akan mengaji. Apalagi ketika musim hujan turun, sungguh memperihatinkan.
Akhirnya ada warga desa yang dengan senang hati dan sukarela, memberikan tanahnya untuk majelis taklim. Dicarilah dana pembangunan majleis taklim. Seiring terkumpulnya dana, pembangun pun dimulai. Tak selang beberapa bulan, majelis pun berdiri walaupun masih tujuh puluh persen, tetapi sudah bisa digunakan. Kegiatan ngaji pindah ke majelis taklim. Seiring berjalannya kegiatan pengajian Qur`an dan materi fiqih, untuk memperluas kebaikan, maka dibentuklah jam`iyyah yasin wa tahlil.
Abah Jiun juga menambah kegiatan pengajian yang sudah istiqomah bertahun-tahun, yaitu pengajian al ibriz tiap ba`da isya, serta istighosah setiap malam Sabtu.
Dengan tetap istiqomah mengaji dan beristighosah, ternyata Allah Swt memberikan kemudahan bagi usaha Abah Jiun. Dari berdagang tembakau keliling, usahanya dikembangkan menjadi jasa pemotongan kayu. Lalu membuka jasa pengglepungan, sampai membuka pertokoan yang lengkap.
Dari semangat wirausahanya ini, maka lahirlah minimarket dengan nama Abah. Minimarket ini unik, karena menyediakan perlengkapan dari manusia lahir, hidup sampai meninggal dunia. Menjual popok bayi sampai kain kafan orang mati.
Keberhasilan ekonomi tak merubah perilaku Abah Jiun. Dia tetap mengajar mengaji seperti dulu kala, tetap memakai simbol khas santri. Abah Jiun tak pernah lepas kopyah hitamnya, dan tak pernah lepas sarung. Mottonya sederhana “ Dadi Santri Ngajine Sing Mempeng “ artinya “Jadi santri ngajinya yang sungguh-sungguh”.