Say No, untuk Pernikahan Anak

Berdasarkan hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI), tahun 2012, perkawinan usia anak masih banyak terjadi di Indonesia. 1 dari 6 atau 17 % ana erenpuan menikah sebelum berusia 18 tahun. Angka ini terlihat rendah, namun dari sisi jumlah, Indonesia berada di peringkat ke -7 untuk pernikahan usia anak. Hasil analisa data perkawinan anak yang dirilis oleh BPS dan Unicef menengarai terdapat 340.000 ana perempuan yang menikah sebelum 18 tahun. Perkawinan anak menimbulkan dampak buruk bagi anak anak baik anak lelaki dan lebih buruk lagi bagi anak perempuan. Resiko kematian mengintai bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menikah dini serta kemungkinan dua kali lebih besar untuk meninggal sebelum usia 1 tahun dibandingkan dengan anak anak yang dilahirkan oleh ibu yang telah berusia 20 tahunan. Pernikahan anak berdampak pada hilangnya kesempatan anak mengenyam hak pendidikan, hak kesehatan, berisiko mengalami kekerasan ataupun eksploitasi, meningkatnya kemungkinan untuk mengalami ketergantungan ekonomi karena minimnya pengetahuan, serta rentan mengalami kekerasan dan perlakuan salah. Mengutip dari kisah salah satu warga ditahun 90-an yang kini duduk di sebuah instansi yang melaporkan keaparat keamanan, terkait seorang gadis muda yang selama bertahun tahun sering dilihatnya mengemis dalam kondisi hamil berkali kali namun tidak pernah melihat ia membawa anaknya saat mengemis. Terpantik oleh rasa curiga, ia melaporkan kepada polisi dan sang wanita muda tsb akhirnya dibawa oleh polisi dan dinas sosial untuk dimintai keterangan dan hassilnya sungguh mengejutkan. Ia memulai pernikahan dini diusia 12 tahun tanpa bekal pendidikan sehingga kemudian terjebak sebagai “pabrik bayi”. Ia ternyata dibayar untuk terus hamil berkali kali, dan anaknya kemudian sudah memiliki pangsa pasar. Itulah mengapa ia tidak pernah terlihat menggendong anak yang dilahirkannya. Tidak ada yang pernah tahu, kemanakah bayinya dibawa pergi dan jaringan tsb tidak pernah terungkap. Kisah pahit diatas adalah salah satu contoh kemungkinan buruk yang terjadi bagi anak anak yang terlalu dini memasuki mahligai perkawinan, sehingga saat sudah ada didalamnya tanpa dibekali pengetahuan yang cukup terkait kesehatan, dan hak asasi maka ia rawan menjadi mangsa predator.  Terlebih kondisi psikologis yang masih labil, meningkatkan potensi anak mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan sehingga pernikahan berakhir dan anak bercerai dalam posisi masih sebagai anak, dan bisa jadi menikah berkali kali sebelum usia 18 tahun. Melihat kondisi tersebut, perlu ada beberapa kebijakan yang perlu di sikapi dengan kerjasama lintas lembaga dan kementerian.  Ah .. ini hanya sekedar lintasan pikiran, pasca berdialog dengan beberapa kawan sembari menghabiskan cangkir kopi kedua siang ini. Bukan begitu kawan?

Tulis tanggapan anda: