Sesendok Doa dalam Secangkir Kopi

Kebakhilan adalah, dengan kata lain, eksklusifisme yang menolak dan mencurigai orang lain di luar dirinya. Ia hidup dan makmur hanya buat dirinya sendiri, tak berbagi, anti mengurangi kepemilikan bagi yang di luar garis-garisnya.

Ia pastikan di luar dirinya keliru, bukan aku, dan tak seharusnya ada. Tak boleh ada orang lain memasuki wilayah yang telah dibatasi dengan batas-batasnya yang kaku. Segala pencapaian atau kepemilikannya bukan dari siapa pun, bahkan tidak Tuhan. Batas-batas angkuh itu seringkali bernama agama, iman, ideologi, etinis, golongan, harta-benda, apa pun yang dibentangkan dengan angkuh. Semua diraihnya sendiri dengan kerja keras dan sepenuh daya upaya. Bukan atas jasa atau sebab siapa pun!

Sikap dan perilaku purba ini tak pernah punah. Kebakhilan tampil mengesankan melalui citra dan khotbah, barangkali juga identitas maya yang cenderung palsu. Kebakhilan dirayakan banyak orang. Dikagumi, diselenggarakan dengan pengorbanan yang mengherankan. Muncul caci-maki. Digariskan batasan angkuh di ranah bersama berupa blokir, pemutusan hubungan, pemalsuan diri, ketidak-utuhan informasi dan komunikasi, atau benda-benda (nyata dan maya), lalu ada yang memperjual-belikannya dengan harga fantastis! Segalanya terpenggal dan menipu. Tapi, diimani suci dan pasti.

Barangkali apa yang dicemaskan Milan Kundera memang bukan fiksi. Imagologi bukan fiksi! Rasanya Kundera menegaskannya seraya berusaha sangat waras menahan tawa. Ia tak sedang berlelucon!

Imagologi bukan fiksi. Tetapi, dapat lebih kejam daripada sekadar fiksi. Menjadi iman dan mitos yang dipastikan dalam aksi pada yang publik dan profan. Ia lahir dari kebakhilan yang tidak mau disetarai, tapi gila untuk menguasai. Bagi Kundera, imagologi (sebut saja imej) yang dibangun dengan kekuasaan uang, politik, keyakinan sanggup bertahta di atas realitas, ideologi, bahkan sejarah.

Kebakhilan yang angkuh mencipta imej pada sesuatu bagi dirinya sendiri dan di luar dirinya demi mensahihkan kebakhilan si bakhil. Imej yang bukan realitas terbangun mengatasi realitas. Komunis yang sudah memfosil dianggap ancaman kejam antituhan. Sikap kritis menuntut keadilan di Papua, misalnya dianggap separatis. Agama dikira alternatif bagi negara. Kaum pecinta toleransi justru memasang “harga mati”, membuat orang terbayang kekerasan. Semua ilusi itu diyakini sebagai kebenaran, segalanya hanya bisa diatasi secara militeristik. Jika demi toleransi dan kedamaian, penyelesaian militer, kekerasan, atau kebencian diyakini sebagai jalan keluar, lalu apa bedanya para pecinta damai dan toleransi dengan yang radikal?

Metode dan teori pun terjebak imej. Apa yang disebut kebenaran bagai sekadar “simulasi nekat”, lantas menjungkir-balikkan realitas sebagaimana dicemaskan Jean Baudrillard. Kecemasan dan, barangkali juga, keriangan yang aneh postmodernisme, sebuah wilayah pascaideologi. Tetapi, kebakhilan menjadi energi penghancur penuh syak wasangka mengerikan terhadap segala yang “bukan aku atau kami”.

Kebakhilan tak pernah punya harapan. Ia hanya memiliki kehendak yang tiada habisnya. Ia belaka hidup secara eksklusif, tak pernah mudah dipecahkan oleh penderitaan dan keruntuhan. Ia hancur sia-sia, atau menghancurkan pun dengan kesia-siaan. Kehendak, yang kemudian diimani, sebagai harapan. Tetapi, bukan harapan yang sesungguhnya. Ia tertipu (atau menipu dirinya) dengan ‘kehendak harus’ tanpa batas.

Dan doa adalah harapan. Harapan hanya bernama harapan ketika ia sadar tak mungkin sendirian. Ia ada lantaran yang lain pun niscaya ada. Doa-doa orang bakhil tak pernah bernama harapan, ia cuma rangkaian kata atau ungkapan yang hanya untuk diri sendiri, buat wilayah dalam kawasannya sendiri. Sebab, apa pun benda, apakah harta, konsepsi, agama, yang abstrak pun yang konkret, yang membentuk sikap bakhil hanyalah “kalung kebanggaan” tak membebaskan, menjelma derita dan penindasan sepanjang sejarah hingga dibangkitkan (QS.3:180).

Sebelum minum kopi, seorang kawan berdoa untuk para buruh kopi yang telah membuat secangkir kopi dapat terhidang. Ia menyadari, ada orang lain yang terlibat langsung atau tak terhadap apa yang dinikmati dengan mudah atau diperoleh dari sebuah upaya yang sukar. Ia teringat doa rasul agung, bahwa “rejeki langit” ialah buat mereka yang berada dalam kebersamaan, rasa senasib, dan bersaudara dalam upaya yang saling membebaskan, bukan bagi yang hanya hidup buat dirinya sendiri, golongan atau wilayah-wilayah yang digarisnya sendiri dengan bakhil dan angkuh (QS.5:114). Atas “rejeki langit” yang melimpah bagi kebersamaan, ia berdoa dan memohon ampun bagi semua yang terjerembab dalam derita kelemahan manusia, dengan ikatan kasih-sayang, pada Tuhan yang mahaperkasa-mahabijaksana (QS.5:118).

Atas kesadaran terhadap ketakberdayaan dan kelemahan manusiawi, doa dan harapan ada lantaran orang tak sendirian. Dengan demikian, bukankah tak ada salahnya kita bubuhkan sesendok doa dalam secangkir kopi siang ini?

Tembokrejo, 2017

Penulis: Taufiq Wr. Hidayat

[sumber: https://www.facebook.com/TaufiqWr.Hidayat/posts/1643307779013877]

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: