Serba – Serbi Santri

Hari itu, hari ahad, hari sekolah formal libur. Seperti biasanya, setelah sholat subuh berjamaah di masjid, para santri berkumpul di depan gedung madrasah, berbaris, untuk mengikuti kegiatan olah raga, lari pagi keliling kota. Para santri memakai seragam olah raga yang telah diberikan ketika menjadi santri baru. Dengan tetap pada formasi barisan yang sudah diatur, para santri berlari pagi menikmati sejuknya udara pagi dan sepinya kota di pagi hari. Di belakang pengurus pondok mengawasi, barangkali ada santri yang ketinggalan.

Sesampainya di halaman pondok, para santri berbaris kembali untuk melanjutkan olah raga senam pagi. Olah raga yang murah meriah tapi tetap menyehatkan badan para santri.

Salah satu santri, Kang Dudin, yang biasanya ceria, saat itu  ada yang aneh diwajahnya. Tak ada senyum ataupun ketawa kecil. Kang Dudin, usai berolah raga, langsung menuju biliknya. Dia mengemas bajunya yang kotor untuk dicuci, mumpung hari libur. Tak lama kemudian Kang Dudin menuju sumur mempersiapkan segalanya untuk proses cuci-cuci baju. Dia merendam bajunya di ember yang telah dikasih deterjen. Sambil menunggu proses perendaman, Kang Dudin menuju ke depan madrasah untuk duduk, sambil diam seribu bahasa.

Dari arah selatan, ada sesosok santri senior yang bernama Kang Rapidi. Dikatakan senior karena lebih dahulu mondok dan memang umurnya lebih tua. Di tambah kewibaannya, kepalanya agak botak,ciri orang jenius. Tapi jangan salah sangka, walaupun senior, tapi Kang Rapidi biasa bergaul dengan adik santrinya. Bahkan menjadi tempat curhat adik santrinya.

Melihat Kang Dudin melamun sambil duduk didepan madrasah, Kang Rapidi menghampirinya.

Kang Rapidi :“Din, muka sampeyan kok serem gitu, ga ada senyum-senyumnya. Ada masalah ya… “

Kang Dudin : “Iya, Kang, inyong lagi menghadapi masalah yang rumit, bikin kepala puyeng..”

Kang Rapidi : “Emang masalahnya apa, masih jadi santri saja sudah puyengan, apa lagi nanti, kalau jadi tokoh di masyarakat, coba ceritakan…”

Kang Dudin :” Gini Kang, inyong sekarang kan lagi sekolah di SMA, kelas dua, jurusan fisika. Lah.. inyong merasa gak cocok, inyong pengin pindah sekolah aliyah.”

Kang Rapidi :”Lah.. yang dipuyengkan apa brow.. kan tinggal ngurus pindah sekolah aja. “

Kang Dudin : “Kang, inyong kan dari SMA, jurusan fisika, kira-kira kalau pindah ke aliyah jurusan agama, bolah nggak ya..

Kang Rapidi :”meneketehe, mana ku tahu Din, hehe.. Santai Din. Aku mau tanya, sampeyan kan dulu sekolahnya MTs toh…

Kang Dudin :” he eh Kang, terus maksudnya gimana ?’

Kang Rapidi :”Sampeyan kan udah dapat dasar materi agama di  MTs dan madrasah diniyyah, jadi aku yakin, kalau sampeyan pindah ke aliyah pasti diterima. Selain itu banyak juga guru-guru aliyah yang alumni pondok sini. Jadi itu mempermudah proses perpindahan sampeyan. Dah urus saja pindahan sampeyan.”

Kang Dudin :” siipp Kang, matur nuwun, atas sarannya, sekarang inyong nggak puyeng lagi.”

Kang Rapidi :” Nah, kaya gitu senyum,kan dilihat enak.”

Kang Dudin :” Inyong permisi Kang, melanjutkan mencuci”

Kang Rapidi :” ya sudah sana… selamat berpindah ria sekolah he..he…

Kang Dudin dengan muka ceria bagiakan muka karyawan tanggal muda, berjalan menuju tempat cucian. Kang Dudin beraksi mencuci semua pakaian kotornya, kemudian dikeringkan di tempat penjemuran sebelah selatan pondok, yang sudah mulai penuh pakian santri lain.

Dalam hati, Kang Dudin merasa beruntung punya senior sebaik Kang Rapidi yang bisa dijadikan teman curhat. Inilah serba-serbi santri.

Tulis tanggapan anda: