Sekolah Sebagai “Penjara Modern”

Oleh: Caswiyono Rusydie Cakrawangsa (Wakil Sekjen PP GP Ansor)

Lebih ekstrim dari sekadar menolak fullday school, sesungguhnya saya adalah orang yang tidak percaya dengan pendidikan formal/modern. Sekolah modern hanya menghasilkan para “pekerja” yang menjadi mesin-mesin kapitalis. Dengan berseragam rapi, mereka seakan menjadi “pasukan” yang patuh dan siap dikomando.

Mereka dicetak hanya menjadi orang yang pinter secara intelektual semata, tapi miskin secara emosional dan dangkal secara spiritual. Maka jangan heran jika banyak generasi negeri ini yang rusak secara moral, lemah secara mental, tidak punya kemandirian, tidak memiliki kepekaan sosial, miskin kepedulian lingkungan, apalagi militansi dan dedikasi.

Sekolah juga tak lebih dari “penjara modern” yang mematikan ekspresi dan kreativitas. Dengan berada di ruang kelas, kurikulum yang gak jelas, metode yang tidak memberdayakan, hingga tugas yang menumpuk, membuat peserta didik seperti terjajah dalam sekolah. Kreativitas dibatasi. Ekspresi dikebiri. Apalagi eksplorasi, tak dikenal dalam kamus sekolah.

Mereka justru terpenjara, terasing dari realitas sosial dan budayanya. Tidak ada kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan masyarakat secara intensif. Inilah yg membuat anak didik kerap gagap sosial ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan publik. Demikian juga dengan alam dan lingkungan, hampir tak ada ruang bagi anak didik untuk bersentuhan dan belajar dari alam yang menyimpan sejuta pelajaran hidup.

Kedewasaan emosional, kematangam spiritual, ketahanan hidup, karakter yang kuat, kepekaan sosial, moralitas yang tangguh, kemandirian hidup, kepedulian terhadap lingkungan, militansi dan dedikasi umumnya diperoleh bukan dari bangku sekolah. Hampir dipastikan mereka yang memiliki berbagai keunggulan hidup tersebut adalah anak didik yang sekolah sambil nyantri, aktif di organisasi atau komunitas, atau bergumul langsung dengan masyarakat dan alam.

#TolakFDS #AyoReformasiPendidikan

 

Tulis tanggapan anda: