Santri Jaga Malam

Malam itu, Kang Dudin, Kang Narto dan Kang Samani, serta dua orang temannya yang lain mendapat giliran jaga malam. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para petugas jaga malam mulai beraksi mengambil posisi. Kang dudin dan kawan-kawan, mengambil meja dan kursi panjang untuk dipindahkan ke depan ruang kantor madrasah, yang dijadikan posko jaga malam.

Beberapa jajan cemilan, wedang kopi, tak lupa disiapkan untuk teman berjaga malam agar tidak ngantuk. Itu semua disiapkan dari urunan bersama.

Sambil berjaga malam, ada yang ngobrol ngalor ngidul, ada yang belajar ada juga yang ngantuk.

Tak terasa jam menunjukkan pukul satu. Waktunya untuk berkeliiling mengontrol keamanan lingkungan pondok.

Kang Dudin dengan Kang Narto mengontrol di lingkungan madrasah dan samping ndalem Romo Kyai, Kang Samani jaga gawang, serta dua orang lainnya mengontrol di samping pondok putra. Setelah selesai, kembali posko di depan madrasah.

Ketika Kang Dudin dan kawan-kawan jaga malam, saat itu sedang musim buah mangga. Beberapa pohon mangga yang ada di depan ndalem, buahnya sudah mulai siap dipetik.

Mulai ada ide muncul dari Kang Samani,

Kang Samani :” Toy, lihat tuh, mangganya sudah besar-besar, sepertinya enak.”

Kang Narto :”Terus maksudnya apa wel, mau metik tuh buah mangga.”

Kang Dudin :” Husss..kalau nanti ketahuan gimana ..?”

Kang Samani :” Tenang din, aku nanti sama narto yang naik, sampeyan yang ngumpulin..”

Kang Dudin :” okey lah kalau begitu, tapi jangan lama-lama.”

Akhirnya Kang Samani dan Kang Naro naik pohon mangga dan siap memetiknya. Buah mangga dipetik, Kang Nahdudin menangkap dan mengumpulkan dari bawah.

Setelah dirasa cukup, ketiga santri mbeling ini kembali ke posko memakan buah mangga yang dipetik dengan teman-temannya.

Selang tiga puluh menit kemudian, Romo Kyai, dan duduk di depan teras. Beliau berdehem-dehem, memberikan kode kepada santri yang jaga, apakah tidur semua atau masih ada yang melek.

Kang Dudin dan kawan-kawan, kaget, dan berusaha menyembunyikan mangga yang sedang dimakannya. Dalam hati mereka bergumam “ untung tidak ketahuan”.

Memang sudah menjadi kebiasaan Romo Kyai, setiap jam dua malam, selalu keluar untuk mengontrol petugas jaga malam, barangkali tidur semua.

Kalau petugas jaga malam tidur semua, biasanya didatangi Romo Kyai untuk dibangunkan.

Kini jam menunjukkan pukul tiga dini hari, tiga orang petugas jaga malam, langsung menuju bilik-bilik santri, untuk membangunkan para santri.

Hal ini dilakukan terus-menerus sampai pelaksanakaan  sholat subuh. Petugas jaga malam mengoprak-oprak para santri untuk sholat jamaah subuh di masjid.

Jadi, di pondok, santri sudah terbiasa jaga malam atau ronda siskamling.

Tulis tanggapan anda: